rasanya ini bukan untuk pertama kalinya lagi aku
mendengar kasus anak yang tidak berhasil mencetak prestasi yang memuaskan,
walaupun pada kenyataannya mereka memiliki kapasitas kecerdasan yang tinggi,
baik secara hasil IQ atau prestasi yang telah berhasil mereka cetak dalam
perjalanan pendidikan. Tapi tiba-tiba saja setelah mereka menaiki jenjang
berikutnya, kecerdasannya seperti tidak teraktualisasikan. Lalu dimana letak
kesalahannya?
Seperti
yang telah aku pelajari di psikologi mengenai kecerdasan, ternyata definisi kecerdasan sesungguhnya begitu luas dari yang
hanya diartikan dalam kehidupan sehari-hari. Cerdas yang dimaksud dalam kehidupan
sehari-hari kadang hanya dikaitkan dengan prestasi yang dicetak di sekolah atau
di kampus. Nampaknya belum banyak orang yang paham mengenai apa itu kecerdasan.
Dikaitkan
dengan kasus diatas, maka data yang harus diperoleh adalah bagaimana peran
orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya dalam perjalanan pendidikan yang
ditempuh. Kebanyakan dalam kasus-kasus seperti itu adalah karena orang tua salah mengartikan kecerdasan dan apa yang
dijadikan sebagai tolak ukurnya. Aku perhatikan bahwa biasanya orang tua
mengaitkan kecerdasan dan kesuksesan dengan yang berbau eksak. Itu sebabnya
kadang IPA menjadi sesuatu yang harus dapat ditempuh anak-anak. hal ini memang
tidak luput dari labeling masyarakat
dan lingkungan pendidikan yang tidak berhasil meluruskan bahwa IPA dan IPS itu
bukan untuk membedakan kecerdasan dan prestasi tapi untuk membedakan bidang apa
yang ingin difokuskan. Memang tidak semua sekolah dan lingkungan pendidikan
yang beranggapan bahwa IPS itu adalah kelas buangan untuk anak-anak yang naik
kelas bersyarat dan tidak berprestasi. Tapi tentu tidak sedikit tentu yang masih
memiliki paradigma seperti ini. Aku adalah yang termasuk menjadi korban labeling ini. Bersekolah di sekolah
swasta pinggiran kota Jakarta dan mengambil IPS tidak ada yang menjadi masalah,
namun ketika aku harus berpindah dipertengahan kelas 2 ke kota Bandung di
sekolah negeri dan tetap di jalur IPS, aku jadi memiliki posisi yang tidak
sengaja jadi dibedakan di masyarakat. Kadang labeling ini pada taraf tertentu menjadi teinternalisasi begitu
dalam terhadap seseorang. Ya, aku jadi merasa inferior ketika harus masuk
jurusan psikologi di jenjang pendidikan universitas.
Mungkin
yang perlu diingat bahwa, kecerdasan (jika mengacu pada teori Rudolf Amthauer) pada
dasarnya memiliki corak tersendiri. Apakah itu fleksibel-non-eksak dan apakah
itu eksak-mantap, sehingga hal ini nantinya yang akan menentukan apakah
seseorang cocok dibidang sosial atau sains.
Hal
lain yang perlu dibahas adalah bahwa orang tua mungkin kurang tepat menggunakan
tolak ukurnya. Bagi orang tua yang dulunya sangat berprestasi mungkin jadi
sangat menuntut anak untuk bisa seperti dirinya baik di bidang yang sama, atau
di bidang yang lebih darinya. Bagi orang tua yang merasa ‘gagal’, maka mereka
akan menuntut ke anak untuk dapat memenuhi obsesinya di masa lalu. Hal ini
sering terjadi tanpa mempertimbangkan kapasitas serta kekurangan dan kelebihan
anak dalam kecerdasannya. Jadi menjadi sangat wajar, ketika kecerdasan yang
dimiliki anak tidak diperhatikan dan dipertimbangkan sebagai kelanjutan ke
jenjang pendidikan yang selanjutnya, menjadi tidak teraktualisasikan dengan
optimal. Maka pada hakikatnya tugas orang tua adalah untuk mengetahui potensi kecerdasan
baik kekurangan dan kelebihannya untuk selanjutnya dikembangkan.
dari aku, duniaku,
dan penghayatanku
bandung,
22012012
irsa
ikramina
No comments:
Post a Comment