aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Wednesday, August 15, 2012

Aku dan pria tionghoa


Happy birthday my deep thought friend. May God Almighty bless you with a happy heart, love from everyone, wisdom, success in all you do, and opened doors in life. God bless you.

Ucapan selamat ulang tahun itu dituliskan seseorang pada wall facebook ku ketika berulang tahun Juni lalu. Aku tidak menyangka bahwa silaturrahim yang terjalin antara aku dengannya tetap hidup hingga saat ini. Ucapan selamat ulang tahun dan selamat natal atau lebaran diantara kami tidak pernah putus. Selamat natal ? ya, kami memang berbeda agama dan juga berbeda usia cukup jauh. pria ini pemeluk agama kristen protestan, ber-suku bangsa tionghoa, dan usianya 10 tahun berada diatas usiaku. Aku tidak melihat semua perbedaan itu, apa mungkin karena kami punya banyak kesamaan ? mungkin juga. Akademik, kehidupan, dan spiritualitas adalah ketiga topik yang selalu mewarnai pembicaraan ku dengannya.

Sebut saja Barlian, yaitu pria tionghoa yang kini berprofesi sebagai dosen, dulu merupakan guru bimbingan belajarku. Bimbingan belajarku dulu memang begitu signifikan bagi kehidupanku, ya salah satunya aku menemukan orang-orang yang sangat berpengaruh bagi kepribadian maupun kehidupan. Pria ini baru mengajar ketika kelas SNMPTN dimulai. Itu berarti, pertemuan awalku dengannya adalah yang paling singkat dibanding guru yang lainnya karena aku mengenalnya sejak awal tahun ajaran.

Tapi, siapa sangka guru yang aku kenal paling terakhir di bimbingan belajar itu akan menjadi significant person yang sangat berpengaruh dan tentu banyak menolong dalam perjalanan kehidupanku hingga saat ini.

****

Dua hari yang lalu, sekitar pukul 9 pagi. Motorku berhenti didepan sebuar rumah yang pagarnya tertutup rapat. Tidak ada bel, maka pilihannya mengetuk dengan gembok yang menggantung di pagar atau memberitahu pada pemilik rumah melalui SMS bahwa aku sudah tiba di depan rumahnya. Baru saja aku mengeluarkan handphone dari tas, pria tionghoa ini sudah membukakan pagarnya. Ya, aku berkunjung ke rumahnya !

“ eh, baru aja mau sms !” kataku sambil tersenyum.

“mau dimasukin ngga motornya?

“boleh deh, asal cukup”, kataku sambil menyalakan mesin motor dan memeperkirakan apakah cukup atau tidak masuk ke garasi yang terisi oleh mobil dan motornya.

“apa kabar nih?” katanya sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.

“yah, begitulah !” jawabku yang kikuk untuk berjabat tangan dengannya karena masih memegangi helm dan kunci motor

Keterbukaan dan kesediaan untuk membantu. Aku pikir itu adalah dua hal yang mempertemukan aku dengannya pada saat itu dan juga awal pertemuanku dengannya 3 tahun yang lalu.
Di kelas intensif SNMPTN aku duduk di pojokan kelas. kelas tidak terlalu penuh pada saat itu. Mungkin masih awal program sehingga anak-anak yang mengambil program setahun penuh masih malas untuk datang. Hanya aku anak yang memang mengambil program setahun penuh di kelas itu. Sisanya adalah wajah-waajah baru, mereka adalah anak-anak yang hanya mengambil program SNMPTN, sehingga banyak pendatang yang datang dari luar Bandung. Cukup lama aku menunggu, kemudian pria tionghoa ini masuk kedalam kelas, mengajar pelajaran sejarah pada saat itu. Itu adalah kali pertama aku melihatnya. Ada sesuatu yang berbeda dari cara mengajarnya, tapi aku tidak tahu apa.

Guru geografi malamnya mengirimkan SMS untukku menanyakan penilaian terhadap guru yang masih baru itu. Aku sudah memahami hal ini, karena setiap ada perekrutan guru baru maka yang menentukan adalah guru senior. Ya, guru geografi itu yang dianggap senior untuk mata pelajaran IPS.

“hmm, gini pak. Sebetulnya saya juga bingung menjelaskannya. Ada sisi yang menunjukkan bahwa jam terbang mengajarnya masih belum dapat dikatakan senior. Tapi ada sisi menarik yang saya pikir dalam gaya berkomunikasinya yang berbeda dari guru yang lainnya. tapi menyenangkanlah. Saya pikir untuk bimbel ini guru itu sudah memiliki kriteria yang dibutuhkan”, jelasku menjawab SMS dari guru geografi.

“hmm. Ya, dia lulusan Fikom Unpad sa”, balas SMS dari guru geografi dengan cepat.

Di hari yang lainnya ketika ia mengajar lagi, seusai kelas aku memberanikan diri menghampirinya.

“pak bisa bantu saya ?”

“apa yang bisa saya bantu?”

“saya lagi nyusun tugas akhir untuk level akhir di tempat les bahasa Inggris semacam paper gitu lah dan sebentar lagi saya harus mempresentasikan, forum lah ya. saya pikir bapak bisa bantu saya dalam hal ini, supaya presentasi saya lebih menarik. Saya tahu kalo bapak lulusan komunikasi”

“ohh, haha. Ya sebisa mungkin saya bantu. Mau kapan ?”

“sehabis ini ada kelas lagi pak ? saya ada nih satu lagi”

“ngga ada sih, tapi ngga papa. Biar saya tunggu di ruang guru”

“wah seriusan pak ?! oke, nanti abis beres kelas saya kesana ya. makasi loh pak !?”, kataku dengan girang

Setelah kelas selesai, aku ragu apa benar-benar pria tionghoa ini ada di ruang guru. Sambil melangkah ragu aku menghampiri ruang guru, dari jendela sudah terlihat. Ah ada ! langsung saja aku menghampirinya.

“jadi gimana apa yang bisa saya bantu ?” katanya dengan gesture yang menunjukkan keterbukaan.
Aku mengeluarkan paper dari dalam tas dan menanyakan banyak hal mengenai presentasi, apa yang akan ditanyakan penguji, dsb. Kami mengobrol cukup lama pada saat itu, karena pembicaraan juga tidak hanya mengenai paper ku. Pembicaraan mengalir membicarakan niatku dan minatku pada Fikom Unpad, membicarakan pelajaran sejarah yang merupakan kesukaannya, membicarakan pengalaman mengajar dan kuliahnya. Sampai-sampai kami tidak menyadari kalau bimbel sudah sepi, tidak ada murid dan juga sudah tidak ada guru..

*****

“duduk sa, silahkan silahkan”, katanya ketika aku memasuki rumahnya.

“puasa ngga?”

“puasa dooonng, jadikan ngga perlu repot-repot, heheh”, kataku dengan nada mengejek.

“hahaha, ya sudah siap untuk direpotkan juga kok”

“lagi ngga ngajar nih kak?” kataku dengan sapaan “kak”, karena setahun yang lalu ia memintaku untuk tidak memanggilnya “pak” lagi. Ia pikir hubungan ini juga sudah menjadi persaudaraan dan bukan sekedar guru dengan murid.

“ngga, libur kan. Yaa, paling sambil nyiapin bahan-bahan aja sih”

“jadi gimana nih? Ada apa sa?” katanya dengan gesture yang menunjukkan keterbukaan. Persis 3 tahun yang lalu.

Sambil membuka pembicaraan, aku menceritakan mengenai perjalanan pendidikanku selama semester-semester terakhir. Di tengah aku yang sedang bercerita, keluar seorang wanita dari salah satu kamar

“haloo, irsa ya ? Santi”, katanya dengan ramah dan sambil berjabat tangan denganku.

“puasa ngga?”

“iyaa puasa” kataku sambil tersenyum

“dulu irsa dateng kok ke kawinan kita San”, kata kak Barlian. Ya, setahun yang lalu kak Barlian memang mengundang aku ke acara resepsi pernikahannya.

“oh iya ? duh lupa yaa. Gak inget karena banyak yang dateng”, kata kak Santi sambil mengingat-ngingat dan tertawa.

Sementara kak Santi pergi ke belakang, aku dan kak Barlian melanjutkan pembicaraan lagi.

“dulu kak Barlian gimana bisa dapet ide penelitian skripsi ? sampe detik ini saya ngga tau banget mau neliti apa” kataku dengan ekspresi wajah frustasi dan mengacak rambut dengan kedua tanganku.

“heheh, dulu sih gini sa. skripsi saya tentang manejemen konflik. Saya mikir kalau seandainya jaman sekolah guru saya mengajar dengan komunikasi yang baik. pasti anak-anak akan mudah memahami apa yang guru sampaikan. Maka saya coba teliti dari hal itu”

“kualitatif ya?” tebak aku

“iya, saya tertarik dengan hal-hal yang hanya bisa diukur dengan kualitatif”

“ya, saya pikir juga gitu. Kalo idealnya emang kualitatif, terlalu banyak yang digeneralisasikan dalam kuantitatif. Tapi saya masih ragu untuk di psikologi mengambil kualitatif”

Lalu kak Ariel memberikan perumpaannya mengenai fenomena yang ada di kampusku mengenai spiritualitas.

“nah, kepekaan-kepekaan itu yang belum saya punya. Awareness terhadap fenomena atau hal dari sekitar yang dapat diangkat untuk diteliti belum saya dapet”

“ya tapi itukan kepekaan saya, kamu akan tersiksa kalau kamu pake kepekaan saya. Kamu harus cari sendiri”

“hmmm, sulit juga ya”

“atau begini deh sa, untuk membantu kamu nih. Kalau kamu yakin Tuhan membuat skenario hidup tidak ada yang kebetulan atau tidak sengaja, bahwa semua hal yang telah kamu lalui ada maksudnya. Maka kamu bisa ambil dari situ. Apa yang ingin kamu ketahui yang belum terjawab kaitannya dengan kehidupan kamu, hanya saja ini kamu tuangkan secara scientific. Ya, bukan berarti ngga boleh mempelajari hal baru atau yang diluar itu, tapi ini untuk membantu memudahkan aja sih sebenarnya”

Hening sejenak, menyadari bahwa apa yang dikatakannya juga menggambarkan pertemuanku dengannya. pertemuan pertama kali di bimbingan belajar itu dan berteman hingga saat ini, aku berada di rumahnya, dihadapannya, membicarakan sesuatu yang juga penting dalam hidupku ke depannya, betul-betul sudah diatur Tuhan.

aku mengiyakan pendapat kak Barlian sembari mencari-cari dalam hati dan pikiranku. Apa yang begitu signifikan dan belum terjawab dalam hidupku. Yang pertama terlintas dalam kepala ku adalah yan tempat bimbingan belajar itu

“sebenarnya sih kak, dulu saya pernah terbesit kalo mau neliti soal Daniel (Rumah Belajar Daniel nama bimbingan belajarnya). Waktu jaman masih bimbel disana ya kepikiran bahwa tempat bimbel ini beda, termasuk pengajar-pengajarnya. Tapi saya belum bisa menjelaskan secara objektif kenapa bisa begitu. Kalo dulu kak Barlian neliti apa di Daniel ?”

Tesis kak Barlian  memang mengenai bimbingan belajar itu juga.

“budaya organisasi”, katanya sambil mengambil tesisnya di rak buku lalu ia memberikannya padaku.


“ya kira-kira begitulah sa mengenai penelitian kualitatif, kalau hanya disuruh bab-bab awal saja kamu bisa liat contoh bab 1 tesis saya itu”

                                                                              ******

kak Barlian  memberikan softcopy tesisnya yang juga masih sampai bab 1 dan potongan-potongan data wawancara dari flashdisk-nya. Aku waktu itu kebingungan dengan tugas proposal penelitian mata kuliah metodologi penelitian semester 2. Saat itu aku juga masih rajin mampir ke bimbingan belajar tersebut karena kesibukan sebagai mahasiswa tingkat awal tidak padat dan kadang aku sekedar ingin ngobrol dengan guru-guru disana, menanyakan pandangan atau pendapat.

“waah, siip lah. Makasi ya pak. Kesekian kalinya nih bapak ngebantu saya”

“ah, ya gapapa kan saling bantu. Oia tahun depan saya tidak mengajar disini lagi sa. Tapi kalau kamu butuh bantuan apa-apa atau mau nanya-nanya hubungi saya aja ya”

“loh ! kenapa pak ?” kataku dengan kaget

“ya kan ngejar tesis aja. Kalau emang sudah cukup data dan selesai ya sudah”

“loh, jadi bapak ngajar disini Cuma kedok ?”

“haha, kedok. Ya bisa dibilang begitu”

“partisipan lah yaa”

Aku yang dulu berpikir bahwa nampaknya akan sulit keep in touch dengan guru yang satu ini. Malah sekarang rumahnya satu kawasan sama-sama di Arcamanik. Kak Barlian pindah ke Arcamanik setelah menikah. Bahkan sekarang ini masih bisa dengan leluasa menyambung silaturahim. Subhanallah !

****
“bawa aja dulu sa, siapa tau nemu topik yang mau kamu sorot” kata kak Barlian setelah menunggu lama aku membuka-buka tesisnya.

“iya deh, dibawa dulu ya. semoga dapet insight. Bisa dibilang Headstart nih saya, habis gimana ya kak. Saya uda jalanin 3 tahun di psikologi tanpa passion. jadi saya pikir, di tingkat akhir ini saya ingin membayar semua itu. saya ngga mau lagi ngerjain sesuatu macem formalitas dan menggugurkan kewajiban. Paling tidak, walaupun sekedar penelitian, saya juga ingin ada keberkahan dan manfaat di dalam proses dan hasilnya kan” kataku sambil membereskan tas dan memakai jaket.

“iyaa, iyaa streotipe orang idealis.” Katanya sambil tersenyum dan volume suara yang mengecil

“hah, emang saya idealis?!”

“ah, dari dulu !”

“taunya??”

“ya keliahatan saja pemikirannya suka berbeda. Hehe.” Katanya sambil tertawa kecil dan tidak menatap wajahku. “ya terserah kamu sih, kalo kamu mau lulus cepet, masalah waktu dan biaya juga jadi pertimbangan secara pragmatis tentunya. Makanya tulis aja dulu topik-topik yang menarik bagi kamu. Lebih bagus kamu pra-survey dari sekarang sebelum masuk kuliah.”

“kegesitan ngga sih ?”

“ya ngga lah, emang kamu lulus kuliah pa tunggu-tunggu sama temen-temen kamu”
Aku berpamitan dengan Kak Santi sementara kak Barlian membantuku mengeluarkan motor.

“duh uda namu, penghuni lagi yang ngeluarin motor” kataku merasa tidak enak

“ah, ngga papa, lagipula saya jarang dapet tamu. Nyampe rumah juga suka malem”

“bentar lagi jugakan pasti ada mahasiswa bimbingan kaak, hahah” kataku mengejek

“ah, saya belum dapet izin sebetulnya untuk membimbing, masih baru kan saya. Yah setidaknya kamu yang pertama secara unofficial” katanya sambil tertawa

****

Dijalan pulang dari rumahnya, aku mengingat-ingat bantuan kak Barlian selama ini sudah sangat banyak, banyak hal mengenai kehidupan yang jadi dapat aku sikapi dengan bijak. Spiritualitas yang dimiliki dan sebagai kristiani taat juga membuatku memandangnya seolah kak Barlian sudah mencapai wisdom di usia yang masih muda.

Ketika aku masih awam soal perkuliahan, kak Barlian memberikan gambaran mengenai dunia perkuliahan. Ketika aku bingung mengenai tugas-tugas perkuliahan yang aku hadapi, kak Barlian membantuku memberikan pandangan-pandagannya. Ketika aku tidak tahu siapa yang harus dijadikan OP anamnesa, kak Barlian waktu itu bersedia.

Ketika aku tidak yakin dengan jalan hidup psikologi kak Barlian yang meyakinkanku
Pencobaan yang kamu alami tidak akan melebihi kekuatanmu, pada waktunya Tuhan akan memberikan jalan keluar. Hidup itu lebih kayak lari maraton daripada lari sprint. Masalah daya tahan dan ketabahan, bukan masalah kecepatan, you’ll be fine kid.
Anggaplah kamu masuk psikologi karena menurut Tuhan kualitas kamu terlalu bagus untuk di di jurusan yang kamu inginkan, maka Tuhan memilihkan psikologi untukmu..
well, you have more than you think irsa...the best is yet to come....

dan ketika aku hampir berhenti di tengah jalan. Kak Barlian juga yang meyakinkanku
Saya tidak bisa bantu meyakinkan kamu soal psikologi, itu rasanya di luar kemampuan saya, tapi mungkin berbagi apa yang saya tahu soal kondisi ketika berada di dalam lubang atau padang gurun yang namanya "proses" itu. Ketika proses begitu berat, arahkan mata pada tujuan akhir, apa yang ingin kita capai, orang macam apa yang ingin kita menjadi.
Yang perlu kita lawan adalah ketakutan2 kita, ketidakpercayaan kita pada penyertaan Tuhan, rasa rendah diri, minder, khawatir, malas, dan juga kesombongan2 kita, setiap hari (istilah saya "menyangkal diri dan pikul salib").

Skripsi belum dibuat saja ucapan terimakasih ku sudah menunggu satu nama untuk ditulis. Ah, tidak hanya skripsi aku pikir, mungkin.. sebuah novel aku, duniaku, dan penghayatanku..

Terima kasih ya Rabb, telah mengirimkan orang-orang yang luar biasa dalam hidup ini, yang mengajarkan aku banyak hal, yang mengingatkan bahwa hidup bukan merupakan ketidaksengajaan. Seluruhnya telah dirancang dengan perhitungan yang sempurna dari Mu ya Allah

Dari aku duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 12 Agustus 2012
Irsa Ikramina

