Kemarin sore, aku
terbangun dari tidur dengan helaan nafas berat, mataku berkaca-kaca, hingga
tanpa aku sadari setetes air mata mengalir di wajahku. Nampaknya ego sedang
merasa kelelahan, sehingga kekuatan reality
testing-nya sudah tidak lagi mampu menopang realitas yang harus ia hadapi,
yang ada hanyalah pengalaman yang entah aku repress
atau supress sehingga bersemayam
di dalam ketidaksadaran yang paling dasar. Mungkin pengalaman ini terlalu
menyakitkan untuk dimunculkan ke kesadaran sehingga aku bermimpi hal yang
sebenarnya berusaha untuk ku “lupakan” selama ini.
Aku menyadari, mungkin
ini adalah titik kerapuhanku. Terkadang mudah saja bagi kognisi dan rasio untuk
merapikan persoalan-persoalan hidup yang ada. Tapi ternyata ada realitas-realitas
tertentu yang menembus masuk menyentuh aspek emosi. Ketika ini terjadi, kognisi
dan emosi menjadi berjalan masing-masing. Rasio tetap dengan keyakinan pikiran
rasionalnya dalam menghadapi realitas, namun emosi ternyata sedang berusaha dikontrol karena 'warna-warna akromatik' yang sedang membuncah, sehingga dihayati sebagai ketidaknyamanan
emosional. belum lagi kontrol harus bekerja keras untuk movements dan impuls yang harus dikendalikan
Aku yakin setiap
orang memiliki titik kerapuhannya masing-masing, entah pada realitas yang seperti
apa yang dihayati sebagai sesuatu yang menyakitkan. Berasal dari pengalaman
kah, luka psikis kah, ataupun traumatik. Tentu saja hal ini menjadi subjektif
dalam penghayatannya, entah mengenai derajat kepedihan yang dirasakan atau
realitas apa yang dihayati menyakitkan. Bisa jadi realitas ini dipandang oleh rasio
sebagai hal yang harusnya bisa dilewati dengan sederhana, namun ketika aspek
emosi terlibat begitu dalam. Hal ini bukan menjadi sederhana lagi untuk
dilalui.
Entah aku bisa
melalui ketidaknyamanan emosional ini hingga berapa lama, 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun? Sanggupkah
ego bertahan dalam meredakan konflik dalam dunia internal dan menghadapi
realitas? Apakah akan ada warna-warna akromatik yang selama ini terpendam mencetak additional karena kontrol sudah tidak mampu menopangnya? apa akan ada 'm' sebagai representasi dari repressive need yang menimbulkan ketegangan dan konflik? Pada akhirnya
aku membutuhkan kesabaran untuk mampu bertahan, aku butuh keikhlasan untuk
meredakan konflik dan tegangan, dan aku butuh tawakal untuk memperkuat ego.
Dari
aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung,
09.01.2012
Irsa
Ikramina
No comments:
Post a Comment