Aku pikir memasuki
dunia perkuliahan dan usia berkepala dua sudah tidak akan ada penyelesaian
masalah yang kekanak-kanakan. Tapi kenyataannya tidak begitu, mungkin ini yang
dikatakan bahwa kedewasaan tidak melihat usia. Meskipun definisi dari
kedewasaan itu sendiri dapat dinilai subjektif bagi setiap orang.
Ini bukan yang
pertama kalinya lagi aku harus mendengar selentingan pembicaraan tentang aku
yang tidak mengenakan ‘dibelakang’. Tragisnya, orang yang melakukan hal ini
ternyata tidak berubah. Artinya memang perilaku menetap ini, yang membuat aku
jadi dapat membedakan mana orang-orang yang aku anggap ‘tidak bermasalah’ dan
yang ‘bermasalah’. Tanpa bermaksud mendiskriminasikan gender, tapi mirisnya
pelaku ini adalah pria. Bukankah yang
aku tau kegiatan mempergunjingkan, merendahkan, dan menyindir orang lain itu
adalah pekerjaan wanita?
Teman-teman
terdekat sering kali mengingatkan aku untuk jangan mau direndahkan dan
diinjak-injak. Memang kesannya aku diam saja yang seperti jadi tertindas. Sebetulnya
bukan karena alasan superego yang terlalu kuat. Hanya saja, aku tidak mau
mengurusi orang yang sebetulnya bermasalah dengan dirinya sendiri. Ya, dalam
istilah Adler ini disebut inferiority
complex. Kata Adler, manusia itu selalu ingin mengejar superior dan
melakukan kompensasi atas apa yang dihayati sebagai rasa inferior-nya. Tapi kadang
malah menjadi overkompensasi, ya seperti contoh yang satu ini. Mereka harus
merendahkan orang lain untuk meninggikan dirinya. Jadi, tentu saja letak
masalahnya bukan pada diriku kan? J
Kadang, memang
seperti inilah kehidupan. Ketika kita berada di posisi yang cukup tinggi. Mungkin
kita cukup rendah hati dalam menyikapinya. Tapi ternyata malah orang lain yang
di sekitar yang tidak cukup berlapang dada dengan kekalah-kealahannya. Disnilah
letak ujiannya bagi kedua belah pihak. Kalaupun aku harus berada di posisi
sekarang ini, tentu aku tidak pernah menduga sebelumnya. bagiku, sudah banyak
campur tangan Tuhan untuk memberikan kemudahan dan memberikan kemuliaan dalam
perjalanan kehidupan ini. Ini sudah menjadi hak prerogatif Tuhan untuk memberikan
kemuliaan pada siapapun yang Ia kehendaki.
Katakanlah
(Muhammad), “Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada
siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang
Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh,
Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”.
(QS.3 : 26)
Dimanapun posisi
kita dalam kehidupan, kita membawa amanah dan ujiannya masing-masning. Posisi tinggi
atau rendah itu hanya tergantung penghayatan subjektif dari seseorang. Tapi yang
paling penting adalah bagaimana kita menjadi mulia di mata Tuhan, bukan sibuk
mencari kemuliaan di mata manusia. Melalui amanah yang dipikul dan ujian yang
dihadapi. Ini lah tugas kita yang sesungguhnya dalam kehidupan. Tuhan yang
paling tahu dimana posisi yang terbaik untuk kita. Jadi kenapa mesti repot mengurusi
posisi orang lain? Toh, Tuhan sangat jelas sekali dalam janjinya, “Allah tidak
akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadan diri mereka
sendiri” (QS.13: 11)
Jadi kalau aku harus
berlaku seperti mereka, maka apa bedanya aku dengan mereka?
Dari
aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung,
28122011
Irsa
Ikramina
No comments:
Post a Comment