dalam psikologi, istilah significant person ini menjadi sering disebut-sebut. Apalagi ketika
membahas anamnesa dan dinamika kepribadian
seseorang. Significant person itu
sendiri adalah orang yang penting dan berpengaruh dalam kehidupan sehingga
mempengaruhi pembentukan kepribadian (self). Pada umumnya, significant person itu adalah orang tua, karena orang tua adalah
yang dianggap paling dekat, berpengaruh, sumber afeksi dan figure attachment di masa kecil. Tapi apakah selalu orang tua? Tidak
juga. Banyak anak-anak yang orang tuanya bekerja lalu kesehariannya ditemani
oleh pengasuh anak. maka tidak menutup kemungkinan pengasuh tersebut adalah significant person bagi anak. hal ini
juga akan terjadi bagi anak-anak yang tidak tinggal bersama orang tuanya, entah
itu tinggal bersama anggota keluarga lain, yatim piatu, atau memang hidup
dijalanan. Tentu significant person mereka
dimungkinkan adalah bukan orang tua.
Bagiku,
significant person tidaklah cukup. Tapi
harus menjadi significant people. Rasa
keingintahuan dan kebutuhan kognisi (yang terkadang menyatu dengan afeksi) untuk
dipenuhi kadang tidaklah cukup dari keluarga saja, sehingga aku mencari keluar.
Dalam pencarian inilah ternyata aku menemukan banyak orang-orang yang
berpengaruh dalam pembentukan kepribadian dan kehidupanku. Beruntung saja aku tidak salah dalam mencari
orang. Semasa SMA kehidupanku yang dipenuhi dengan les, ternyata mempertemukan aku
dengan significant people. Ya, mereka
adalah para pengajar. Bagiku, pengajar dapat memenuhi kebutuhan afeksi dan
kognisi secara bersamaan. Selama aku belajar menegenai pelajaran sekolah mereka
dapat memenuhi kebutuhan kognisi dan ketika aku bertanya tentang kehidupan,
bagaimana menyikapinya dan bagaimana problem
solving nya disinilah kebutuhan afeksi dan kognisi secara bersamaan dapat
terpenuhi. Karena didalamnya terdapat unsur memahami, peduli, dan kehangatan. Tapi
tentunya pengajar yang aku maksudkan disini tidak semua pengajar yang pernah
mengajar aku. Tempat les yang berbasis kekeluargaan dan menjadikan atmosfer tempat les tersebut sebagai rumah
kedua bagi anak-anak murid, memudahkan aku untuk menemukan dan mengenal pengajar
yang aku maksud. Karena memang tercipta susana yang tidak ada batasan antara
murid dan pengajar. Biasanya para pengajar yang menganut paham humanistik (memandang
murid memiliki potensi dan dapat mengembangkannya) dalam mendidik, cerdas tidak
hanya secara intelektual dimana semua pertanyaanku dapat dijawab, tapi juga cerdas
secara emosi dan spritual. Karena darimana lagi rasa empati dan pemaknaan hidup
yang mereka ajarkan kalau bukan dari kecerdasan emosi dan spiritual?
Yah,
mereka-mereka ini yang tanpa disadari sudah sangat berpengaruh dalam hidup,
tentunya selain dari orang tua. Kadang kita tidak pernah menyadari bahwa
eksistensi seseorang dapat begitu mempengaruhi bagi orang lain, entah itu baik
atau buruk. Tapi tentu sudah menjadi fitrah manusia untuk membawa pengaruh baik
pada kehidupan orang lain, membawa manfaat dan keberkahan bagi kehidupan sesama
manusia. Inilah salah satu hakikat dari menjadi khalifah Allah di bumi. Menebar
sifat-sifat illahiyyah yang terpancar dalam setiap perilaku.
Maka
dari itu, sehubungan dari kisahku dengan significant
people tidaklah heran bahwa yang menjadi modelling bagiku adalah juga dari kalangan pengajar... (dilanjutkan
bagian 2 “aku dan modelling”)
Dari aku,
duniaku,dan penghayatanku
Bandung 02.01.2012
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment