Betul memang adanya jika kita harus mempertimbangkan dan memperhitungkan, tapi adakalanya aku merasa perhitungan ku terlalu jauh dan melampaui batas sehingga tidak berani melangkah, memprediksi hasil yang belum pasti, dan menjadi tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri
belakangan ini, aku banyak mengingat kejadian masa lalu. Pada awalnya tujuannya adalah untuk introspeksi diri, selama 20 tahun menjalani hidup, ujian apa saja yang sudah aku lalui, hikmah apa saja yang dapat kupetik, live event apa saja yang benar-benar sangat berpengaruh pada kepribadian. Tetapi nampaknya aku terlalu jauh menelusuri ingatan masa laluku sehingga tiba-tiba aku teringat pada masa aku TK yang hingga saat ini kisahnya masih sangat melekat jelas dalam ingatanku.
Ketika aku duduk di bangku TK, aku sempat bersekolah di Bandung karena memang pada saat itu kondisi keluarga belum benar-benar memungkinkan untuk hijrah ke tempat papa ku mencari nafkah. TK BPI yang dulu berada di Jl. Patuha adalah sekolah yang paling sebentar aku jalani selama masa pendidikan, seingatku rasanya hanya hitungan bulan aku bersekolah disana. Pada saat itu, aku, orang tuaku dan adikku yang masih bayi tinggal tidak jauh dari sekolah, tepatnya di Jl. Lodaya yang merupakan rumah nenek dan datuk ku.
Tidak ada masalah dalam menyesuaikan diri di sekolah ini, mungkin karena memang dari kecil aku anak yang cuek, tidak mau terlalu ambil pusing dengan lingkungan sekitar, aku sibuk mewarnai gambarku sendiri dan tidak terlalu merespon ketika teman-teman mengomentari gambarku atau crayon yang aku bawa. Setiap hari, pulang dan pergi ke sekolah pasti selalu diantar dan dijemput oleh mama. hingga suatu hari, papa ku yang menjemput..
Aku tidak tahu kalau hari itu bukan mama yang menjemput seperti biasanya, biasanya mama bahkan sudah menunggu aku di depan pintu kelas sehingga aku tidak perlu mencari-cari keberadaan mama lagi. Hari itu, papa yang berinisiatif menjemput ku. Sementara bel pulang sudah berbunyi, aku sempat kebingungan mencari mama yang tidak ada di depan kelas. Aku jalan ke depan gerbang sekolah, menunggu kedatangan mama di bawah teriknya matahari siang. Cukup lama aku menunggu, hingga sekolah itu benar-benar sudah sepi. Sebenarnya, papa sudah ada, tapi papa menunggu di mobil sambil membaca buku. Kalau aku boleh berkomentar sekarang, “hah, dasar, anak TK ya mana kepikiran menghampiri mobil”.
Aku sudah begitu lelah menunggu, aku sempat bingung apa yang harus aku lakukan. Lalu entah petunjuk darimana, aku memutuskan untuk berjalan kaki pulang sendiri ! pada saat itu aku merasa hafal jalan pulang ke rumah. Aku berjalan dengan sisa-sisa tenaga, aku ingat sekali bagaimana lelahnya berjalan dengan langkah kaki sejauh kaki anak TK. Huuft... apalagi, aku harus menyebarang melalui dua traffic light. Seingatku, aku menyebrang tanpa memperhatikan lampunya sedang merah atau hijau, aku menerabas saja hingga mobil-mobil yang berada disitu berhenti dan menyalakan klakson. Aku ingat ada orang dari belakang ku berkata, “hei hei de ! hati hati ! jangan nyebrang dulu !” aku hanya menoleh lesu dan mengabaikannya karena memang sudah terlanjur berada di tengah jalan.
Hingga akhirnya, aku sampai di rumah dan menggedor-gedor pintu garasi sampai datuk yang membukakan pintunya. Ia nampak kaget, “loh! Papa mana?!” aku dengan polos menjawab, “gak taaaauuuuu” sambil mengankat kedua bahu. Lalu melengos ke dalam. Setelah itu, jangan di tanya apa respon mama dan sikapnya terhadap papa. J
Ada perasaan miris, ada juga khawatir, ada juga rasa ingin tertawa kalau mengingat kejadian ini. Aku mencoba memahami irsa kecil yang akhirnya memutuskan untuk pulang berjalan kaki sendiri. Apakah ini keberanian atau kenekatan tanpa perhitungan? Mungkin bisa dibilang keberanian tanpa perhitungan. Ketika kita kecil, sering kali kita berani melakukan hal-hal yang dianggap bahaya oleh orang dewasa karena memang pada dasarnya anak kecil itu ‘pendek pikiran’. Ketika tumbuh dewasa, seiring dengan bertambahnya pengalaman dan kematangan perkembangan kognisi, kita akan mulai memperhitungkan dan mempertimbangkan dalam memberikan respon. Betul memang adanya jika kita harus mempertimbangkan dan memperhitungkan, tapi adakalanya aku merasa perhitungan ku terlalu jauh dan melampaui batas sehingga tidak berani melangkah, memprediksi hasil yang belum pasti, dan menjadi tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri. Padahal irsa kecil melakukan solving problem usia anak yang lebih dewasa rasanya. Irsa kecil memutuskan pulang sendiri karena yakin ia akan sampai karena ingatannya akan jalan pulang ke rumah. Tapi kenapa sekarang aku jadi tidak yakin menghadapi apa-apa yang dihadapanku dan lebih mempercayai perhitungan sendiri?
Mungkin yang perlu digaris bawahi adalah manusia memang perlu melakukan perhitungan, tapi di atas itu, masih ada AL HASIB, Yang Maha Pembuat Pehitungan. Perhitungan manusia bisa salah, tapi tidak dengan perhitungan-Nya. Aku belajar dari irsa kecil untuk tidak terlalu tenggelam dengan perhitungan-perhitungan sebagai manusia, tapi perlu diingat bahwa ada perhitungan-Nya yang sempurna. Allah sudah memperhitungkan segala pengaturan dengan sangat sempurna, lalu apalagi yang harus menjadi keraguan, menciutkan keyakinan dan menghalagi langkah?
dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29112011
irsa ikramina
No comments:
Post a Comment