aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, January 22, 2012

aku dan kecerdasan


            rasanya ini bukan untuk pertama kalinya lagi aku mendengar kasus anak yang tidak berhasil mencetak prestasi yang memuaskan, walaupun pada kenyataannya mereka memiliki kapasitas kecerdasan yang tinggi, baik secara hasil IQ atau prestasi yang telah berhasil mereka cetak dalam perjalanan pendidikan. Tapi tiba-tiba saja setelah mereka menaiki jenjang berikutnya, kecerdasannya seperti tidak teraktualisasikan. Lalu dimana letak kesalahannya?
            Seperti yang telah aku pelajari di psikologi mengenai kecerdasan, ternyata definisi  kecerdasan sesungguhnya begitu luas dari yang hanya diartikan dalam kehidupan sehari-hari. Cerdas yang dimaksud dalam kehidupan sehari-hari kadang hanya dikaitkan dengan prestasi yang dicetak di sekolah atau di kampus. Nampaknya belum banyak orang yang paham mengenai apa itu kecerdasan.
            Dikaitkan dengan kasus diatas, maka data yang harus diperoleh adalah bagaimana peran orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya dalam perjalanan pendidikan yang ditempuh. Kebanyakan dalam kasus-kasus seperti itu adalah karena orang tua salah mengartikan kecerdasan dan apa yang dijadikan sebagai tolak ukurnya. Aku perhatikan bahwa biasanya orang tua mengaitkan kecerdasan dan kesuksesan dengan yang berbau eksak. Itu sebabnya kadang IPA menjadi sesuatu yang harus dapat ditempuh anak-anak. hal ini memang tidak luput dari labeling masyarakat dan lingkungan pendidikan yang tidak berhasil meluruskan bahwa IPA dan IPS itu bukan untuk membedakan kecerdasan dan prestasi tapi untuk membedakan bidang apa yang ingin difokuskan. Memang tidak semua sekolah dan lingkungan pendidikan yang beranggapan bahwa IPS itu adalah kelas buangan untuk anak-anak yang naik kelas bersyarat dan tidak berprestasi. Tapi tentu tidak sedikit tentu yang masih memiliki paradigma seperti ini. Aku adalah yang termasuk menjadi korban labeling ini. Bersekolah di sekolah swasta pinggiran kota Jakarta dan mengambil IPS tidak ada yang menjadi masalah, namun ketika aku harus berpindah dipertengahan kelas 2 ke kota Bandung di sekolah negeri dan tetap di jalur IPS, aku jadi memiliki posisi yang tidak sengaja jadi dibedakan di masyarakat. Kadang labeling ini pada taraf tertentu menjadi teinternalisasi begitu dalam terhadap seseorang. Ya, aku jadi merasa inferior ketika harus masuk jurusan psikologi di jenjang pendidikan universitas.
            Mungkin yang perlu diingat bahwa, kecerdasan (jika mengacu pada teori Rudolf Amthauer) pada dasarnya memiliki corak tersendiri. Apakah itu fleksibel-non-eksak dan apakah itu eksak-mantap, sehingga hal ini nantinya yang akan menentukan apakah seseorang cocok dibidang sosial atau sains.
            Hal lain yang perlu dibahas adalah bahwa orang tua mungkin kurang tepat menggunakan tolak ukurnya. Bagi orang tua yang dulunya sangat berprestasi mungkin jadi sangat menuntut anak untuk bisa seperti dirinya baik di bidang yang sama, atau di bidang yang lebih darinya. Bagi orang tua yang merasa ‘gagal’, maka mereka akan menuntut ke anak untuk dapat memenuhi obsesinya di masa lalu. Hal ini sering terjadi tanpa mempertimbangkan kapasitas serta kekurangan dan kelebihan anak dalam kecerdasannya. Jadi menjadi sangat wajar, ketika kecerdasan yang dimiliki anak tidak diperhatikan dan dipertimbangkan sebagai kelanjutan ke jenjang pendidikan yang selanjutnya, menjadi tidak teraktualisasikan dengan optimal. Maka pada hakikatnya tugas orang tua adalah untuk mengetahui potensi kecerdasan baik kekurangan dan kelebihannya untuk selanjutnya dikembangkan.
dari aku, duniaku, dan penghayatanku
bandung, 22012012
irsa ikramina

No comments:

Post a Comment