aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Saturday, July 9, 2016

salik

manusia adakalanya tersesat karena kesempitan. tapi, manusia juga bisa tersesat karena kelapangan. mungkin manusia perlu ilmu, agar tidak terombang ambing kelapangan dan kesempitan hidup. kadang, mereka tahu, pegangan yang pasti hanyalah Tuhan. tapi untuk selalu dapat dekat dan berpegang kepada Tuhan manusia perlu ilmu.

aku mencari, ilmu apa dan siapa yang bisa ajarkan?

dengan kondisi dunia saat ini yang dilanda budaya materialisme dan hedonisme. nampaknya tidak mungkin aku mencari ilmu yang diwarisi pada masa ini. aku percaya, bahwa ilmu adalah warisan yang luar biasa, dapat menembus lintas waktu jauh ke depan. tapi aku harus mencari masa dimana ilmu yang diperlukan ini lahir pada kondisi yang serupa seperti masa saat ini. karena disitulah, aku yakin lahir ilmu yang juga menjawab pencarian penghayatan spiritual ditengah kondisi sosial yang cenderung semakin menjauhi nilai dan akhlak agama. 

ditemukan. ada masa dimana budaya materialisme juga melanda generasi umat Islam yang pertama, karena kemakmuran dunia Islam pada era Umayyah dan Abbasiyah yang menggantikan Imperium Romawi dan Rusia.

pada era itu, tasawuf muncul ke permukaan. tapi bukan sufi yang akan menjadi sumber ilmu ku, tapi adalah ahli hikmah. karena hikmah pada era itu sifatnya sangat kental dengan tasawuf. orang-orang inilah yang lebih banyak diam, tersenyum dan mendengarkan permasalahan orang lain untuk memberikan solusi dan pandangan yang bijaksana.

hikmah itu sendiri berarti adalah sisi baik dari sesuatu, meski pada masa itu disebutnya hikam yang sebetulnya artinya juga sama saja, hanya jamaknya hikmah dalam bahasa arab. 

untuk menguak hikmah dalam setiap babak kehidupan diperlukan kemampuan interpretasi yang mendalam, karena tidak hanya melibatkan intelektual tapi juga kebersihan hati dan kedalaman tauhid. itu sebabnya, ini adalah salah satu ilmu yang tingkatannya paling sulit untuk dipelajari (bagi ku). selain memerlukan pemahaman yang mendalam, mengamalkannya pun tidak mudah. 

mempelajari Al Hikam, berarti juga menyadari eksistensi diri sebagai seorang salik, yaitu peniti jalan menuju Allah.

eksistesi memang soal makna dan pilihan, pilihan untuk memaknakan dari sisi yang baik atau tidak. karena itulah yang akan menentukan perjalanan sebagai seorang salik untuk menuju kepada Tuhan. menguak dan memahami hikmah, juga adalah eksistensi. dimana kelapangan dan kesempitan hanya sebagai sarana untuk selalu memaknakan dan menguak hikmah, agar selalu dekat dengan Tuhan. 


Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurusi duniamu. 
Urusan yang telah diatur Allah tak perlu kau sibuk
ikut campur

Ibnu Atha'illah al-Iskandari


Jangan mengadukan musibah kepada selain Allah. Karena 
Allah semata yang menurunkannya. Bagaimana mungkin 
selain Allah dapat mengangkat musibah yang telah 
ditetapkan-Nya ? Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa
 mengangkat musibah dari dirinya sendiri bisa mengangkat 
musibah orang lain ?

Ibnu Atha'illah al-Iskandari



Jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu, 
setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu putus asa. 
karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya, 
bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang diinginkan-Nya, 
bukan pada waktu yang kauinginkan.

Ibnu Atha'illah al-Iskandari 


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 10 Juli 2016
Irsa Ikramina

Wednesday, July 6, 2016

ah, itu mungkin Kierkegaard. bukan aku.

bagi budak kapitalis seperti ku, aku selalu mencari dimensi ruang dan waktu dalam hidup dimana aku bisa menyadari eksistensi seutuhnya.

bergerak dalam roda kapitalis, itu berarti menyempitkan ruang eksistensi dalam diri, memasung perkembangan eksistensi yang sifatnya bebas. padahal, menyadari eksistensi adalah tugas manusia dalam hidup.

aku tidak memilih hidup menjadi budak kapitalis, yang artinya aku memang memilih menjadi budak kapitalis. bahwa dalam hidup tidak memilih pun adalah suatu pilihan. maka, aku harus bertanggung jawab pada pilihan itu, dengan menyadari penuh kebebasan untuk memberi makna pada pilihan itu. 

apakah aku hidup pada masyarakat kapitalis atau komunis sekalipun, aku percaya bahwa aku selalu bisa menemukan kebebasan yang tidak meniadakan kemerdekaan manusia untuk tampil autentik, yaitu adalah hubungan manusia dengan Tuhan.

eksistensialis religius ? ah, itu mungkin Kierkegaard. bukan aku. 

aku ya aku, yang selalu mencari ruang kebebasan berkesistensi, yang selalu ingin berdialog dengan Tuhan karena Tuhan adalah pemberi makna pada eksistensi manusia. 

bagiku, kesia-siaan hidup bukan hanya soal menyiakan waktu, tapi juga menyiakan kesadaran untuk bebas menyelami dunia subjektif, memahami dan memberi makna pada pilihan hidup.


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Irsa Ikramina 
7 Juli 2016

Wednesday, June 8, 2016

When you come out of the storm, you won’t be the same person who walked in

"Silahkan, mau duduk dimana ?"

"saya cek ke lantai atas dulu boleh ? saya sudah janji dengan seorang teman"

"silahkan mbak"

Suara langkah kaki ku ketika naik tangga tidak bisa dibendung lagi. padahal aku sudah berusaha untuk meringankan langkah kaki ku. maklum saja, design interior cafe ini memang dominan kayu. sebetulnya tempat ngopi ini setiap hari aku lalui ketika berangkat ke kantor, hanya saja baru kali ini aku mampir kesini. 

sesampainya di lantai atas, aku meningkatkan konsentrasi untuk mencari wajah yang kukenal. tapi ternyata tidak sulit, bukan karena wajahnya tidak berubah. tentu saja wajahnya berubah karena sudah lama tak jumpa. tidak sulit menemukan wajahnya karena memang di lantai atas itu tempatnya tidak luas, lagipula hanya ada dua orang saja termasuk dirinya di lantai atas itu.

aku segera menghampirinya, 

"hei ! sudah lama ?" sapa ku dengan wajah gembira sambil menarik kursi untuk menyimpan tas ku dan untuk duduk

"kamu gak mau pesan dulu?" jawabnya dengan datar. sangat berjarak, rasional, dan.. sibuk dengan dunianya. ya, ia sedang sibuk dengan laptop dan smartphonenya.

"hmm, ok. aku pesan minum dulu ke bawah ya"

"Eh, aku titip tolong pesankan air putih ya"

"iya teh" aku memanggilnya dengan 'teh', karena ia adalah senior ku ketika di kampus dulu

setelah aku selesai pesan minum, aku kembali ke lantai atas dan duduk berhadapan dengannya. ada momen hening sejenak. aku bingung harus memulai pembicaraan bagaimana. karena dia sibuk dengan laptop dan smartphonennya.

"jadi ? ada cerita apa ? kamu kerja dimana sekarang ?" akhirnya dia membuka pembicaraan.

"oh, jadi aku dulu ya yang cerita ?" 

aku agak kaget sebetulnya. aku sedang tidak ingin bercerita tentang karir atau hidup ku, aku hanya ingin membicarakan topik menarik saja. maklum, mumpung bertemu teman satu species yang sama-sama psikologi. lagipula, aku mengatur pertemuan ini memang untuk diskusi banyak hal, bukan karena kebutuhan untuk curhat atau ingin didengarkan. akan tetapi, aku mencoba bercerita dengan singkat hanya untuk sekedar menjawab pertanyaannya. 

"aku kerja jadi HRD, di suatu perusahaan otomotif. ya pekerjannya ya begitu-begitu saja"

keheningan terjadi. aku berusaha melanjutkan cerita lagi hanya sekedar untuk memecah keheningan.

"ya perusahaannya masih baru kok. jadi manajemen organisasinya belum rapi. kadang aku rangkap jadi auditor"

"hmmm gitu..terus ?" responnya singkat sambil sebentar saja melihat wajah ku lalu melihat layar laptop lagi

"hmm apa ya. ya gitu-gitu aja sih. kalau teteh S2 nya masih ?" aku menyerah. ganti arah saja, dialah yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ku

"ya.. waktu aku kemarin sakit dan juga ada masalah keluarga, aku sempat cuti, tapi aku langsung kerja. jadi belum dilanjutkan lagi kuliahnya" dari wajahnya ada keengganan menjawab karena mungkin tidak nyaman dengan pertanyaan ku.

hening lagi..

"eh aku hanya bisa sampai jam 12.30 ya. aku mau lanjut ketemu geng kuliah ku"

aku melihat jam tangan. sekitar 35 menit lagi waktu ku untuk bercakap dengannya. jujur saja, ini agak aneh. dulu ia tidak seperti ini. ini seperti adjust dengan orang baru lagi. bagiku tak apa, agar pertemuan ini manfaat. aku harus memutar otak dan berusaha memahami perilakunya.

"it's ok. aku juga akan ke tempat kak Ammy kok setelah ini. teteh ingat kan ? subjek skripsi aku." 

"ooh iya"

hening lagi...

"kenapa teh ?" aku seperti mendengar dia berbicara

"oh enggak, aku lagi bicara sama handphone aku"

"open line" begitu ia memerintahkan secara lisan untuk smartphonenya membuka aplikasi LINE secara otomatis

"wow, pakai voice teh ?"

"ya, ngetik itu membutuhkan waktu yang lebih lama. kita harus hemat waktu"

"hmm, terdengar sangat efektif dan efisien" kataku sambil menganalisa

twelve o'clock... suara itu muncul dari handphone-nya. sungguh, seperti ujian mata kuliah  saja rasanya. padahal yang diharapkan adalah percakapan rileks antar teman hingga lupa waktu

"wah, pakai pengingat waktu teh?"

"ya, aku suka pakai ini. kalau kerjaan ku lagi dikejar deadline. aku suka pasang target. misalnya dalam waktu 3 jam aku harus bisa menyelesaikan beberapa tulisan" 

pekerjaannya saat ini memang berkaitan dengan tulisan

sembari aku memahami dan memaklumi. kenapa orang yang aku kenal dulu adalah orang yang easy going, saat ini bisa sangat memperhitungkan waktu dan sangat disiplin atau keras pada diri sendiri.

hmm. aku paham. mungkin dengan terhambatnya kuliah S2 nya, secara waktu dan usia menjadi tertinggal start untuk meniti karir. untuk mengejarnya, pada karir yang ia tekuni saat ini ia begitu berdisiplin diri dan sangat memperhatikan soal waktu.

"wah, kalau pekerjaan ku di kantor sih nggak bisa kaya gitu teh. ada aja iklannya. tiba-tiba disuruh ini disuruh itu. selain itu harus multi-tasking, sambil ngerjain kerjaan, harus bisa dengar juga boss yang minta diperhatikan ketika cerita soal kehidupan pribadinya."

"hehehe iya sih.. beda ya.. " katanya setuju

"oia, ngomong-ngomong soal nulis, gimana bisa seproduktif itu teh ? kendalanya kan ada saja. misalnya inspirasi dan kalau orang yang jam kernya seperti ku tentu adalah soal waktu"

"bukan soal inspirasi dan waktu, tapi adalah soal komitmen. menjadi seorang penulis adalah komitmen terhadap diri sendiri. kamu yang tentukan sendiri mau tulis apa, kamu yang terntukan sendiri kapan waktunya. itu kalau memang kamu sudah komit menjadi seorang penulis"

aku tersenyum. menyadari tidak ada yang berubah dari dirinya. sebagai senior, wejangannya selalu bisa aku terima.

membicarakan soal berubah, aku melontarkan petanyaan padanya.

"apa life event membuat orang berubah ya teh ? disini life event yang aku maksud ya bad life event ya"

"I know, karena biasanya life event yang menyenangkan tidak signifikan merubah orang"

"jadi,  teteh setuju bahwa life event merubah orang ?"

Untuk menjawab pertanyaan ku ini, dia sampai mengeluarkan semacam buku catatannya dari tasnya. membuka sebuah halaman yang terdapat quotes dari tulisan tangannya. ia meminta ku membacanya, sambil menunjuk quotes nya.

"nih, kamu baca yang ini ya"

"kalau yang lain boleh teh ?" kata ku sambil bercanda

"ya jangan laah.. yang itu aja"

kebetulan quotesnya dari bahasa inggris jadi aku mencoba membacanya dengan seksama.




“And once the storm is over, you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won’t be the same person who walked in. That’s what this storm’s all about.” 



"aku suka tulisan-tulisan Haruki Murakami" katanya untuk memecah keheningan aku yang sedang membacanya.

"iya teh. this is your answer for my question"

"aku gak bisa bilang life event bisa merubah orang atau tidak, tapi yang jelas, setelah kamu melalui badai itu. you won't be the same person. but all depends on yourself. kamu memilih untuk seperti apa dalam menghadapi badai. S-O-R. Stimulus-Organism-Response"

"I get it" kataku sambil tersenyum

"yuk, it's time to go"

"Alright"

i know something that, suatu pertemuan tidak bisa diukur dari durasi pertemuan. tapi dari apa yang kita dapat dari pertemuan tersebut


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Irsa Ikramina
4 Juli 2016

Saturday, May 28, 2016

Mimpi Budak Kapitalis yang ber-Tuhan

Baragkali, di kehidupan yang serba mahal ini, menjadi budak kapitalis bukanlah suatu pilihan. tapi merupakan suatu keterdesakan dan keterpaksaan dalam kacamata realistis.

Untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar yang bernilai rupiah banyak orang pada akhirnya, menyerahkan dan engorbankan waktu, tenaga dan kebebasannya pada kepentingan profit korporasi, yang toh, pada kenyataannya tidak selalu berdampak langsung. bagaimanapun korporasi akan selalu mengedepankan kepentingan dan ambisi-ambisinya.

apapun jabatannya, apapun korporasinya, bagiku tetap saja stratanya adalah budak, budak kapitalis

tidak cukup hanya mengorbankan waktu, tenaga dan kebebasan. budak kapitalis kadang harus mengabaikan suara hatinya, suara hati yang merupakan fitrah manusia sebagai makhluk ber - Tuhan.

hanya bisa bungkam ketika sesuatu ditempatkan tidak pada tempatnya. hanya bisa diam ketika ada yang tidak proporsional antara apa yang dikerjakan dan apa yang didapat.
harus berpura-pura tidak peka terhadap perasaan-perasaan manusia ketika nilai kemanusiaan bukan yang dikedepankan. semua dilakukan atasa dasar visi dan misi organisasi.

aku bukanlah budak kapitalis yang memberontak. aku hanya berharap dan bermimpi kelak aku adalah budak kapitalis yang bernaung pada korporasi sufi. tanpa harus mengabaikan suara hati. agar meski di dunia hanya strata budak. tapi di dalam hati tetap ada Tuhan, tanpa mengabaikan suara hati, tanpa konflik superego.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 6 Mei 2016
Irsa Ikramina

Thursday, March 31, 2016

titik tipis antara sedih dan senang

aku telah sampai pada suatu titik. 
titik dimana rasa sedih dan senang, bukanlah suatu yang berlebihan dalam hidup ini.

tidak berlebihan berarti biasa saja. tidak ada yang perlu didramatisir.

karena yang terpenting bukan bagaimana aku merasa senang dan sedih. tapi bagaimana aku menjadi selalu ingat kepada Tuhan diantara perasaan keduanya. baik sedih maupun senang. sebab, selalu ada kesabaran dalam kesedihan dan selalu ada rasa syukur dalam kesenangan.

rasa. hanya sesuatu yang lahir dari emosi manusia. tapi sabar dan syukur tidak hanya sekedar rasa. tapi keyakinan yang lahir dari fitrah manusia, dari Qolbu, dari suara hati.

Biarlah sedih dan senang berlalu menerpa sebagai warna-warna skenario setiap episode hidup. tapi Tuhan, tetapkan aku pada sabar dan syukur. karena bagiku, bukan sedih dan senang yang terpenting. tapi bagaimana aku selalu bisa merasa dekat dengan Mu melalui sabar dan syukur. karena ketika aku merasa dekat dengan Mu, hati ku merasa damai dan tenang.

maka ku pikir, aku akan Ridho atas ketetapan dan pengaturan Tuhan apapun baik yang membuat aku sedih maupun yang membuat aku senang.

asal dalam hidup ini, dengan segala rasa apapun, aku selalu dekat dengan Mu Tuhan.

karena hanya Engkau-lah yang ada dihatiku.


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 1 April 2016.
Jam Istirahat Kantor, di ruang meeting yang hening.

Irsa Ikramina

Sunday, February 7, 2016

22 Desember 2015 lewat – part 3



26 Januari 2016

“gak usah kuatir kalau lu emang mau cari tempat kerja lain. kalau memang pada dasarnya niatnya adalah untuk hijrah ke tempat yang lebih baik kenapa enggak ?” kata ku pada Fatir

“iya sih. Sebetulnya terbesit itu ada”

“manusiawi lah, gue aja nih. Kalau boleh ngomong jujur, ada aja lemah imannya. Gue disini sebetulnya mau bertahan sampe minimal 3 tahun. tapi kadang kalau baca info lowongan di group LINE psikologi, itu memang menggoda. Pernah ada posisi yang ditawarkan dan jobdesnya hampir sama banget kaya gue sekarang, ya gue yakin gue menguasai lah ya. ada kok bisikan untuk send CV, tapi ya balik lagi ke niat. Akhirnya gue gak jadi untuk send CV. Kemungkinan besar gue akan dipanggil itu besar, karena di sana banyakan almamater gue. Ada beberapa senior di sana. tapi gue abaikan aja info itu. fokus lagi sama tujuan gue sekarang.”

Pembicaraan kami terpotong. Si boss telp ke nomor ku. mungkin aku terdengar setengah memperhatikannya karena sambil sibuk mengurusi file word yang beda tahun itu. akhirnya si boss nelp ke nomor Fatir. Selesai aku urus itu file word, aku langsung siapkan alat tes untuk psikotes kepala cabangnya. Semenjak sistem rekrutmen ku dinilai lama oleh manajemen, mereka hanya perlu profile psikologis karyawan ketika akan habis masa percobaan, datanya dipakai sebagai dasar pertimbangan untuk memutuskan apakah mereka akan diangkat menjadi tetap atau di cut. Ya, meski ini cukup tidak sistematis sebetulnya. Bukankah rekrutmen memang untuk mencari orang yang pas dengan requirement yang dibutuhkan ? kenapa fungsi dan dasar rekrutmen jadi digeser setelah orang tersebut bekerja ? ah sudahlah. Aku sudah pernah mempertahankan sistem ku di hadapan manajemen. Tapi ya, birokrasi memang kadang membungkam idealisme.

“eh gue psikotes dulu ya di belakang” kata ku sambil membawa seabrek alat tes dan stopwatch tergantung dileher ku.

“eh, tunggu. Anak-anak yang mau audit di cabang Banjar sama Tasik duit perjalanan dinasnya gimana ?” tanya Fatir kepada ku

Sebetulnya tim atau anak-anak yang kami sebut itu bukanlah tim audit. Fungsi jabatannya sudah bergeser jadi hampir seperti auditor. Fungsi jabatan mereka awalnya adalah menjaga standar-standar yang ditetapkan main dealer dan AHM pada masing-masing cabang. Aku juga kadang pusing. Sudah ku buatkan analisa jabatan dan jobdesc, eh nanti fugsinya rubah-rubah lagi. sampai-sampai anak-anak itu bertanya, “bu, sebetulnya jobdes kita ini apa ?”

“udah,kata si boss mau diurus dari Head Office. Coba lu cek deh di email. Semalem gue kirim email penugasan ke mereka dan hanya cc boss, GM, sama direktur dan elu.”

“oh iya-iya”

“tiba-tiba gue mengkhawatirkan anak-anak auditor itu. baru banget gue training udah langsung ke lapangan. Dengan penempatan cabang audit diacak. Psikologisnya itu loh. Mana sebulan sekali lagi”

“hah, sebulan sekali ???!!!” kata Fatir shock

“yeh, lu kagak baca email boss tuh. Cc kita kok. Coba lu baca dengan seksama”

“yang mana ?” tanya Fatir sambil menunjukan inbox emailnya

“tu dia” kata ku sambil menunjuk ke layar laptopnya. Bahkan boss di badan email mem-bold audit ini akan dilakukan sebulan sekali.

“ah, gila” kata Fatir sambil geleng kepala. “kalau gini caranya harusnya buat tim audit saja. Terpisah”

“lah, ya kan lu tau mind set nya di sini ? pengen kerjaan yang harusnya dilakukan 10 tim beres, tapi kenyataannya hanya ada 1 tim. Right ?”

“yauda lu telp deh, anak-anak. Kasih dukungan psikologis”

“iye tenang, apa guna gue kuliah di psikologi kalau kagak punya empati sama gak peka sama gituan. Ntar ya, gue ngejar psikotes dulu nih. Kalau si Riska keburu beres kan giliran gue yang sosialisasi SOP” jawab ku sedikit membanggakan profesi ku.

***
Selama psikotes berlangsung, di sela-selanya aku banyak berpikir. Banyak hal yang tidak beres di sini memang. Salah satunya audit unit dan kelengkapan yang awalnya adalah milik Finance & Accounting Department (FAD) jadi sekarang dilimpahkan kepada HRD. Semua orang yang bekerja di korporasi dan paham dasar manajemen organisasi juga mengetahui bahwa pekerjaan harus dilaksanakan sesuai dengan fungsi departemen masing-masing. Hal-hal yang berkaitan dengan inventaris perusahaan memang biasanya akan dia audit oleh bagian accounting. Kemudian perihal SOP, disini, budayanya seluruh SOP dibuatkan oleh HRD. Baik operasional maupun non operasional. Padahal, yang paham alur di departemen atau di operasional itu sendiri yan adalah orang yang ada di departemennya. Kadang, wacana SOP dibawah kontrol HRD malah menjadi salah kaprah, bahwa segala SOP yan dibuat dan di audit HRD.

Tentu saja bukan aku dan tim menolak pekerjaan, tapi tentu ingin meluruskan apa yang menjadi fungsingnya masing-masing. Sederhananya saja, kita punya pembatu rumah tangga dan supir. Karena ingin low cost. Kita rekrut salah satu saja untuk menjalankan 2 fungsi itu. Apakah bisa 1 orang tsb mengantarkan majikan ke luar kota tapi juga ingin rumahnya yang ditinggalkan selalu bersih dan rapi ? bisa saja kataku asal punya jurus pemecah raga.

Aku yang sepanjang hidup disekolahkan di sekolah islam dan hanya 2 tahun saja bersekolah di sekolah umum. Tanpa disadari terbiasa melihat dari sudut pandang agama dalam memandang permasalahan. Aku ingat bahwa guru agama ku ketika SMA pernah mengatakan bahwa Dzalim itu berarti menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya. Maka dalam hal ini, ketika tugas tersebut adalah “tempatnya” berada pada departemen lain, kemudian di pindahkan ke departemen lain yang bukan sesuai fungsinya atau “pada tempatnya”. Apakah ini juga termasuk dzalim ? mengingat, orang-orang yang berada di departemen yang dilimpahkan pekerjaan itu juga memiliki keterbatasan waktu dan tenaga. Tentu saja hal yang sifatnya teknis seperti ini tidak bisa hanya sekedar menutup mata menjadi tidak ingin tahu, yang penting beres.

Termasuk tugas audit unit dadakan ini. Jadwal kami dinas dari Senin - Jumat yang telah direncanakan pekerjaannya cukup padat. Bahkan pada teknis pelaksanaannya ada yang mundur dari schedule. Tiba-tiba saja kami diberikan tugas yang jelas secara teknis berdasarkan trial akan bisa diselesaikan selama 4 hari. Masuk akal kah ?

Ah, tapi sudahlah. Kenapa aku mesti memikirkan hal seperti ini ? abaikan saja lah ya

Semakin aku berusaha mengabaikan. Ternyata semakin gelisah hati ini. Mungkin suara hati ku sedang berbicara. Apa itu suara hati ? suara hati atau God Spot itu adalah fitrah manusia yang berasal dari 99 Sifat Allah yang ditiupkan bersamaan dengan ruh manusia.

Kemudian Ia memberinya bentuk (dengan perbandingan ukuran yang baik), dan meniupkan ke dalamnya roh (Ciptaan)-Nya. Ia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan (perasaan) hati....” (QS 32 Surat As Sajdah Ayat 9)

Ada suara hati Al’ Adl, Yang Maha Adil, adil bukan berarti sama, tapi harus sesuai dengan porsinya. Apakah tugas yang menimpa tim ku ini sudah proporsional ?

Ada suara hati Al Hasiib, Yang Maha Pembuat perhitungan, apakah tugas yang diberikan kepada tim ku ini sudah benar perhitungannya baik waktu, teknis serta sumber daya tenaga yang dimiliki tim memang mungkin untuk di lakukan ?

Ah, paling tidak memang aku harus berusaha menyampaikan. Aku tidak ingin mengabaikan suara hati ini.

Aku lihat stop watch, kebetulan waktu masih banyak. Aku bisa telp boss sebentar nih. Aku mau asertif. Aku berbicara atas nama suara hati dan fitrah manusia, mewakili tim ku juga. Meski aku sadar, respon negatif yang dapat muncul ketika aku menyampaikan ini adalah aku dianggap tukang protes, kerja hitungan dan merasa berkeberatan dengan tugas yang diberikan.

To be continued...
Bandung, 8 Februari 2016
Irsa Ikramina









Saturday, February 6, 2016

22 Desember 2015 lewat – part 2

25 Januari 2016

Hari pertama dinas di kota Sidareja. Sesampainya di cabang aku dan Riska langsung bergerak sesuai tugas masing-masing yang telah direncanakan. Ya, aku, Fatir, Rico dan Riska sebelum berangkat kami sudah buat schedule. Cukup detail hingga kami breakdown perjamnya. Maklum, waktu kami sedikit. Tapi pekerjaan seabrek. Kalau ingin  pulang tepat waktu dengan pekerjaan tuntas. Kami harus sesuai dengan schedule.

Tiba-tiba saja, smartphone kami berdering menunjukan ada BBM message yang masuk. Ya, boss mengirimkan message pada group BBM  HRD & GA.

“Pak Fatir dan Bu Irsa, lakukan audit unit dan kelengkapan ya di Sidareja. Thanks”

Aku membaca, tapi tidak respon, sembari berpikir bagaimana teknis waktu yang terbatas ini bisa dilakukan audit unit dan kelengkapan, sementara ketika dilakukan di Bandung sebagai trial dilakukan selama 4 hari. Tak lama Fatir yang respon.

“ya bu, nanti kalau sampai Sidareja saya bicarakan dulu teknisnya dengan Bu Irsa”

***
Hari sudah malam, aku dan Riska sedang makan di pinggir jalan dekat hotel.

“Aku khawatir dengan Fatir dan Rico. Kok belum sampai ya ? aku WA tapi malah checklist 1. Aku telp saja lah ya”

“iya bu. tau gitu kan mereka aku buatkan surat tugas untuk menginap di hotel Banjar”

Dengan pulsa ku yang pas-pasan aku telp Fatir.

“Dimana ?”

“masih makan nih di Banjar. Belum selesai” kata Fatir terdengar sambil mengunyah makanan.

“buset. Lama baget. Harusnya kemarin dibuatkan surat tugas untuk menginap di Hotel Banjar”

“gak lah, beres jam berapapun gue cabut ke Sidareja malam ini”

“serius ? jangan dipaksain”

“iya. Gue males kalau pagi diperjalanan terus langsung kerja”

“iya gue tau. Yauda, gue booking kamar satu lagi buat kalian ya. ntar di resepsionis tinggal ambil kunci aja atas nama lu. tau posisi hotelnya kan ?”

“sip-sip. Iya Insha Allah tau”

26 Januari 2016

Pagi-pagi sekali aku dan Riska sudah siap. Kami kejar jadwal. Pekerjaan yang sudah kami jadwalkan meleset, dalam artian pekerjaan yang harusnya selesai pada hari kemarin ternyata tidak selesai. Kami tidak menyangka karyawan di Sidareja cukup interaktif dan kritias, sehingga menambah durasi. Rasanya kami ingin cepat sampai kantor cabang sepagi mungkin.

“Ris, coba BBM Rico dan Pak Fatir. Sudah siap atau belum.”

“ya bu”

Setelah beberapa saat..

“ada jawaban gak ?”

“BBM nya belum pada delivered bu”

“telp driver yang kemarin jemput kita di stasiun, suruh jemput kita terus tinggalkan pesan di BBM ke Rico dan Fatir kalau kita duluan” kata ku mengambil keputusan cepat. Aku pikir mungkin mereka lelah, bisa jadi mereka sampai larut malam.

“ok bu”

Cukup sigap juga si driver hingga aku dan Riska sudah dijemput dalam waktu singkat dan dalam sekejap sudah sampai di kantor cabang. Seperti hari kemarin, kami langsung bergerak cepat mengerjalan tugas masing-masing untuk kejar pekerjaan selesai sesuai schedule.

Hanya selang 15 menit, tak lama Fatir dan Rico datang. Aku sedang sibuk print fasilitas karyawan untuk di tandatangani. Sialnya karena file yang dikirim boss ku dan komputer yang ada di cabang wordnya berbeda tahun. Formatnya semuanya berubah. Sungguh sangat wasting time dan aku menghabiskan puluhan kop surat karena kesalahan format print. Awalnya boss ku yang mau print kan semuanya, karena untuk urusan payroll memang saat ini seluruh datanya ada di boss. Tapi karena pada hari itu ia sudah di jemput untuk pulang, apa boleh di kata, sisannya aku harus print di cabang. Memang agak sedikit membuat ku kesal karena waktu yang dimakan cukup banyak hanya untuk persoalan remeh. Sementara aku dan tim sedang di kejar waktu.

Fatir menghampiri ku yang sedang sewot mengurusi print-an. Sementara Rico sedang sibuk dengan instalasi laptop dan Riska sedang sosialisaso SOP HRD.

“eh, gimana nih kita audit ?”

“ah, speecless gue. Waktunya cukup gitu?” sambil mata tidak lepas dari layar komputer dengan kesal

“apaan sih ? oh itu wordnya beda ya. udah coba di setting-annya ?”

“udah banget keleus, lu pikir gue gaptek ?” kata ku kesal

“eh iya, jadi mau gimana kita ?” kata ku melanjutkan

“kemaren pas gue baca BBM, yang terlintas di pikiran gue kok jadi kita sih yang urus audit unit?  Makanya gue iya-iya dulu aja lah”

“yaudalah bray, terima realita. Di sini budayanya emang banyak kekeliruan”

“tapi gak bisa seperti ini juga. Hanya karena masalah gak trust sama departemen sebelah, tugas mereka jadi di kita”

“well, kata si boss sih departemen kita memang masih bersih di mata manajemen. Departemen lainnya petingginya udah pada kena potongan semua. Harus ganti kerugian perusahaan hanya karena kurang kontrol. itu sebabnya sekarang kita sedang diandalkan”

“ya tapi ini ngaco, fungsi masing-masing departemen harus di luruskan. Minimal boss kita bisa jangan meng-iya kan”

“ya tapi kan boss juga udah bilang doi udah coba, tapi susah untuk meyakinkannya. Gagal sih pasti, makanya dia kasih instruksi ke kita tuh suruh audit di sini. Padahal jadwal kita udah padet banget. Doi diteken juga kali sama manajemen. Ya mau gimana lagi ? brontak ? kadang kalau gue asertif. Malah juga dipandang sebagai tukang protes dan banyak mengeluh, atau berkeberatan di kasih tugas ini itu. simalakama kalau di posisi kita mah bray”

Rico nampak berpikir berat soal ini. Ada keheningan sejenak diantara kami.
“kenapa ? lu pasti terpikir cari tempat kerja lain ya ?” kata ku menebak

to be continued...

Bandung, 7 Februari 2016
Irsa Ikramina