Tuesday, July 3, 2012

aku dan islam yang mendewasakan

tau agama itu mudah tapi dewasa dalam beragama itu sulit

“sa, kok bisa sih lu jadi orang yang religius, lu setelah liburan kaya langsung berubah”, tanya seorang temanku.
“ujian kehidupan mungkin? Pada saat itu gue emang lagi dirundung banyak ujian”, jawabku yang sebetulnya merasa seperti tidak menjawab pertanyaan temanku. Karena aku tau ini akan sangat panjang untuk dijelaskan. Lagipula ungkapan ini hanya akan menunjukkan bahwa kalau susah baru cari Allah. Tapi sebenarnya, ujian juga yang mendewasakan, membuat lebih dekat dengan-Nya.
Percakapan itu terjadi di semester tiga setelah liburan panjang semester genap. Kebetulan aku juga tidak mengambil semester pendek pada saat itu. Mungkin teman-teman memperhatikan status update facebook ku selama liburan yang rata-rata jadi bertemakan spritual.
Mungkin disini aku ingin sedikit bercerita dan berbagi tapi bukan juga menceramahi tentunya, karena bagiku spritual dan agama adalah sebuah perjalanan, sebuah proses jadi bukan berupa materi yang harus dipelajari seperti kuliah. sebetulnya Islam bisa mendewasakan kita, tapi di sisi lain kita juga dituntut untuk dewasa dalam beragama.
Semenjak duduk di bangku TK, aku disekolahkan di sekolah swasta berbasis Islam. kebiasaan dalam Islam dan hafalan doa sehari-hari mulai diperkenalkan. Memasuki SD, doa surat-surat pendek mulai diperkenalkan, tata cara shalat dengan benar dari yang wajib hingga sunnah, pelajaran mengenai agama mulai beragam. SMP dan SMA pendalaman dan spesifikasi pelajaran agama mulai meningkat, sehingga pada saat itu pelajaran agama pun harus dipecah menjadi aqidah, akhlak, ibadah, sejarah islam, dan sebagai tambahan ada pelajaran alquran yang mempelajari tafsir dan tanda baca serta bahasa Arab.
Pada saat itu segala ritual Ibadah hanya dilakukan pada taraf kebiasaan saja. Sekedar menggugurkan kewajiban dan bahkan formalitas. Dari TK sampai SMA kelas 1, bukan waktu yang sebentar aku pikir untuk dijejali ilmu agama. Aku sering mengeluh jenuh bersekolah disitu. Aku ingin bersekolah di sekolah umum.
Ketika kelas 2 SMA aku memutuskan untuk hijrah ke Bandung (baca aku dan hijrah), berpindah sekolah ke sekolah negeri (umum) dan keluar dari lingkungan yang begitu “Islam” di sekolahku. Ada misi yang harus dicapai ketika hijrah, mencari makna kehidupan sekaligus menyembuhkan vacuum existential yang aku alami. Ternyata itu memunculkan kesadaran spiritual dalam diriku. Ada rasa kehilangan juga mengenai budaya Islam, karena kini di sekolah baru ku sudah tidak ada lagi salah berjamaah, tidak ada lagi ikrar yang diucapkan setiap pagi, tidak ada lagi peraturan yang berlandaskan Islam, dsb. Tapi disnilah aku dihadapkan pada suatu kesadaran bahwa ternyata agama bukan hanya soal ritual ibadah yang dilakukan sebagai kebiasaan dan luasnya pengetahuan agama yang dimiliki. Jadi apa?
Seiring dengan perjalanan aku mencari makna kehidupan, dalam hal ini Islam turut mendewasakanku. Dalam upaya meredakan kegundahan hati shalat, tidak dipandang lagi hanya sebagai ritual Ibadah aku coba lebih memahami arti bacaannya, menghadirkan hati, dan meningkatkan kesadaran bahwa shalat adalah sedang berhubungan langsung dengan Sang Khalik. Shalat yang seperti ini yang sebetulnya secara hakiki akan mendatangkan ketenangan, secara emosional juga lebih stabil dan tidak banyak gelisah hati. Itu yang aku rasakan.
Tanpa disadari sebetulnya dalam shalat juga melatih manusia untuk adjustment. Bukan memang begitu kehidupan? Kita harus selalu adjust dengan segala perubahan. Shalat punya segudang alternatif supaya kita bisa menjaga kontinuitas pelaksanannya. Kalau tidak ada air, bisa pake tayamum. Kalau lagi berpergian, bisa jama’ dan qashar. Kalau lagi sakit, boleh sambil duduk atau tiduran.
Shalat juga mendidik untuk sabar dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan segala hal. Setiap gerakan shalat yang dilakukan harus secara tumaninah. Pada dasarnya tergesa-gesa merupakan perbuatan setan, karena hanya mengedepankan hawa nafsu. Aku pikir, segala hal yang kita lakukan dalam kehidupan jika dilakukan tergesa-gesa tentu hasilnya akan tidak maksimal.
Setelah shalat bisa dinikmati maka akan merambah pada ritual ibadah yang lainnya, misalnya puasa dipandang sebagai melatih mengendalikan hawa nafsu, zakat dan sedekah adalah untuk berbagi dan lebih besyukur. Memang, perjalanan ini membutuhkan waktu dan proses. Setiap orang juga memiliki skenario kehidpan yang berbeda untuk bisa mnecapai titik ini.
Setelah ritual ibadah bisa dinikmati, maka ada beberapa variabel dalam islam yang menuntut kedewasaan tapi juga dapat mendewasakan, diantaranya ada sabar, ikhlas, syukur, tawakal. Kenapa dapat dikatakan menuntut kedewasaan tapi juga mendewasakan?
Apapun motif soal ujian yang diberikan Allah, toh kisi-kisinya tetap sama. Allah ingin menguji kesabaran, keikhlasan, keyakinan, rasa syukur, berserah diri, amanah, dan kebersihan hati.
Sederhana, tapi memang tidak mudah dan membutuhkan waktu untuk bisa memahaminya. Seringkali ketika manusia dihadapkan pada suatu ujian, padahal jawabannya seringnya sudah tau, misalnya sabar. Tapi begitu sulit untuk menjalankannya. Tapi, ketika kita berhasil melaluinya, lalu kita menoleh ke belakang kita akan menyadari bahwa satu langkah lebih dewasa dari sebelumnya.
Itu sebabnya begitu mudah terlihat orang-orang yang dapat menguasai variabel-variabel tersebut, tenang, tidak kemerusuk, dewasa, soleh. Meskipun ini semua tidak tekait pada suatu kategori dewasa atau tidak dewasa, soleh atau tidak soleh. namun ketika kita berbicara soal spiritual maka ini merupakan sebuah perjalanan dan juga proses. Artinya, orang juga selalu dituntut untuk belajar lagi untuk lebih baik.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 3 Juli 2012
Irsa Ikramina




Friday, June 29, 2012

Aku dan pelayaran ke dunia psikologi lainnya


Sepanjang aku jadi mahasiswa psikologi, aku tidak terlalu banyak bergaul dengan mahasiswa fakultas lainnya. aku merasa setiap fakultas memiliki pola pikir yang berbeda karena bidang studi yang digeluti, selain itu iklimpun pasti berbeda, peraturan dan kehidupan in-group membuat keeratannya juga semakin kuat dibandingkan terhadap out-group. Tapi aku lebih penasaran dengan kehidupan psikologi di kampus lainnya.
Suatu saat aku dan Anis pergi ke kampus yang ada di Jl. Surya Sumantri. Sekedar untuk mengunjungi perpustakaannya dan kalau memang sempat aku ingin bertemu dengan temanku yang merupakan mahasiswa psikologi juga di kampus itu. Aku dan Anis berangkat dari kampus setelah suatu mata kuliah selesai pukul sepuluh pagi hari itu. Kami memang pernah “mengambil keatas” pada semester genap lalu. Sehingga pada hari itu memang hanya satu mata kuliah. Aku dan anis mengendarai motor ke kampus itu. Parkiran motor di kampus itu ternyata ada di belakang dan harus melalui jalan yang merupakan perumahan. Terlalu terperangah aku melihat gedung kampus itu yang begitu menjulang tinggi, sampai aku tidak melihat ada polisi tidur dan tidak sempat menarik rem. “eh, sorry nis, gue ngga liat. Saking ngahuleung gue liat tu gedung”, kataku. “iya ngga papa, santai. Iya gue juga”, jawab Anis. Kamipun tertawa. Bagiku, kampus ini begitu “tinggi” tidak hanya soal gedungnya, tapi juga kelas sosialnya.
Memasuki tempat parkir, parkirannya begitu luas dan rapi. Tidak perlu takut tidak kebagian parkir. Aku dan Anis saling memandang, tidak banyak bicara dengan sedikit senyum, mata kita saling berbicara, dan tatapan penuh makna yang artinya “beda banget sama kampus sendiri”. Memasuki kampus itu, aku kebingungan dengan gedung yang dimaksud temanku melalui SMS. Tapi akhirnya kami menemukannya dengan arahan melalui SMS dari temanku. Perpustakaannya ada di lantai 6. Kamipun naik ke lantai 6. Setelah menyerahkan KTM dan memasukkan tas ke locker serta menulis di buku tamu. Aku mulai melangkahkan kaki di perpustakaan itu. Terpaan angin sejuk dari pendingin ruangan begitu memberikan kesegaran dari udara luar yang begitu panas. Aku lihat ke setiap sudut ruangan, ruangan ini sangat luas dan bersih. Begitu “putih”. Banyak rak buku besar yang tersusun rapi diberi nama sesuai bidang ilmu pengetahuannya. Banyak meja dengan beberapa kursi yang tersusun rapi. Di beberapa meja ada mahasiswa yang sedang berkumpul mengerjakan tugas. Begitu tenang dan begitu nyaman.
Aku dan Anis langsung menuju rak buku ilmu sosial, salah satunya ada rak besar berisikan buku-buku psikologi. kami memilih buku untuk dibaca. “ah! Ada tentang crime! Yes!”, kataku sambil mengambil buku dan langsung duduk di kursi dan meja terdekat. Sedangkan Anis masih mencari buku yang akan dibacanya.  kami membaca buku sambil sedikit berbincang. “nis, kalo kaya gini kondisinya gue langsung rajin kali belajar mulu. Ngerjain tugas juga betah. Ck ck ck. Langsung deh need of achievement tinggi”. “iyaaa banget.” Jawab Anis. kami tertawa bercanda sambil membaca. Aku dan Anis memang selama ini kesulitan mencari tempat mengerjakan tugas, atau sekedar membaca buku. Kami rajin membawa buku bacaan ke kampus ketika ada jam kosong yang panjang. untuk melakukan kedua hal tersebut selalu saja tempat makan dekat kampus yang menjadi lahan aktivitas kami walaupun ramai orang dan bising.
Kemudian aku dan Anis melakukan pelayaran lagi, ke dunia psikologi lainnya. kali ini aku tidak berdua saja dengan Anis. Tapi juga bersama dua teman ku lainnya, Mita dan Rina. kami mengendarai mobil untuk mencapai tempat tujuan karema kali ini tujuan pelayarannya agak lebih jauh, ke daerah Jatinangor. Memasuki kawasan kampus ini, hatiku ku begitu sejuk. Meskipun udaranya disana sangat panas. Aku melihat disini adalah tempat menuntut ilmu yang sesungguhnya. tidak seperti pelayaranku yang sebelumnya, kali ini perpustakaannya perfakultas. Menginjakkan kaki pada dunia psikologi disini membuatku melihat gambaran menuntut ilmu yang sesungguhnya. Begitu tenang. Aura “mahasiswa” begitu kuat disini. Aku lihat ada beberapa mahasiswa yang sedang makan, ada juga yang sedang mengerjakan tugas, ada juga yang sedang shalat di masjid kecil namun begitu besar untuk mahasiswa yang mendirikan shalat disana. Akupun menyempatkan diri untuk shalar zuhur dan ashar disana.
Tujuan kami, tidak hanya melakukan kunjungan belaka sebetulnya. Sama seperti pelayaranku dengan Anis sebelumnya, yaitu ke perpustakaan. Memasuki perpustakaan ini aura “psikologi” begitu kuat. Mungkin karena ruangan yang tidak terlalu luas namun padat dengan jajaran buku-buku psikologinya. Di dalam sana ada beberapa mahasiswa yang keliatannya sudah tingkat akhir, karena sibuk dengan laptop, skripsi yang dipinjam, dan beberapa tumpukan buku yang diambil dari rak buku. Mereka seperti sudah lama berada disana semenjak perpustakaan ini buka sehabis shalat Jumat.
Kami berempat langsung melihat buku-buku yang ada disana. Masing-masing langsung ke jajaran buku yang merupakan bidang yang diminati. Seperti biasanya, “huuiihh forensiknya lebih lengkap nih”, kataku sambil melihat-lihat jajaran buku. “tuh gifted child sa, kesukaan lu juga”, kata Anis kepadaku sambil menunjuk ke arah bukunya. Nampaknya Anis sudah hafal apa yang menjadi kesukaanku. Tapi kali ini aku tidak ingin menyentuh forensik. Setahuku, di kampus  ini analisis eksistensialnya masih “hidup” tidak seperti di kampus ku yang bahkan sudah dipunahkan. Tapi rasa ingin tahuku kepada analisis eksistensial tidak ikut punah. Maka aku pergi ke jajaran buku Filsafat. Beberapa buku aku ambil, mondar-mandir tidak ada buku yang “menggunggah”ku. Sementara teman-temanku tenang dengan buku-buku perkembangan dan Anis dengan buku “marriage” nya.
“nis, gue pengen liat skripsi aja deh kayanya, mumpung udah sampe sini. Tapi boleh ngga sih, yang jaga mana lagi. Itu tempat tertutup banget yang skripsi”, kataku kepada Anis. “yauda sok aja, coba tanya kang Imam gih diakan uda sering kesini bukannya?”. Ah iya juga ya, dalam hatiku. Aku langsung saja SMS dia.
Bang, itu di perpus “kawasan Jatinangor” boleh liat skripsi ngga sih. Nyelonong aja gitu?
Tidak lama, kang Imam membalas SMS ku.
Iya, sa nyelonong aja. Haha. Tapi kalo skripsi kamu liat daftar judul terus pilih ntar diambilin kok. Ngga boleh ambil sendiri soalnya. terus jangan lupa isi daftar nama peminjam ya.
            Setelah membaca balasan SMS itu aku mendekati ruang skripsi, aku ambil daftar judul skripsi. Aku pilih yang lulus tahun 2009. Aku bukan melihat judul tapi malah nama pembimbing. Hanya ada dua pembimbing yang aku incar, kang Eppy dan Zainal Abidin. Nampaknya magnet terhadap analisis eksistensial disini begitu kuat bagiku. ibu penjaga perpus menghampiri dan bertanya dengan ramah, “hayooo mau pinjem skripsi apa?” . lalu aku dengan tidak sungkan memberitahu si ibu, “yang ini bu” kataku sambil menunjuk judulnya. Hanya sepersekian detik Ibu itu melihat Judul seperti sudah hafal dan hanya sepersekian detik juga Ibu itu keluar lagi dari ruang skripsi mengambilkan skripsi untukku. Nampakanya Ibu ini sudah sangat hafal dengan tata letak dan urutan skripsinya. Dalam sekejap skrispi itu sudah ada dihadapanku.
            Aku membawanya ke meja tempat kami membaca. “sa, apaan tuh?”, tanya Rina, salah satu temanku dengan heran. “ya skripsi lah, aneks niiihhh!!!” kata ku dengan muka sombong. “hah, kaya apa sih sa?”. “ya gitulah, filsafat gitu deh” jawabku dengan singkat karena malas menjelaskan lantaran sudah tidak sabar meihat isi skripsinya. Situasi hening sejenak, sibuk dengan bacaan masing-masing. Aku baru membaca bab satu saja tidak berasa kalau itu skripsi dan bukan buku bacaan. “nis, mungkin ngga ya gue penelitiannya ini? Sementara kita ga dapet aneks dan di kampus kita uda punah”, tanyaku kepada Anis. “mungkin aja sih, asal lu suka sebetulnya. Bukannya mending gitu ya. penelitian tu yang emang kita pengen tau”, jawab Anis. “tapi coba lu liat deh, ini kualitatif. Mainannya wawancara”, tandasku. “kualitatif kaya apa sih sa?” tanya Rina yang mendengar pembicaraanku dengan Anis. “yaaa, macem-macem sih. Itu lohh yang dulu metpen 2, fenomenologi, studi kasus. Tapi ya lebih mendalam ini mah namanya juga kualitatif”, jawabku dengan asal karena sedikit malas membahas ini. Aku tidak memahami kampusku memberikan mata kuliah metodologi penelitian kualitatif tapi menghapuskan analisis eksistensial.
            “gue juga sebenarnya tertarik saa, sama marriage yang kaya gini ini”, kata Anis sambil menunjuk buku yang sedang dibacanya. “terus?”, tanyaku singkat. “yaaa gue mikirin respondennya lah, keluarga, pasangan, sungkan gue”. “iyaaa siiihhh”, kata ku menyetujui. Aku tau Anis sempat tertarik dengan pendidikan, “sebetulnya pendidikan “mungkin” responden lebih mudah karena populasi dan sampelnya kan kebayang. Tapi satu hal, bisa jadi ngga valid lantaran anak sekolah ngisi angket suka ngasal”. “duh iya ya”, Anis tersadar. “ya berarti tipenya questionaire nya kita yang isi” kata Anis menimpali.
            Hening sejenak.. lalu Rina lagi-lagi memecah keheningan, “kalian mau ambil Metpen KKPP apa?” aku sendiri tidak tahu, bahkan belum bisa menjawab pertanyaan Rina. tapi di mataku.analisis eksistensial selalu menjadi seni dalam memahami manusia. Hidup tidak hanya untuk memahami aku, duniaku, dan pengahayatanku. Tapi juga memahami dunia dan penghayatan orang lain. Ku pegang erat skripsi itu, menatapnya, dan menghela nafas..


Aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29 Juni 2012
Irsa Ikramina

Aku dan pintu baru bagi duniaku dan penghayatanku


“kamu kenapa irsa!!!?? Kamu kenapa !!??? kamu kenapa !!??  saya kecewa sama kamu?!!! Akh..!! gimana kamu mau jadi psikolog kriminal kalo apa kata OP kamu percaya aja!! Saya kecewa sama kamu!!”.

            Berbaring diatas tempat tidur, berselimut, sambil membaca sebuah novel. Akh akhirnya aku menyerah, mataku pedih. Aku sudahi dulu membaca novelnya. Entah kenapa aku selalu tenggelam didalam kisah yang dituliskan Iwan Setyawan. Novel yang berjudul “Ibuk” itu baru aku beli siang tadi dan aku berniat ingin baca sekali habis. Tapi kondisi mata tidak memungkinkan. Aku menutup novel itu, bangun dan menatap ke sekeliling kamarku. Kamar ini tidak jauh berbeda pada saat tidak libur kuliah. Beberapa buku tergeletak di pinggir tempat tidurku. Ada novel, buku “tombo ati”, dan bahkan kamus pocket oxford dan text book yang aku photocopy dari dosenku. Aku tidur bersama mereka dan aku bangun dengan mereka. Ada sajadah terbentang yang diatasnya ada lipatan mukena yang kulipat asal saja serta alquran di sudut sajadah. Meja belajar tidak pernah sesuai fungsi, selalu saja dipenuhi barang-barang entah jam tangan, radio, DVD, atau map-map yang berisi kertas penting. Tumpukan buku psikologi selalu terlihat “penuh” tepat di samping tempat tidur. Ada tumpukan laporan di sudut kamar, di belakang pintu.
Kondisi kamar memang tidak berbeda, tapi rutinitasnya yang berbeda ya itu karena UAS telah selesai. Itu berarti semester 6 juga sudah berakhir. Aku ingat dua minggu yang lalu masih bangun dengan sangat pagi, sekedar untuk bisa menyempatkan diri membaca materi ujian.  Aku juga masih sangat ingat di hari terakhir ujian bagaimana aku mengisi jawaban essay. Aku menjawab dengan tidak “selayaknya” karena energi ku sudah habis terutama karena kejadian di hari sebelumnya. “aku ceritakan saja sambil menulis, sudah lama aku tidak menulis”, dalam hatiku. Kemudian aku ambil laptop ke atas tempat tidurku..
Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pramoedya Ananta Toer
            Hari sebelum aku mengisi ujian “dengan tidak layak”, aku dan kelompok praktikum observasi interview melakukan feedback. Aku tidak bisa menebak perasaan dan pikiran mereka satu per satu, namun aku bisa membaca dari wajah teman-teman ku kalau ada satu keinginan yang sama yaitu, “cepatlah segera berakhir”. ya mungkin karena kami sempat tidak jadi feedback dan jadwal UAS yang “recet” membuat kami ingin dengan segera menyelesaikan semua kegiatan di penghujung semester ini. 
            Aku menyadari bahwa seperti biasanya pasti ada kesalahan dalam pengambilan data dan penulisan laporan. Wajarkah? Entahlahya batasan wajar menjadi begitu subjektif. Aku pikir ini menjadi wajar ketika memaklumi bahwa semua skill yang diajarkan dalam praktikum akan berkembang sesuai dengan jumlah jam terbang. Namun, bagi beberapa pembimbing, terutama yang memang dosen senior. Justru ini menjadi kesalahan yang tidak dapat “dimaafkan”.
            Itu sebabnya feedback kali ini aku merasa takut, karena pembimbingnya kali ini dosen senior. Senior disini tidak hanya mengacu pada lamanya pengalaman mengajar, namun juga berkaitan dengan expert power. Aku melihat dosen yang satu ini sangat cerdas. Dimataku pemikiran-pemikirannya sangat original, terlihat juga dari bagaimana caranya menyampaikan materi sangat berbeda dengan dosen yang lainnya. terus terang ketika menghadapi dosen yang satu ini antara takut dan segan jadi tidak ada bedanya. Mengingat aku sering melakukan kesalahan ketika presentasi analisis kasus di kelas psikologi sosial. tapi tanpa aku sadari, lepas dari mata kuliah tersebut kepekaan terhadap realitas dengan teori sosial menjadi tinggi. Aku setuju bahwa keberhasilan dalam suatu mata kuliah bukan hanya mengacu pada hasil nilai A, B, C, namun juga bagaimana teori-teori yang diajarkan menjadi “bagian” dari mahasiswa dan mampu mengaplikasikannya pada realitas kehidupan sehari-hari. Sederhana, tapi apabila ini didukung dengan jam terbang yang tinggi aku pikir siapa yang tidak mau memperkerjakan seorang analyst atau consultant yang handal? Namun, terlepas dari itu semua, dliuar jam mengajar dan ketika memasuki mejanya di ruang dosen. Aku tau beliau adalah orang yang akan selalu dengan ringan meminjamkan buku-bukunya yang juga “original” kepada mahasiswa dan menjawab pertanyaan mahasiswa atau sekedar berdiskusi seputar pelajaran.
            Feedback hari itu berjalan “seperti biasanya”, seperti biasa disini berarti membahas seluruh kesalahan dan “dosa” yang telah mahasiswa perbuat dari laporan dan pengambilan datanya. Pada dasarnya ketika seorang pembimbing merupakan dosen senior dan memiliki expert power, tentu akan memiliki standard yang tinggi dalam menilai hasil kerja mahasiswa. Singkatnya, tidak akan banyak memaklumi.
            Satu per satu mahasiswa menunggu giliran untuk “mempertanggungjawabkan” apa yang telah dikerjakan. Aku tidak seperti salah satu teman sekelompok ku yang ketika ada kesalahan dengan segera mengatakan, “maaf kang”. Karena untukku, aku tidak mengerjakan laporan hanya untuk minta maaf. Itu sebabnya aku banyak diam dan hanya menghela nafas ketika ditanyai mengenai kesalahan. Hingga akhirnya tibalah giliranku. Kesalahanku adalah aku terlalu mengandalkan wawancara daripada observasi tapi tidak didukung dengan kemampuan wawancara yang memadai, dengan sedikit probing akibatnya aku seperti begitu saja mempercayai apa kata OP. Langsung saja dosen ini mengatakan padaku dengan nada tinggi, “kamu kenapa irsa!!!?? Kamu kenapa !!??? kamu kenapa !!?? saya kecewa sama kamu?!!! Akh..!! gimana kamu mau jadi psikolog kriminal kalo apa kata OP kamu percaya aja!! Saya kecewa sama kamu!!”. Seketika aura ketegangan menyeruak ke seluruh ruangan. aku hanya diam, terpaku, menundukkan kepala, sesekali aku melihat ke arah dosen itu. Setiap dosen itu bertanya, “kamu kenapa!!!??” dalam hati aku menjawab, “loh? Kenapa gimana? Biasanya juga begini kok. Ya ngga kenapa-napa. Kok jadi malah kaya intimate vs stranger difference gini. Artinya, secara past experience kan biasanya juga salah”
Aku menatap kedua wajah cemas temanku yang belum mendapat giliran. Ada ketakutan dan kecemasan di mata mereka. Aku hanya bisa diam tapi rasanya warna-warna akromatik meledak di dalam diriku. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Seusai feedback kami hanya terdiam menatap satu sama lain, hanya beberapa kata yang terungkap, helaan nafas mewakili ungkapan kelelahan kami. Sambil berjalan ke luar lab, aku berkata, “ yasudah, semoga lulus semua. Amin”
Aku akui menempuh pendidikan psikologi di kampus ini, yang menjadi berat bukan masalah persaingan. Dimana letak persaingan kalau iklimnya need of affiliation? Tapi yang memberatkan adalah tuntutan yang tinggi.
            Sesampai di rumah, kata-kata dosen itu masih terdengar jelas di kepalaku. Kondisi kehabisan energi psikis turut mendukung tidak maksimalnya dalam mempelajari materi ujian untuk besok. Keesokan harinya, entah apa yang aku isi di lembar jawaban. rasanya seperti setengah sadar. Bahkan disaat mengerjakan ujianpun kata-kata dosen itu masih seperti nyata. Padahal hari itu aku sedang berulang tahun, tapi kebahagiaan ku tidak “lepas”. Biasanya aku juga bertafakur mengenai perjalanan hidup yang aku tempuh, tapi aku sedang tidak memiliki energi psikis untuk melakukannya hari itu. Aku biarkan saja hari itu terlalui..
            Meski aku masih bertanya-tanya dalam hati dan pikiranku, kenapa kata dosen ini masih begitu nyata dalam duniaku?  Kenapa kata-katanya begitu mempengaruhiku sedalam ini? Apa mungkin karena secara social impact ada strength dimana dosen tersebut memiliki status tinggi dan expert power. Selain itu ada satu hal yang mengganjal, kenapa hanya kepada aku saja dosen ini mengatakan kekecewaannya. Sehingga dalam hal ini menyinggung juga immediacy, ada sesuatu yang ia sampaikan kepadaku secara personal.
            lusa harinya, aku dan mama pergi berlibur ke pangandaran. Sudah lama direncanakan, hampir gagal tapi aku bersikeras. Kenapa? Aku ingin merasa lebih dekat dengan Allah melalui alam ciptaan-Nya. Kami tiba disana malam hari, setibanya disana aku sedikit melupakan kejadian yang memberatkan psikis ku beberapa hari ke belakang. baru keesokan paginya aku akan ke pantai. Kebetulan, jarak pantai dan hotelnya hanya 50 meter. Aku sudah tidak sabar!!
            Keesokan paginya aku pergi ke pantai.  Aku lihat dari kejauhan warna biru yang begitu menyejukkan, hamparan air yang begitu luas seperti tiada batas melambangkan kebesaran pencipta-Nya. Bersama suara gemuruh ombak kecil aku mempercepat langkahku untuk mendekatinya. Kakiku menyentuh pasir yang begitu lembut. Aku lepas sandal yang ku kenakan, dan aku biarkan air laut menyentuh kakiku. Begitu dingin, begitu sejuk, memadamkan kegundahan hati ini. Aku biarkan angin laut menerpa wajahku. Aku menatap langit biru. Sinar matahari membuatku sulit membuka mataku, namun di tengah silaunya matahari aku melihat ada layang-layangan yang bergerak “bebas”. Seperti aku yang “bebas” bersama duniaku dan penghayatanku.
            Aku terpaku di tepian pantai menatap laut lepas. Aku ingin seperti laut yang begitu “lepas”. Aku ingin melepaskan segala beban yang memberatkan langkahku. Luasnya lautan menembus hatiku, meluaskan hati yang begitu sempit. Aku ucapkan Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar. Aku tidak ragu sedikitpun akan kekuasaan dan kebesaran-Nya dan ini hanya sebagian kecil dari keindahan-Nya. 

            Hari itu aku yang pergi bersama mama tidak lama menghabiskan waktu di pantai, setelah mengambil beberapa foto. Kami kembali ke hotel, karena matahari sudah mulai sangat menyengat. Ah, aku ingin ke pantai lagi ! niatku dalam hati ketika menghabiskan waktu di hotel.
            Besoknya aku ke pantai lagi, hanya aku, kamera, dan laut lepas. Lagi-lagi aku terpaku menatap ke lautan. Aku merasa ini seperti sebuah meditasi alam yang membentuk ulang kepingan-kepingan self concept yang sempat hancur. Existential vacuum dan depresi yang pernah aku alami cukup meluluh lantakan self concept yang kupunya. Aku berusaha menyusunnya kembali, dan hari ini, di hadapan laut adalah saat menggabungkannya meskipun itu retak-retak. Di kepala ku terdengar kata-kata dari orang-orang terdekat, kini suara di kepalaku tidak hanya dari dosen itu. Sekarang ada banyak. Suara-suara itu silih berganti hadir di kepalaku..
Dari cara bicara kamu, dan melihat IPK kamu yang sekarang, Ibu yakin kamu bisa jadi psikolog nanti..
Sa, kamu belum menyadari. Sebenarnya kamu punya daya analisis yang cukup bagus. Cobalah jangan berdasarkan common senses aja, pake teori-teorinya.
Kamu bisa disalahpahami orang lain tetapi jangan salah memaknai keindahan dirimu sendiri
Nak, kamu sebetulnya cerdas..
Anggaplah kamu masuk psikologi karena menurut Tuhan kualitas kamu terlalu bagus untuk Fikom, maka Tuhan memilihkan psikologi untukmu. Dari dulu saya sudah pernah bilang kan bahwa kamu memiliki pemikiran yang berbeda
           
            Masih banyak suara-suara yang terdengar di kepalaku. Aku tetap berdiri, terpaku, melihat lautan. Namun dunia internalku berjalan begitu dalam dengan penghayatannya. Orang disekitar pantai seperti bingung melihatku. Mungkin mereka bertanya-tanya aku sedang apa. Beberapa meter dariku ada sekumpulan anak muda yang sedang bermain pasir, ada juga yang sedang bermain bola atau sekedar berenang di air. Untuk membuatku merasa “penuh” aku tidak perlu melakukan semua itu. Aku hanya butuh mengarungi lautan bersama duniaku dan penghayatanku. Tanpa disadari aku sudah cukup lama berdiri disitu, matahari mulai terasa menyengat di tanganku, aku berpindah tempat dari tempatku berdiri..

 Ku tuliskan jejak ku di pantai ini, meski aku tau itu akan hilang tersapu air pantai. Tapi pantai ini sudah menjadi bagian dari duniaku dan tidak akan pernah ku lupakan dalam penghayatanku.


Dengan berat hati aku tinggalkan pantai ini, dengan menoleh lagi sebelum aku benar-benar meninggalkannya.

            Jadi apa maksudnya dari semua ini? Perkataan dosen itu dan meditasi itu, mengingatkanku bahwa perjalananku masih sangat panjang namun tidak banyak waktunya. Aku seharusnya bisa berbuat lebih dari saat ini. Maka selama ini aku sudah terlalu “santai”, terbawa arus perputaran kehidupan yang hanya sekedar reaktif namun tidak proaktif, bahwa masih ada virtue dan strength yang dapat diaktualisasikan, aku masih bisa belajar dan bekerja lebih dari ini. So what the hell is wrong with me? Psikologi sudah menjadi bagian dari duniaku, dari hidupku. Sama seperti misi dari psikologi sendiri. First, to cure mental illness. i have ever been depression and existential vacuum. Second, to find and nurture genius and talent. Third, to make normal life more fulfilling. Ofcourse the next step will follow those missions. At least, I do for my self first in order to “give” to people arround me.
I have lived through much and now I think I have found what is needed for happiness. A quiet, secluded life in the country with possibility of being useful to people
Tolstoy
            Aku sering meilhat pesawat terbang diatas langit dan bertanya dalam benak ini. Akan kemana pesawat itu membawa penumpangnya? Mungkin ke negara tetangga atau negara yang jaraknya puluhan jam. Kapan aku bisa sampai disana? Dari SMP aku selalu bermimpi untuk bisa study abroad. Aku ingin mengenal orang-orang diluar sana, belajar banyak hal, mersakan jadi pelajar yang dididik secara humanistik. Tapi kini aku sudah berada di penghujung perjalanan pendidikan. Tapi mimpi itu tidak hilang, tetap menyala. Bagiku belajar adalah nafas hidup. Tidak harus melalui jalur pendidikan formal. Mungkinkah ini adalah salah satu jalan yang harus ku tempuh untuk menguji sejauh aku bisa melalui keraguan dan ketakutanku? Haruskah aku berhijrah lagi untuk yang kedua kalinya dalam hidupku? Mungkin iya. Kita tidak akan pernah tahu sampai kita mencobanya. Sebab aku tidak berjalan bersama Freud yang selalu melihat masa lalu; aku tidak berjalan bersama Adler yang berjuang menjadi superior hanya karena inferioritas; tapi aku berjalan bersama Maslow untuk bergerak maju ke depan, mengaktualisasikan diri; aku berjalan bersama Seligment untuk mengembangkan diri, melakukan yang terbaik untuk kehidupan, untuk lebih bahagia, untuk lebih “penuh”; dan aku berjalan bersama Viktor E Frankl untuk memaknai setiap langkah dalam kehidupan.
By the way, i just wanna say that maybe i’m not a person who easily say “sorry” because i hate my self when make people dissapointed because of me. But i’d like to say “thank you”, sir. For making me realize, the place where i should go, the abilities that I have, and the way i should see this life journey from now.



Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 29 Juni 2012
Irsa Ikramina