aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Thursday, June 7, 2012

Aku dan Amanah


“nak, kamu sebetulnya cerdas. Tapi cobalah ikut organisasi. Sukses itukan ngga cukup Cuma cerdas aja kan?”

            Hari ini, aku masih UAS, dan seperti biasa aku adalah peserta ujian terakhir yang keluar kelas. Aku memang lama dalam mengerjakan soal, selain karena memang aku hati-hati, bagiku skor satu nomor saja begitu berharga. Hari ini yang mengawas adalah salah satu dosen yang aku segani dan aku kagumi. Entahlah, semua dosenkan memang cerdas, tapi selalu ada daya tarik tersendiri untukku dari dosen-dosen tertentu. Ya, salah satunya ibu dosen yang satu ini. Pembawaannya tegas dan disegani anak-anak mahasiswanya karena memang memiliki expert power. Ia juga selalu menuntut mahasiswanya berpikir lebih tinggi. Itu yang aku suka, “membesarkan” mahasiswa, tidak semua dosen melakukannya.
            Ketika  hanya tinggal aku yang dikelas, aku beranjak dan mengumpulkan lembar jawab ke meja dosen. Lalu ibu dosen itu bertanya,
Ibu dosen        : “kamu kegiatannya apalagi nak? Selain kuliah.”
Irsa                   : “ngga ada bu, di rumah aja. Paling juga mengajar. Tapi itu juga Cuma seminggu sekali sih” jawabku sambil tersenyum     
Ibu dosen        : “oh, mengajar apa nak?”
Irsa                   : “bahasa inggris  bu. Privat. Nagajarin temen sih”
Ibu dosen        :”ohhh. Ngajar temen. kalo kata saya cobalah ikut berorganisasi. nak, kamu sebetulnya cerdas. Tapi cobalah ikut organisasi. Sukses itukan ngga cukup Cuma cerdas aja kan?”
Irsa                   : “iya bu, makasih” kataku sambil tersenyum dan menganggukan kepala.
Aku diam sejenak sambil tersenyum. The insider-outsider difference kah? Bahwasannya, aku tahu organisasi itu juga perlu. Tapi aku lebih tau tentang diriku sendiri, sebab mengapa aku tidak terlibat dalam organisasi. Tapi kemudian aku lebih mengganggap, ibu dosen ini care dengan memberi inputan seperti itu. Maka aku terima dengan positif saja. Aku tersenyum lagi dan mengatakan terimakasihku.
Lalu ketika aku akan pergi dari kelas, ibu memanggilku lagi
Ibu dosen        :”eh, saraya. Boleh ibu minta nomer kamu?”
Irsa                   :”boleh bu”, jawabku singkat
Dia mencatat nomer ku di buku agendanya. Lalu aku pamit dan keluar kelas. Dalam benak, aku bertanya, “ngapain ya si ibu minta nomer gue? Buset. Berasa penting nih gue.”
Pada saat keluar kelas, aku bertemu beberapa teman yang nampak cemas. Beberapa diantaranya bilang, “ih itu apa ngga di bold aja sih petunjuknya kalo emang harus pilih lebih dari satu jawaban. kenapa juga ngga pake yang 1,2,3 benar A gitu-gitu”, ungkapnya dengan kesal.
Inalillah ! aku juga menjawab hanya satu jawaban. “bodoh!”, aku mencerca diriku sendiri dalam hati. Seniorku memang pernah mengingatkan, “Hati-hati sama dosen yang satu itu, kalau buat soal suka menjebak. Baca petunjuknya baik-baik”. aku melihat ke sekumpulan teman yang lain ada juga yang sangat-sangat cemas, dan mengatakan, “ah.. aku Cuma pilih satu..”
Pada saat itupun aku cukup soak. tapi aku berusaha menenangkan diriku. Aku tidak mengatakan kepada siapapun aku terkena jebakan itu juga. Kebetulan, aku tidak membawa motor seperti biasanya. Mama yang mengantar jemputku hari ini. Sambil menunggu mama, aku sambil berbicara pada diriku sendiri.
“ada-ada saja rencana Allah untuk membawaku SP. Aku rajin berdoa belakangan ini, agar ada atau tidaknya yang harus SP aku serahkan saja pada pengaturanNya. Karena aku punya beberapa rencana besar untuk liburan kali ini. Dengan catatan, aku tidak SP. Selain itu, aku berusaha agar penghasilan ku dari mengajar tidak habis hanya untuk SP. Tapi bisa membeli buku-buku yang aku pikir bisa mendukung untuk metpen dan KKPP semester depan. Namun, aku dibuat tidak menyadari jebakan petunjuk soal itu. Yasudahlah, SP nya aku bayar pakai sedekah saja. Mudah-mudahan Insya Allah dilancarkan urusan akademik ini”
            Bayar pakai sedekah? Sedekah itu punya 4 mata pisau, yaitu mengundang datangnya rezeki, menolak bala, menyembuhkan penyakit dan memanjangkan umur. Aku menyadari bahwa aku kurang bersedekah, seringkali dari penghasilan ku mengajar tidak besar aku sisihkan untuk anak yatim. Mungkin, dengan kejadian pada saat ujian hari ini, Allah ingin mengingatkatkan ku pada sedekah, sedekah itu menolak bala. Karena, kalau dirunut aku sudah berdoa sebelum ujian, biasanya aku juga mendirikan salat duha sebelum ujian. Tapi karena hari ini sedang “halangan” jadi aku hanya mengandalkan doa dan keyakinan. Dengan adanya hal ini, aku berusaha tidak berprasangka buruk kepada Allah. Aku pikir, buat apa berprasangka buruk? Seperti tidak mengenal Allah saja. Sudah 20 tahun hidup tapi kalau belum mengenal Allah lebih dalam percuma saja. Aku yakin, akan ada hikmah yang nanti akan terkuak dalam skenario ini.

Satu hal yang membuat ku tetap yakin kepada-Nya adalah karena aku sudah meluruskan niat untuk menyempurnakan amanah, menyempurnakan ikhtiar.

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya yang tertanam di dalam hati itu adalah keyakinan”
            Ya, di akhir semester ini aku berusaha mencari meaning of life apa yang membuat perjalanan tahun terakhir berkuliah ini akan membuat lebih bermakna. kata Viktor E. Frankl, kalau aku tidak salah mengartikan dari bukunya. makna hidup itu berbeda-beda setiap orang dan juga berbeda-beda setiap waktu. Itu berarti, setiap episode kehidupan akan  memiliki makna yang berbeda. Oleh karena itu aku berusaha menemukan “makna” untuk masa satu tahun terakhir ku berkuliah.
            Aku mencoba merunut ke belakang, ketika aku baru menapaki kota Bandung, ketika hijrah pertama dalam hidupku aku lakukan, untuk menemukan makna, dan untuk menemukan Allah dalam ketersesatanku (baca aku dan hijrah). aku juga mengingat masa aku ditakdirkan untuk menempuh pendidikan di psikologi.
Waktu itu aku berpikir bahwa, aku tidak punya alasan untuk “mengggebu” dalam menuntut ilmu di psikologi ini. Aku tidak minat. Tapi aku masih punya alasan untuk bertanggung jawab dalam menjalankan amanah ini, sebagai tanda rasa syukur ku pada-Nya 
            Sudut pandang yang sederhana untuk menyikapi suatu babak kehidupan, tapi energinya luar biasa dan aku juga dihujani berkah dan rahmat-Nya. Kemudahan demi kemudahan atas izin-Nya selalu menyertai langkahku. Speechless rasanya untuk menceritakan ini, tapi let me tell you reader , merupakan kebesaran Allah aku bisa sampai di titik perjalanan yang sekarang ini dengan sudah dua tahun berturut-turut memboyong jatah mendapat beasiswa dengan jalur prestasi ! subhanallah..  

Rasulullah saw. bersabda, "jika engkau beramal untuk dunia maka engkau akan mendapatkan dunia, tetapi jika engkau beramak untuk akhirat maka engkau akan mendapatkan akhirat dan juga dunia"
 
maka, aku tidak punya alasan lagi selain untuk menyempurnakan amanah sebagai mahasiswa psikologi dalam setahun terakhir berkuliah ini. Mengenai hasil akhir? Biarlah Allah yang mengatur, aku percayakan pada-Nya. Dalam perjalanan untuk menyempurnakan amanah ini, tidak cukup hanya belajar dengan rajin dan cerdas saja. Tapi juga harus ada perbaikan dalam sisi aqidah dan ibadah. aqidah, aku berusaha lebih yakin lagi, haqqul yaqin dengan janji-janji dan pertolongan Allah. Intensitas dan kualitas ibadah juga aku perbaiki, salat sunnah mulai aku terbarkan di sela-sela kesibukan yang ada. Tidak tetinggal juga, seperti apa yang sudah diingatkan hari ini oleh Allah, sedekah..
Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa padahal engkau sendiri tak mengubah dirimu dari kebiasaan mu? Kita banyak meminta, banyak berharap kepada Allah. Tapi sibuknya meminta meminta kadang membuat kita tak sempat menilai diri sendiri. Padahal kalau kita meminta, akan berakibat kita mengubah diri, dan Allah akan memberi apa yang kita minta..
-Ibnu Ath-Tha’ilah-

Rasulullah saw. bersabda, "sesungguhnya amal itu ditinjau dari niatnya, dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang ia niatkan"
           
            Terlalu dalam aku menyelami dunia internalku, sampai tidak menyadari kalau aku sedang menunggu dijemput mama. kemudian tidak lama, mobil mama sudah terlihat dari kejauhan. Di mobil, aku bercerita kepada mama mengenai kejadian dalam ujian hari ini dan pembicaraan aku dengan ibu dosen. Nampaknya mama lebih tertarik menanggapi cerita aku dengan ibu dosen.
Mama              :”ya memang  sayang kalau cerdas tapi cuma kuliah aja dan ngga di aktualisasikan ke bidang lain”
Irsa                   :”iya siih”
Mama              :”coba main ke kantornya kang Tauhid gih, siapa tau ada kesempatan buat aktualisasi diri. Feeling mama, irsa ada “tempat” untuk menulis..

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 7 Juni 2012
Irsa Ikramina

Sunday, May 13, 2012

Aku dan perjalanan filosofisku


            Bandung sedang panas-panasnya sekarang. Terlihat begitu terik dari dalam ruangan ketika  menatap keluar, orang-orang menyipitkan matanya karena cahaya matahari yang menyilakukan dan cepatnya langkah orang-orang untuk menghindari rasa panas yang menusuk. Tidak biasanya Bandung punya summer!
            Panasnya Bandung saat ini mengingatkanku dengan “perjalanan kecil” ku..
            Aku ingat pada masa-masa kelas 3 SMA. dimana seluruh energi psikis dan fisik habis-habisan aku kerahkan. Tidak hanya untuk kelulusan sekolah, SNMPTN, dan juga pendidikan non-formal yang aku tempuh. Tapi juga perjalanan dalam hati ku untuk mencari makna.
            Aku ingat, jadwal bimbingan belajarku adalah hari selasa dan kamis. Lokasi bimbingan belajar itu tidak jauh dari sekolahku, namun cukup jauh kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki. Bisa saja pada saat itu aku menebeng teman untuk sampai ke tempat bimbingan belajar. Tapi aku memilih berjalan, bersama hati dan pikiranku.
            Aku menggenakan seragam sekolah putih abu dan jacket andalan ku. sepatu converse hitamku yang sangat dekil, membentuk jejak langkah ku. Tidak lupa aku membawa buku ukuran A4 yang tebal berisi soal-soal dari bimbingan belajar itu dan juga tas ransel warna biru ku.
            Pukul 14.30 sekolah ku baru usai, pada jam itu matahari masih sangat menyengat dan membuat lemas. Tapi aku dengan kuat berjalan kaki ke tempat bimbingan belajar. Ini adalah perjalanan renunganku. Aku banyak merenungi tentang kehidupan ini dalam perjalanan itu. Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku melakukan semua ini? Akan kemana aku? Apa maksud Tuhan dengan semua ini? Ya, ini menjadi sebuah perjalanan paling filosofis dalam hidupku. itu sebabnya perjalanan menuju tempat bimbingan belajar menjadi tidak lelah secara psikis bagiku. Meski kadang kaki dan pundak ku terasa pegal.
            Ada banyak makna hidup yang aku temukan dalam perjalanan itu. Aku akan bercerita salah satunya saja kali ini..
            Siang itu. Di bawah panasnya matahari. aku sedang berjalan kaki menuju tempat bimbingan belajar. Meski belum terlambat, aku mempercepat langkah kaki ku, nafas ku jadi  tersengal-sengal, tenggorokanku menjadi kering, dan jantung ku berdegup dengan cepat. Aku pikir, pada saat itu jantungku berdegup dengan cepat bukan hanya karena langkah kaki yang aku percepat tapi karena ada suatu hal yang ingin aku sampaikan kepada seseorang sesampainya di tempat bimbel. Sesegera mungkin!  
            Sesampainya di tempat bimbel, aku langsung menuju kelas ku. Aku menyimpan tas dan bukuku di atas kursi. Kursi itu berada di pojok bagian belakang kelas. Tempat aku biasa duduk. Memang sudah menjadi kebiasaan ku sejak di bangku sekolah untuk memilih tempat duduk di belakang. Bukan berarti ini menunjukkan self esteem yang rendah, lagipula aku aktif menjawab pertanyaan guru. Hanya saja, aku bisa lebih “melihat” keadaan kelas dari “belakang”.
            Setelah aku  menyimpan tasku, aku berdiam sejenak untuk mengatur nafasku, merasakan hembusan angin yang sejuk dari AC kelas, dan membuka jacket ku. Belum ada siapa-siapa di kelasku. Aku memang menjadi langganan datang paling pertama di kelas ini. Aku mengambil tempat minum dari dalam tas ransel dan menuju ke bagian belakang dari tempat bimbel. Disana aku segera mengisi tempat minum dengan air dari dispenser untuk aku teguk. Sambil aku menikmati setiap tegukkan air yang masuk ke tenggorokanku, aku melirik ke arah ruang guru. “yak! Orang yang ingin aku temui sudah datang!”, ujarku dalam hati.
            Aku masuk ke dalam ruang guru, menghampiri seorang pria yang sedang menonton TV sambil menikmati secangkir kopi. “baru dateng pak?”, tanya ku sambil tersenyum. Pria itu dengan kalem dan singkatnya menjawab, “iyap”.
            Ya, dia adalah salah satu guru yang mengajar di bimbingan belajar tersebut. Pria berusia 43 tahun itu mengajar geografi di beberapa sekolah swasta di Bandung. Pak guru yang satu ini sudah biasa menjadi alat perekamku, ketika aku bercerita mengenai banyak hal. Apalagi pada saat itu aku belum mengenal “menulis”. Dia tidak banyak bicara, tapi aku tahu dia active listening ketika aku bercerita.
            Tanpa basa-basi aku yang baru duduk di depannya, langsung saja bercerita mengenai apa yang aku dapat dari “perjalanan kecil ku, perjalanan filosofisku”
            “pak, saya baru saja menemukan salah satu makna kehidupan. Mungkin saya memang dididik di sekolah Islam sebelum hijrah ke Bandung ini. Sehingga kata-kata bersyukur sudah tidak asing lagi bagi saya. Tapi ternyata saya baru menemukan “syukur” yang sesunggunya sekarang ini !”
            “hmmmm....”, hanya itu yang hanya keluar dari mulutnya disertai dengan anggukan kepala.
Just in that way he showed his response, but it made me feel better and wanted to tell more about my stories to him
            “iya pak, dan saya betul-betul merasakan rasa syukur yang hakiki itu. Kalo saya pikir ya pak, rasa syukur itu tidak hanya disampaikan secara eksplisit atau lisan. Tapi juga seharusnya secara implisit baik dari hati maupun perbuatan. Ya, mungkin orang bingung ngeliat saya yang sok sibuk sekolah dan les ini itu tanpa mau mabal, tapi bagi saya, untuk bagian hidup saya sekarang ini. Itu menunjukkan rasa syukur saya sama Allah. Paling tidak, saya sudah berusaha amanah dengan fasilitas yang diberikan orang tua terhadap saya sebagai anak. itu juga salah satu ungkapan rasa syukur, alhasil saya ngga merasa berat menjalani ini. Bahagia. So, saya uda berhasil mencapai makna hidup bersyukur kan pak?”, kataku sambil tersenyum bangga.
            Lalu iya melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, namun dengan senyumannya kali ini.
            Ritual ini aku jalani selama satu tahun penuh, sebetulnya tidak Cuma dia yang mendengarkan ku dan asik untuk diajak berbicara. ada beberapa guru lainnya. hanya saja, dialah yang mengikuti rangkaian perjalanan yang aku tempuh. Hingga menjelang SNMPTN, pada saat aku hanya murid yang diajar olehnya ketika tutorial, tidak ada murid lain. Hanya aku dengannya yang sampai pada akhir babak perjalanan kecilku, perjalanan filosofisku.
“pak, bagi saya sudah tidak terlalu penting bagaimana hasilnya. Fikom Unpad dan lolos SNMPTN memang yang saya perjuangkan selama satu tahun ini. Tapi hasil menjadi tidak terlalu penting lagi bagi saya, proses telah mengajari saya banyak hal, proses telah mendewasakan saya, sehingga proses menjadi lebih penting dari hasil. Toh, saya tidak bisa ngotot kalau ternyata Psikologi Unisba adalah yang terbaik menurut Allah. Thanks anyway Sir, you’ve saved my life for this last year. Please keep in touch, I still need your advice in the future or even when I’ll  have been at highest achievement of my life. i won’t forget this”

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 13 Mei 2012
Irsa Ikramina

Wednesday, May 2, 2012

Aku, Tuckman, dan Jensen


            Belakangan ini aku malas datang ke kampus, selain memang kejenuhan yang telah memuncak, mungkin juga karena kehidupan di kampus itu ‘statis’. Nampak tidak ada perbedaan setiap harinya karena dikejar deadline tugas. Tugas perkuliahan betul-betul menuntut “banyak”, selain dari kemampuan mengatur waktu, mahasiswa juga dituntut untuk dapat bekerjasama dengan orang lain karena banyaknya tugas yang dibentuk dalam kelompok.
Suatu hari di kelas, pada saat pembagian kelompok untuk suatu tugas mata kuliah...
Mahasiswa 1: “woy, ini ada tiga orang belum dapet kelompok. Dikemanain?? Coba ada yang mau gabung kesini ngga? Baru tiga orang. Ato ada kelompok yang dipecah aja ni, biar tiga orang ini dapet kelompok.” Teriak salah satu mahasiswa yang sedang menuliskan pembagian kelompok di white board.  
Mahasiswa sekelas : *sibuk mengobrol satu sama lain* aku lihat ada yang emosi, ada yang memasang wajah miris, ada juga yang ikut memberikan pendapat untuk pembagian kelompok.
Anis : “ ih, ya ampun ! kok gini amet sih psikologi. Watir tau! Bagi kelompok aja uda hampir sejam !” kata Anis dengan kesal sambil melihat jam tangan, dan sedikit melirik ke arah tiga orang yang terlantar tersebut dengan tatapan tidak tega.
Irsa : “iya, ngga banget emang. Kekanak-kanakkan. Eh tapi ngga juga sih nis, wajar.” Kataku dengan nada bicara yang semakin lambat sembari berpikir untuk jawaban atas tragedi yang mengenaskan ini.
            well, pada dasarnya tragedi mengenaskan ini bisa dijawab dengan teori si Tuckman Jensen. Bagaimanapun, enam semester bukanlah waktu yang sebentar untuk saling mengenal satu sama lain baik dari segi hubungan interpersonal maupun segi kualitas seseorang dalam task nya. Deadline tugas yang “menghantui” mahasiswa dan juga kesulitan tugas yang tinggi, disertai dengan pengalaman kerja kelompok bersama mahasiswa lainnya telah memangkas tahapan forming dan storming dalam tahapan perkembangan kelompok. Artinya, wajar saja kalau mahasiswa memilih kelompok “yang itu-itu lagi” karena mereka tahu bahwa ketika dihadapkan tugas, mereka hanya akan melampaui tahap norming (kesepakatan pembagian tugas) dan performing (fokus mengerjakan tugas). Hal ini akan mempersingkat waktu ditengah deadline tugas yang menekan, untuk mencapai efektivitas dalam pengerjaan tugas dan menyelesaikan hambatan yang ada. Walaupun, aku masih sedikit meragukan hal ini. Dimana memang mahasiswa psikologi selain dari memiliki nuansa need of affiliation yang tinggi, mereka juga sudah punya peer group nya masing-masing. Sehingga ini “nampak” lebih berat pada aspek hubungan interpersonal-nya daripada task nya. hubungan interpersonal dalam hal ini, bahwa ketika kelompok langsung memasuki tahap norming, langsung membangun kohesi dan membangun hubungan peran yang fungsional (performing)
Ada satu lagi mungkin yang dapat menjawab, walaupun aku lupa-lupa ingat dengan teori nya, semoga ini tidak melenceng. Teori equity berlaku untuk kelompok juga kah? Bagaimanapun, sejauh yang aku ingat dan aku pahami anggota kelompok akan tetap memperhatikan dan memberi reward pada anggota kelompok yang memperlakukan yang lain secara adil/seimbang (equitable) dan umumnya menghukum anggota yang memperlakukan orang lain secara adil/seimbang (inequitable). Sehingga ini menjadi masuk akal kalau ada orang yang tersisihkan atau tidak kebagian kelompok. Aku pikir, kelompok manapun tidak mengharapkan ketidakseimbangan dengan hanya memasukkan anggota kelompok yang kerjanya hanya nge-print, atau mengumpulkan ke meja dosen saja. Istilah kasarnya, “nebeng nama doang”. Apalagi golongan orang seperti ini sejauh pengamatanku, mereka juga ‘sedikit bermasalah’ dengan relasi interpersonalnya. Artinya diluar tugas atau kerja kelompok, mereka juga sulit diterima di mayoritas peer group yang ada.
Sometimes, life is not just about being the best for yourselves, but it might be the most suitable person in society.
You don’t have to be somebody else, all you have to do is being adjustable.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 3 Mei 2012
Irsa Ikramina

Monday, April 23, 2012

Aku , personal space, dan privacy

Semalam, sekitar pukul 20.30, aku terbangun dari tidur. Aku keluar kamar dan berjalan ke arah meja makan, lalu aku mendengar mama di telepon sedang berbicara dengan seseorang, “eh uda pernah baca blog nya irsa belum?”. Langsung saja mataku melotot dan mengatakan sambil berbisik, “PSSSSTTT ! jangan di promosiin!”.
Mungkin karena kemarin salah seorang teman mama mengatakan kalau sebaiknya blog ini dibukukan saja dan kelak aku harus menulis buku. Jadi mama dengan senang hati meminta feedback dari orang lain. Padahal, pada saat itu aku mengizinkannya karena sudah melalui pertimbangan bahwa teman mama itu bisa memberi feedback yang membangun dan tidak mengedepankan “rasa ingin tahu yang usil”. Jadi, aku belum bisa untuk mempromosikan ini secara blak-blakan. Apalagi, ini adalah perjalanan hidupku..
Aku tidak punya keberanian yang cukup untuk membagikan kisahku pada banyak orang, telalu banyak cerita yang bermuatan emosi, terlalu banyak perjalanan disalahpahami, dan.. pengalaman ditinggalkan dengan membawa separuh rahasia hidupku...
aku hanya percaya dengan “menulis” karena aku bisa begitu “lepas”
kini aku hanya percaya pada “menulis”, karena mengingat aku pernah mempercayai seseorang, aku bagikan kisah hidupku padanya, lalu ia pergi.. “menghilang”.. tanpa alasan yang  dapat aku pahami dengan sederhana.
aku tidak menyalahkannya, hanya saja butuh waktu bagiku untuk bisa memahami dan adjust dengan semua ini. Meskipun begitu, jika bertemu dan berinteraksi dengannya, aku berusaha seolah semua “baik-baik saja”. Dan ini bukan hal yang mudah, butuh energi psikis yang besar untuk dapat ber-acting seperti ini.
Selalu ada helaan nafas berat setelah ber-acting. Yaa.. hingga kini..
aku tahu, ini terdengar “aneh”, terlebih bagi orang yang ekstovert dan terbuka mengenai banyak hal pada banyak orang. Tapi hal ini bukan hal yang sedehana bagi introvert seperti ku. Aku tidak seperti ekstrovert yang dengan mudah bisa bercerita mengenai banyak hal tentang dirinya kepada orang lain, aku tidak seperti ekstrovert yang memiliki personal space yang lebih kecil. Tidak akan ada aku dan duniaku, tanpa personal space yang besar. aku yang begitu “diam” berusaha mengontrol warna-warna akromatik yang bergejolak di dalam diriku, aku yang penuh “diplomasi” untuk melindungi diriku, dan aku yang hanya “tersenyum” sebagai respon yang penuh makna.
Belum lagi aku adalah orang yang menjunjung tinggi privacy. Aku tidak suka apabila kesendirianku diganggu. Tanpa privacy yang aku junjung tinggi, maka tidak akan ada penghayatanku. Sendiri, maka bukan berarti kesepian. aku suka untuk sendiri di kamarku, hanya aku dan diriku, mungkin ditemani beberapa buku. Aku tidak suka keramaian dan aku hanya senang mengobrol dengan orang-orang tertentu saja. Selain itu, mungkin hanya segelintir orang yang tahu mengenai aku “yang sebenarnya”. aku cenderung merahasiakan jati diri dan tidak mengungkapkan diri terlalu banyak kepada orang lain.

Personal space and privacy make me who I am
It is the way I live
If those things did not exist, it wouldn’t be existence of  aku, duniaku, dan penghayatanku.



Bandung. 2 Mei 2012
Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Irsa Ikramina 

Monday, April 16, 2012

aku dan surat untuk mama


           aku sengaja menuliskan sepucuk surat untuk mama, yang sebenarnya ingin aku berikan beberapa hari lagi pada saat ulang tahun mama. tapi, karena malamnya aku tau aku akan disibukkan oleh tugas praktikum, maka aku sempatkan untuk menuliskannya hari ini.

Untuk mama tercinta,
Di hari ulang tahun mama ini, aku tidak bisa memberikan apa-apa selain hasil dari aku mengajar yang mungkin tidak seberapa. Tapi mudah-mudahan cukup untuk membuat mama tersenyum, untuk sedikit melepaskan beban yang memberatkan hati mama.
Hari ini usia mama berkurang, namun tidak sedikitpun mengurangi kecantikkan lahir dan batin mama dan juga ketegaran mama. setiap mama berulang tahun, maka bertambahlah kebijaksanaan mama dan juga kedewasaan mama. mudah-mudahan, mama diberikan kesehatan selalu dan diberikan usia yang berkah. Aku ingin, kita bisa menikmati masa “hijrah” kita bersama. Setelah perjalanan panjang yang telah kita perjuangkan. Amin
Mungkin, aku tidak begitu ekspresif untuk dapat mengungkapkan emosi dan afeksi. Tapi aku harap, melalui tulisan ini, bisa mewakili dan bisa tersampaikan segala hal yang terpendam dalam diriku. 
Bagiku, mama tidak hanya sekedar orang tua. Tapi juga menjadi modelling bagiku. Sepanjang aku menjadi anak mama, maka selama itu juga aku menjadi saksi ketegaran mama dalam kerasnya kehidupan. mama pernah di fitnah dan dihinakan, tapi mama kemudian bangkit lagi seolah mama tidak mempedulikan orang-orang yang sudah menghinakan mama. mama membuktikan kepada mereka bahwa perbuatan mereka tidak cukup untuk bisa menjatuhkan mama. mama pernah diuji oleh kehilangan, kehilangan yang aku tahu tidak semua orang akan sanggup mengihklaskannya, tapi mama mampu melaluinya. Sepanjang hidup, mama lah satu-satunya orang yang aku jadikan panutan dalam kemampuan adjust terhadap kehilangan yang begitu beratnya. Mama juga pernah “dijajah” hingga mama sampai pada titik terendah kehidupan mama, tidak dimanusiakan sebagai manusia. Tapi kemudian ketika ada celah, mama memperjuangkan kebebasan yang menjadi hak setiap manusia. Aku ingat kata mama bahwa “kebebasan harus diperjuangkan”. mama juga dihadapkan oleh perjalanan yang gersang, yang begitu sulit. Tapi mama tetap berjuang, seolah mama sangat yakin akan menemukan air zamzam di tengah gurun.
Mama adalah gambaran Siti Hajar masa kini bagiku. Mama tidak mengenal lelah dan tetap berdiri pada keyakinannya bahwa akan menemukan air zamzam diantara shafa dan marwa (perjalanan panjang ini). Aku bersyukur, bahkan sangat-sangat bersyukur bahwa aku yang ditakdirkan untuk dilahirkan dari rahim mama. kalaupun bukan aku, maka aku yakin siapapun yang menjadi anak mama akan begitu bersyukur dilahirkan dari ibu seperti mama dan tidak punya alasan apapun untuk tidak bertanggung jawab memuliakan dan membahagiakan mama. 
Sesuai dengan nama belakang mama, amalia. Yang dalam bahasa latin berarti pekerja keras. Dan juga sifat baik mama lainnya, aku ingin semua predisposisi itu bisa diturunkan kelak pada keturunanku juga. Aku ingin dunia ini diisi dengan orang-orang yang penuh ketegaran seperti mama. maka dunia ini akan bersinar lebih terang, tidak ada kegelapan dan keputusasaan.  

Terlepas dari segala kesulitan dan ujian hidup yang aku hadapi bersama mama, satu hal yang paling disyukuri olehku adalah kehadiran mama dalam kehidupanku.
Terimakasih ya Allah
Selamat ulang tahun mama.


Hidup ini terlalu singkat,
Maka nikmatilah kebersaman bersama orang-orang yang dicintai
Sebab, kita tidak pernah tahu.
Sampai berapa lama kesempatan itu diberikan oleh Tuhan.


Anakmu,
Irsa Ikramina
Bandung, 16 April 2012

Thursday, April 5, 2012

Aku dan perjalanan pendidikan

             Kini aku telah sampai pada bangku perkuliahan semester 6, telah jauh perjalanan pendidikan ku tempuh. telah banyak ilmu yang kudapat dan telah banyak kutemui para pengajar. Mengingat ke belakang, aku menyadari bahwa, tidak semua tempat untuk menuntut ilmu itu “nyaman” bagiku dan tidak semua pengajar dapat dikatakan “guru” olehku.
            Ketika aku menjadi murid selama bersekolah, aku hanya merasa sebagai seseorang yang harus ditertibkan, yang harus dididik, dan yang harus dihukum ketika melakukan kesalahan.  Hingga ketika aku banyak menempuh pendidikan non-formal di luar sekolah, aku malah merasa lebih “humanis”. Aku tidak hanya bisa bertanya mengenai materi yang dipelajari, namun juga segala hal mengenai kehidupan. Murid dan guru seperti tidak ada pembatas, aku merasa “lepas” dalam belajar.
            Dan ketika aku memasuki perkuliahan, aku merasa seperti “input” yang merupakan bagian dari transformasi agar menjadi output yang memuaskan dalam suatu sistem. Memang tidak salah, toh aku juga akan mendapat keuntungannya jika setelah lulus aku menjadi “terpakai” dalam ketatnya persaingan dunia pekerjaan. Hanya saja, aku menjadi merasa tidak diperlakukan “humanis”. Begitu banyak nilai dan potensi manusia yang menjadi terabaikan. Dalam perjalanan panjang pendidikan yang telah ku tempuh, aku merasa sebagai “makhluk behavioristik”. Penuh aturan, penuh sanksi, dan penuh tuntutan.
            Begitu sulit juga mencari pengajar yang bisa aku katakan sebagai “guru”, hanya segelintir orang mungkin yang dapat aku temui. Kebanyakan mereka adalah guru-guru yang berjasa dalam pondidikan non-formal. Namun untuk saat ini, aku teringat sebuah nama yang bisa aku katakan sebagai “guru” yang begitu humanistik, siapa yang tidak mengenal Tauhid Nur Azhar?
            Pertama kali aku bertemu beliau adalah di semester satu mata kuliah biopsikologi. Aku yang berlatar belakang anak IPS, tentu saja suda merasa “jiper” dengan mata kuliah ini. Terlebih, sebagian besar teman-teman berasal dari IPA. Lalu aku mengungkapkan “kejiperan” ku kepada kang Tauhid. “kang, saya gak yakin bisa mata kuliah ini, ini IPA banget, saya IPS.” Kang Tauhid dengan tersenyum berusaha menenangkan, “iya memang, tapi tenang aja. Pada dasarnya ini hanya bla... blaa... “ kang Tauhid meneruskan dengan penjelasannya untuk menenangkan.
            Nampaknya, beliau benar-benar menghargai jerih payah mahasiswa, aku tidak menyangka keputusasaan yang aku sampaikan padanya dengan usaha yang aku pikir belum cukup baik bagiku, menghasilkan nilai tertinggi di kelas ketika UTS dan nilai A yang tecetak di transkrip nilai pada mata kuliah ini. Semester dua, aku diajar beliau lagi. Kali ini mata kuliahnya faal. Tapi karena aku benar-benar diperlakukan secara humanistik, aku sudah “tidak takut” lagi. Agar lebih paham, terhadap tugas dan materinya. Sambil menyambung silaturrahim, aku menelpon temanku yang berkuliah di kedokteran trisakti. “eh, bantuin gue dong. Coba lu jelasin tentang syaraf ke gue supaya gue bisa ngerti”. Temanku yang memang helpful, menjelaskan dengan sangat sistematis dan mudah dimengerti bagi aku yang begitu “IPS”.
            Alhasil, ketika UTS telah selesai. Kang Tauhid menyampaikan, “ya, UTS telah saya periksa, dan sudah terpampang di fakultas. Seperti yang kalian sudah lihat, nilai tertinggi diperoleh oleh irsa. Karena penjelasannya yang sangat sistematis. Ketika irsa menjawab dengan sistematis, berarti irsa juga sudah paham betul materinya.” Aku merasa, “terangkat” dan merasa lebih “humanis”. Padahal ikhtiarku yang tidak seberapa begitu dihargainya di mata beliau. setelah kelas bubar, aku menghampirinya, “kang, itu sih saya paham karena diajarin temen anak kedokteran”. Dia menjawab sambil terseyum, “ya ngga papa kan? Dengan begitu irsa juga sudah ada usaha, dan juga memprosesnya melalui otak irsa. Hingga tertulis sebagai jawaban irsa”
aku menemukan “guru”
aku menemukan “humanistik”
di dalam perjalanan pendidikan yang gersang ini

hingga saat ini, ketika bertemu di kampus. ia selalu dengan gayanya yang “merendah” padahal kita semua tahu. Ilmu yang dimilikinya begitu “tinggi”. Itu sebabnya sosok beliau menjadi banyak disukai. Wajar saja kalau aku sedikit banyak menjadikannya modelling. Satu hal yang membuatnya “original” dimataku adalah karena kemampuannya memadukan ilmu pengetahuan yang tidak hanya vertikal saja (kepada Tuhan) atau hanya horizontal saja (Sesama manusia). Ya, ia mampu menguak kebesaran Allah di dalam ilmu pengetahuan yang ia kuasai.
Sulit bagiku menemukan “guru” dan juga menemukan “humanistik”. Sejak SMP, ketika di tanya siapapun “kalo punya uang banyak, mau apa sa?” aku selalu menjawab, “study abroad”. Aku selalu “melihat” disana banyak “guru” disana sangat “humanistik”. Dan itu yang tertanam dalam diriku hingga saat ini. Mungkin tidak perlu aku jelaskan lagi mengenai hal ini, bahkan hal ini terlalu mudah dilihat. Siapa yang tidak tahu ajang pencarian bakat menyanyi yang tidak hanya ada di Amerika tapi juga Indonesia. Aku “melihat” bagaimana komentar dan cara juri memperlakukan kontestan itu sangat jauh berbeda. Itu sebabnya semenjak aku berlangganan TV kabel, aku tidak mau menyentuh lagi channel Indonesia. Karena aku hanya mau melihat “humanistik”.


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 6 April 2012
Irsa Ikramina