aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Monday, January 2, 2012

aku dan significant person (bagian 1)


           dalam psikologi, istilah significant person ini menjadi sering disebut-sebut. Apalagi ketika membahas anamnesa dan dinamika kepribadian  seseorang. Significant person itu sendiri adalah orang yang penting dan berpengaruh dalam kehidupan sehingga mempengaruhi pembentukan kepribadian (self). Pada umumnya, significant person itu adalah orang tua, karena orang tua adalah yang dianggap paling dekat, berpengaruh, sumber afeksi dan figure attachment di masa kecil. Tapi apakah selalu orang tua? Tidak juga. Banyak anak-anak yang orang tuanya bekerja lalu kesehariannya ditemani oleh pengasuh anak. maka tidak menutup kemungkinan pengasuh tersebut adalah significant person bagi anak. hal ini juga akan terjadi bagi anak-anak yang tidak tinggal bersama orang tuanya, entah itu tinggal bersama anggota keluarga lain, yatim piatu, atau memang hidup dijalanan. Tentu significant person mereka dimungkinkan adalah bukan orang tua.
            Bagiku, significant person tidaklah cukup. Tapi harus menjadi significant people. Rasa keingintahuan dan kebutuhan kognisi (yang terkadang menyatu dengan afeksi) untuk dipenuhi kadang tidaklah cukup dari keluarga saja, sehingga aku mencari keluar. Dalam pencarian inilah ternyata aku menemukan banyak orang-orang yang berpengaruh dalam pembentukan kepribadian dan kehidupanku.  Beruntung saja aku tidak salah dalam mencari orang. Semasa SMA kehidupanku yang dipenuhi dengan les, ternyata mempertemukan aku dengan significant people. Ya, mereka adalah para pengajar. Bagiku, pengajar dapat memenuhi kebutuhan afeksi dan kognisi secara bersamaan. Selama aku belajar menegenai pelajaran sekolah mereka dapat memenuhi kebutuhan kognisi dan ketika aku bertanya tentang kehidupan, bagaimana menyikapinya dan bagaimana problem solving nya disinilah kebutuhan afeksi dan kognisi secara bersamaan dapat terpenuhi. Karena didalamnya terdapat unsur memahami, peduli, dan kehangatan. Tapi tentunya pengajar yang aku maksudkan disini tidak semua pengajar yang pernah mengajar aku. Tempat les yang berbasis kekeluargaan dan menjadikan atmosfer tempat les tersebut sebagai rumah kedua bagi anak-anak murid, memudahkan aku untuk menemukan dan mengenal pengajar yang aku maksud. Karena memang tercipta susana yang tidak ada batasan antara murid dan pengajar. Biasanya para pengajar yang menganut paham humanistik (memandang murid memiliki potensi dan dapat mengembangkannya) dalam mendidik, cerdas tidak hanya secara intelektual dimana semua pertanyaanku dapat dijawab, tapi juga cerdas secara emosi dan spritual. Karena darimana lagi rasa empati dan pemaknaan hidup yang mereka ajarkan kalau bukan dari kecerdasan emosi dan spiritual?
            Yah, mereka-mereka ini yang tanpa disadari sudah sangat berpengaruh dalam hidup, tentunya selain dari orang tua. Kadang kita tidak pernah menyadari bahwa eksistensi seseorang dapat begitu mempengaruhi bagi orang lain, entah itu baik atau buruk. Tapi tentu sudah menjadi fitrah manusia untuk membawa pengaruh baik pada kehidupan orang lain, membawa manfaat dan keberkahan bagi kehidupan sesama manusia. Inilah salah satu hakikat dari menjadi khalifah Allah di bumi. Menebar sifat-sifat illahiyyah yang terpancar dalam setiap perilaku.
            Maka dari itu, sehubungan dari kisahku dengan significant people tidaklah heran bahwa yang menjadi modelling bagiku adalah juga dari kalangan pengajar... (dilanjutkan bagian 2 “aku dan modelling”)
Dari aku, duniaku,dan penghayatanku
Bandung 02.01.2012
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment