aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Monday, January 9, 2012

aku dan kerapuhan


Kemarin sore, aku terbangun dari tidur dengan helaan nafas berat, mataku berkaca-kaca, hingga tanpa aku sadari setetes air mata mengalir di wajahku. Nampaknya ego sedang merasa kelelahan, sehingga kekuatan reality testing-nya sudah tidak lagi mampu menopang realitas yang harus ia hadapi, yang ada hanyalah pengalaman yang entah aku repress atau supress sehingga bersemayam di dalam ketidaksadaran yang paling dasar. Mungkin pengalaman ini terlalu menyakitkan untuk dimunculkan ke kesadaran sehingga aku bermimpi hal yang sebenarnya berusaha untuk ku “lupakan” selama ini.
Aku menyadari, mungkin ini adalah titik kerapuhanku. Terkadang mudah saja bagi kognisi dan rasio untuk merapikan persoalan-persoalan hidup yang ada. Tapi ternyata ada realitas-realitas tertentu yang menembus masuk menyentuh aspek emosi. Ketika ini terjadi, kognisi dan emosi menjadi berjalan masing-masing. Rasio tetap dengan keyakinan pikiran rasionalnya dalam menghadapi realitas, namun emosi ternyata sedang berusaha dikontrol karena 'warna-warna akromatik' yang sedang membuncah, sehingga dihayati sebagai ketidaknyamanan emosional. belum lagi kontrol harus bekerja keras untuk movements dan impuls yang harus dikendalikan
Aku yakin setiap orang memiliki titik kerapuhannya masing-masing, entah pada realitas yang seperti apa yang dihayati sebagai sesuatu yang menyakitkan. Berasal dari pengalaman kah, luka psikis kah, ataupun traumatik. Tentu saja hal ini menjadi subjektif dalam penghayatannya, entah mengenai derajat kepedihan yang dirasakan atau realitas apa yang dihayati menyakitkan. Bisa jadi realitas ini dipandang oleh rasio sebagai hal yang harusnya bisa dilewati dengan sederhana, namun ketika aspek emosi terlibat begitu dalam. Hal ini bukan menjadi sederhana lagi untuk dilalui.
Entah aku bisa melalui ketidaknyamanan emosional ini hingga  berapa lama, 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun? Sanggupkah ego bertahan dalam meredakan konflik dalam dunia internal dan menghadapi realitas? Apakah akan ada warna-warna akromatik yang selama ini terpendam mencetak additional karena kontrol sudah tidak mampu menopangnya? apa akan ada 'm' sebagai representasi dari repressive need yang menimbulkan ketegangan dan konflik? Pada akhirnya aku membutuhkan kesabaran untuk mampu bertahan, aku butuh keikhlasan untuk meredakan konflik dan tegangan, dan aku butuh tawakal untuk memperkuat ego.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 09.01.2012
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment