aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Thursday, December 29, 2011

Aku, empati, dan disalahpahami


           Kemarin siang, pada saat mata kuliah dinamika kepribadian. Teman yang mendapat giliran presentasi menjelaskan anamnesa dari seseorang yang begitu rumit mengenai latar belakang keluarganya. Kedua orang tua Subjek berpisah sejak S masih duduk di bangku kelas 2 SD. Kedua orang tuanya pun masing-masing menikah lagi dan menghasilkan saudara tiri bagi S. Ibu kandung S meninggal saat melahirkan saudara tiri S, sehingga S tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya. Menurut data anamnesa dari teman yang presentasi. Ketika SMA, S mencari jati dirinya, karena S merasa berbeda dengan yang lain...
            Dosen menegaskan bahwa seharusnya ditanyakan lagi mengenai jati diri yang seperti apa? Bukankah memang itu merupakan tugas perkembangan remaja. Apa penghayatannya sehingga ia harus merasa berbeda? Teman-teman ku yang presentasi di depan terdiam, karena memang itu berarti data yang mereka gali belum mendalam. Kelaspun hening sejenak. Aku berkata pada diriku sendiri..
“aku bisa, aku bisa menjawabnya atas nama siubjek! S merasa berbeda karena life event non-normatif yang telah ia lalui. Tapi bukan merasa berbeda karena kepribadiannya. Life event membuat seseorang mendalami penghayatan-penghayatan dalam hiudpnya. Maka apabila life event itu non-normatif, dimana tidak semua orang yang mengalami. Maka itu akan membuat penghayatan seseorang mengenai dirinya, kehidupannya, dan cara pandang dalam melihat kehidupan akan berbeda”
            Seandainya saja, aku mengenal S. Akan aku katakan bahwa aku sangat memahami apa yang ia hayati karena hal-hal yang seperti ini begitu sensitif untuk menjadi merasa disalahpahami. Aku betul-betul tidak mengerti dengan empati yang dituntut. Artinya, kehidupan di psikologi menuntut kita untuk memiliki empati yang tinggi pada orang lain. Lalu apa ini benar-benar efektif? Aneh. Yah, mungkin empati itu sendiri memiliki taraf. Ada suatu lapisan empati yang tidak dapat ditembus oleh orang-orang yang tidak mengalaminya. Tidak harus orang psikologi, orang akan dapat benar-benar merasakan apa yang dirasakan orang lain dan berada di sudut pandang orang tersebut jika memang ia juga pernah mengalami hal tersebut. Bagiku, ini adalah empati yang paling dalam.
            Aku bisa memahami S, karena aku juga melalui life event non-normatif, aku juga merasa berbeda karena aku juga disalahpahami, aku juga mencari jati diri seperti yang S maksud karena aku juga mengalami. Aku terkadang bisa sangat memahami orang lain, bukan karena teori-teori psikologi, bukan karena cara kerja dengan konsep teori ku begitu tinggi di PAPI, tapi karena aku juga mengalami apa yang mereka alami..
            Mungkin aku memang bukan Carl Rogers yang begitu menempatkan klien setara dengan konselor, mengedepankan empati, non-directive, unconditional positive regard. Aku hanya irsa, yang akan selalu berusaha untuk memahami orang-orang yang disalahpahami, orang-orang yang merasa berbeda, dan orang-orang yang mengalami live event non-normatif..  
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 30122011
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment