aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Tuesday, December 6, 2011

ketika ego sudah sangat lelah

adakalanya, ego sudah begitu lelah
menghubungkan realitas dan dunia internal

            Aku suka anak kecil dan aku suka mengajaknya berbincang meski pembicaraannya sangat bersifat konkret. Aku suka perhatikan wajahnya yang begitu polos, seperti tidak ada beban. Bukannya anak kecil memang belum ada beban? begitulah kehidupan mereka. Kadang, ketika aku memandangi foto masa kecilku, rasanya aku ingin kembali ke masa itu.
            aku tidak ingat persisnya kapan perjalanan hidupku mulai menemukan gelombang-gelombang yang menghantam, sampai akhirnya aku sekarang berada di titik perjalanan yang sekarang ini. Jika aku harus katakan, aku akan katakan ketika aku SMP adalah masa dimana ujian-uijian hidup mulai menampar batin.
            Aku tidak benci dengan hidupku dan aku juga tidak menginginkan kehidupan seperti orang lain, tapi yang aku inginkan adalah aku ingin kehidupan ku yang lebih baik lagi, yang juga diridoi Allah. Walaupun aku sadar, ujian hidup akan selalu ada kemanapun kita melangkah, karena ujian adalah tanda kasih sayang-Nya, tanda Ia selalu mendampingi kita, dan tanda Ia tidak pernah meninggalkan kita sendirian.
            Aku yakin Allah memberikan ujian yang sesuai dengan kemampuan manusia, Allah tidak pernah salah dalam mengukurnya. Tapi aku ini manusia, aku bisa merasakan kesedihan, kepedihan, dan juga menghayati kesulitan.
adakalanya, ego sudah begitu lelah
menghubungkan realitas dan dunia internal
ada saat-saat dimana aku berada begitu dekat dengan garis batas keputusasaan, aku begitu lelah, bahkan aku sudah tidak bisa memanjatkan doa setiap sehabis solat, aku hanya menangis dan bersujud memohon ampun. Allah yang tidak menyukai orang-orang yang berputus asa dari rahmat-Nya, tapi Allah juga yang menyelamatkan aku ketika aku sangat terpuruk dan nyaris berputus asa.
            Ketika perhitunganku sebagai manusia sudah mengatakan “tidak bisa”, maka pada saat itu Allah membukakan peluang-peluang dan kemudahan-kemudahan yang tidak pernah kuduga sebelumnya. disinilah, Allah seperti ingin mengatakan kepadaku “jangan mendahului perhitungan-Ku, sungguh Aku yang lebih mengetahui”
            Maka ketika itu, dengan beratnya beban yang terasa dalam dada ini. Aku berusaha bangkit kembali, meyakinkan diri bahwa selama ini Allah mendengar rintihan dari doa-doaku, melihat ikhtiarku dan mengetahui isi hatiku.
Ketika aku disakiti dan dizolimi orang lain, Allah sudah menyiapkan balasan yang seadil-adilnya
Ketika aku merasa inferior dengan apa yang aku hadapi, Allah mengecilkannya untukku dengan kebesaran-Nya
Ketika aku merasa sedih, Allah menyentuh hatiku dengan kasih sayang-Nya
Ketika kesulitan menghampiriku, Allah membukakan jalan-jalan kemudahan dengan kekuasaan-Nya
Ketika aku merasa begitu lelah menjalani amanah ini, Allah memberikan aku sedikit cahaya-Nya, meyakinkan bahwa akan ada titik terang, Allah tidak pernah ingkar janji
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Enkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir
Al-Baqarah: 286

dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 06122011
Irsa Ikramina

No comments:

Post a Comment