aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Wednesday, December 28, 2011

aku dan si inferior


Aku pikir memasuki dunia perkuliahan dan usia berkepala dua sudah tidak akan ada penyelesaian masalah yang kekanak-kanakan. Tapi kenyataannya tidak begitu, mungkin ini yang dikatakan bahwa kedewasaan tidak melihat usia. Meskipun definisi dari kedewasaan itu sendiri dapat dinilai subjektif bagi setiap orang.
Ini bukan yang pertama kalinya lagi aku harus mendengar selentingan pembicaraan tentang aku yang tidak mengenakan ‘dibelakang’. Tragisnya, orang yang melakukan hal ini ternyata tidak berubah. Artinya memang perilaku menetap ini, yang membuat aku jadi dapat membedakan mana orang-orang yang aku anggap ‘tidak bermasalah’ dan yang ‘bermasalah’. Tanpa bermaksud mendiskriminasikan gender, tapi mirisnya pelaku ini adalah pria. Bukankah yang aku tau kegiatan mempergunjingkan, merendahkan, dan menyindir orang lain itu adalah pekerjaan wanita?
Teman-teman terdekat sering kali mengingatkan aku untuk jangan mau direndahkan dan diinjak-injak. Memang kesannya aku diam saja yang seperti jadi tertindas. Sebetulnya bukan karena alasan superego yang terlalu kuat. Hanya saja, aku tidak mau mengurusi orang yang sebetulnya bermasalah dengan dirinya sendiri. Ya, dalam istilah Adler ini disebut inferiority complex. Kata Adler, manusia itu selalu ingin mengejar superior dan melakukan kompensasi atas apa yang dihayati sebagai rasa inferior-nya. Tapi kadang malah menjadi overkompensasi, ya seperti contoh yang satu ini. Mereka harus merendahkan orang lain untuk meninggikan dirinya. Jadi, tentu saja letak masalahnya bukan pada diriku kan? J
Kadang, memang seperti inilah kehidupan. Ketika kita berada di posisi yang cukup tinggi. Mungkin kita cukup rendah hati dalam menyikapinya. Tapi ternyata malah orang lain yang di sekitar yang tidak cukup berlapang dada dengan kekalah-kealahannya. Disnilah letak ujiannya bagi kedua belah pihak. Kalaupun aku harus berada di posisi sekarang ini, tentu aku tidak pernah menduga sebelumnya. bagiku, sudah banyak campur tangan Tuhan untuk memberikan kemudahan dan memberikan kemuliaan dalam perjalanan kehidupan ini. Ini sudah menjadi hak prerogatif Tuhan untuk memberikan kemuliaan pada siapapun yang Ia kehendaki.
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”.
(QS.3 : 26)
Dimanapun posisi kita dalam kehidupan, kita membawa amanah dan ujiannya masing-masning. Posisi tinggi atau rendah itu hanya tergantung penghayatan subjektif dari seseorang. Tapi yang paling penting adalah bagaimana kita menjadi mulia di mata Tuhan, bukan sibuk mencari kemuliaan di mata manusia. Melalui amanah yang dipikul dan ujian yang dihadapi. Ini lah tugas kita yang sesungguhnya dalam kehidupan. Tuhan yang paling tahu dimana posisi yang terbaik untuk kita. Jadi kenapa mesti repot mengurusi posisi orang lain? Toh, Tuhan sangat jelas sekali dalam janjinya, “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadan diri mereka sendiri” (QS.13: 11)
Jadi kalau aku harus berlaku seperti mereka, maka apa bedanya aku dengan mereka?
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 28122011
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment