Kemarin siang, pada saat mata kuliah dinamika
kepribadian. Teman yang mendapat giliran presentasi menjelaskan anamnesa dari
seseorang yang begitu rumit mengenai latar belakang keluarganya. Kedua orang
tua Subjek berpisah sejak S masih duduk di bangku kelas 2 SD. Kedua orang
tuanya pun masing-masing menikah lagi dan menghasilkan saudara tiri bagi S. Ibu
kandung S meninggal saat melahirkan saudara tiri S, sehingga S tinggal bersama ayah
kandung dan ibu tirinya. Menurut data anamnesa dari teman yang presentasi. Ketika SMA, S mencari jati dirinya, karena
S merasa berbeda dengan yang lain...
Dosen
menegaskan bahwa seharusnya ditanyakan lagi mengenai jati diri yang seperti
apa? Bukankah memang itu merupakan tugas perkembangan remaja. Apa penghayatannya
sehingga ia harus merasa berbeda? Teman-teman ku yang presentasi di depan
terdiam, karena memang itu berarti data yang mereka gali belum mendalam. Kelaspun
hening sejenak. Aku berkata pada diriku sendiri..
“aku
bisa, aku bisa menjawabnya atas nama siubjek! S merasa berbeda karena life
event non-normatif yang telah ia lalui. Tapi bukan merasa berbeda karena kepribadiannya.
Life event membuat seseorang mendalami penghayatan-penghayatan dalam hiudpnya. Maka
apabila life event itu non-normatif, dimana tidak semua orang yang mengalami. Maka
itu akan membuat penghayatan seseorang mengenai dirinya, kehidupannya, dan cara
pandang dalam melihat kehidupan akan berbeda”
Seandainya
saja, aku mengenal S. Akan aku katakan bahwa aku sangat memahami apa yang ia
hayati karena hal-hal yang seperti ini begitu sensitif untuk menjadi merasa
disalahpahami. Aku betul-betul tidak mengerti dengan empati yang dituntut. Artinya,
kehidupan di psikologi menuntut kita untuk memiliki empati yang tinggi pada
orang lain. Lalu apa ini benar-benar efektif? Aneh. Yah, mungkin empati itu
sendiri memiliki taraf. Ada suatu lapisan empati yang tidak dapat ditembus oleh
orang-orang yang tidak mengalaminya. Tidak harus orang psikologi, orang akan
dapat benar-benar merasakan apa yang dirasakan orang lain dan berada di sudut
pandang orang tersebut jika memang ia juga pernah mengalami hal tersebut. Bagiku,
ini adalah empati yang paling dalam.
Aku
bisa memahami S, karena aku juga melalui life event non-normatif, aku juga
merasa berbeda karena aku juga disalahpahami, aku juga mencari jati diri
seperti yang S maksud karena aku juga mengalami. Aku terkadang bisa sangat
memahami orang lain, bukan karena teori-teori psikologi, bukan karena cara
kerja dengan konsep teori ku begitu tinggi di PAPI, tapi karena aku juga
mengalami apa yang mereka alami..
Mungkin
aku memang bukan Carl Rogers yang begitu menempatkan klien setara dengan
konselor, mengedepankan empati, non-directive, unconditional positive regard. Aku
hanya irsa, yang akan selalu berusaha untuk memahami orang-orang yang
disalahpahami, orang-orang yang merasa berbeda, dan orang-orang yang mengalami live
event non-normatif..
Dari aku,
duniaku, dan penghayatanku
Bandung,
30122011
Irsa Ikramina
No comments:
Post a Comment