aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Friday, December 19, 2014

Aku, seniman yang mewaqafkan 40 jam seminggunya di dunia korporasi

           Jika seniman pada umumnya, atau siapapun yang menyebut dirinya seniman, atau yang dikenal sebagai seniman setiap jam dalam hidupnya ia waqafkan untuk berkarya. Aku bukan seniman yang seperti itu. aku harus mewaqafkan 40 jam seminggu dalam hidupku untuk korporasi. Itu belum termasuk loyalitas.
            Sampai kapan aku akan seperti ini. Aku pun belum tahu. Belum bisa berandai-andai. Hidup memang harus punya rencana dan strategi pencapaiannya. Tapi hidup ku tidak sesederhana itu. tarik menarik antara passion dan desakan kehidupan terus saja mendesak ku. Tapi aku tidak akan kalah. Aku malah menyadari suatu hal, bahwa tidak semua seniman memiliki seluruh waktu dalam hidupnya untuk berkarya. Tidak selalunya seniman menjadi satu kesatuan entitas dan eksistensi. Bagi seniman seperti ku. Seniman adalah eksistensi jiwa ku. Tapi entitas atau atribut yang dikenal dari diri ku bisa saja berupa akademisi, korporasi, profesi. Bisa apapun.
            Apakah aku merencanakan kembali ke dunia korporasi ? tentu saja tidak. Tapi anggaplah, ketika aku memutuskan untuk mewaqafkan sebagian waktu ku di korporasi, itu adalah upaya memperkaya pengalaman batin, karena penting bagi seniman agar dapat menciptakan karya yang lebih dalam, lebih bermakna, tidak sekedar indah tapi juga menggugah emosi estetik.
            Selama aku mencintai seni, selama aku selalu ingin berkarya, selama aku mudah tergugah dengan emosi estetik dari suatu karya, selama aku selalu merasa damai ketika berada di tengah perkumpulan seniman dan  selama aku merasa “pulang” ketika berada ditengah diskusi filsafat atau bedah karya seni serta apresiasi seni, selama aku merasa “charging” ketika di tengah pameran karya seni. Maka aku akan selalu menjadi seniman, apapun entitas ku. Ya.. setidaknya bagi diriku sendiri.


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 19 Desember 2014
Irsa Ikramina

            

Sunday, December 14, 2014

Seni dan Psikologi sebagai kampung halaman ku

Belajar dan membaca sudah menjadi nafas bagi kehidupan ku. Pengalaman menyusun skripsi dengan metode kualitatif ternayata begitu memengaruhi ku secara mendalam. Hidup ini memang selalu menjadi peneliti kualitatif rasanya. Belajar memahami kehidupan dan manusia, juga secara mendalam.
            Belakangan ini aku sedikit keluar dari “kampung halaman” ku. Belajar dan berkecimpung di dunia bisnis. Menarik ? ya juga. Malah aku belajar memperhitungkan setiap langkah dari dunia bisnis ini. Nyaman ? tidak. Seni dan psikologi tidak memadang segala hal dari sudut padang keuntungan (kecuali psikologi industri mungkin). Sedangkan di bisnis, aku harus menggunakan kacamata itu. Padahal, tidak selalunya hidup ini berdiri di atas azas keuntungan, ada juga azas manfaat. Seni dan psikologi dekat dengan filsafat. Di bisnis apa perlu filsafat ? aku rasa tidak. Sisi manusiawi ku lebih merasa terancam di dunia bisnis daripada dunia kampung halaman ku. Walaupun tidak selalu dan semua, tapi di dunia bisnis aku menemukan orang yang mengedepankan kehendak pribadinya dengan mengabaikan sisi manusiawinya terhadap manusia lain khusunya yang dipekerjakannya. Seperti kehidupan di korporasi besar yang pernah aku rasakan dengan kemelut politik dan intriknya.
            Aku tidak bilang ya orang yang berkecimpung di dunia bisnis lantas adalah orang yang kejam. Tidak. Jika kepemimpinan dan manajemennya baik, mereka akan sangat berjasa dalam memberikan kontribusi positif kepada market dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Hanya saja, seperti tidak sejalan dengan apa apa yang diajarkan di kampung halaman ku, yaitu seni dan psikologi.
            Tapi jangan salah, kemasan bisa profesi tapi jiwa bisa saja bisnis. Ya, misalnya seperti dokter yang mengeruk keuntungan dengan berjualan produk obat melalui resep yang dituliskannya padahal tidak terlalu perlu atau mempraktekan orto padahal bukan spesialiasasinya demi menarik banyak pasien yang sebteulnya jumlahnya sudah sangat overload untuk ia tangani sendiri.  Ada juga dokter-dokter yang sangat idealis, bagi mereka kebahagiaan adalah ya mengobati pasien, mereka juga tidak terlalu hitungan kepada pasien ya yang penting pasien lekas sehat. kalau di dunia musik, akan terpecah menjadi dua lagi. Yang naluri bisnis kuat akan lari kepada industri musik “yang sesungguhnya” sedangkan musisi yang bersifat “nyeniman” mereka tidak terlalu kejar setoran semacam itu. Yang penting bisa berkarya yang idealis, bemain musik dengan nyaman dan dapat menghibur pendengar itu saja cukup. Om Arbain Rambey juga pernah mengatakan pada ku kalau dalam dunia fotografi, ya ada dua macam. Yang berada pada jalur profesional akan selalu menyesuaikan keinginan klien dan berkaitan dengan rupiah. Tapi kalau nyeniman banget yang tidak terlalu memikirkan hal itu. Berkarya lah sepuasnya
Sekali waktu aku pernah berkunjung ke kampus lain dalam rangka peluncuran buku dan interpretasi seni salah satu teman ku yang berprofesi sebagai dosen di sana. Tentu saja teman ku ini berada pada dunia yang sama dengan ku. Ia musisi, filsuf dan penulis. kebiasaan buruk ku memang selalu saja naif, aku pikir akademisi ya akademisi. Tapi ternyata tidak. Agak terkejut juga melihat kemasan akademisi, namun jiwanya adalah korporasi. Semuanya sangat terlihat dari cara bicara, isi pikiran dan gelagatnya. Ya karena aku pernah bekerja di korporasi besar jadi tahu jenis manusia dan iklminya seperti apa. Si akademisi berjiwa korporasi malah mengungkapkan kecewa bahwa universitasnya akan digolongkan menjadi PTN bukan PTS lagi. semakin saja menguatkan pikiranku. Pantas saja teman ku ini pernah bilang kalau ia mau menduduki jabatan yang lebih tinggi untuk merubah situasi di sana yang menurutnya sudah terlalu bisnis.
Tidak ada yang salah dengan heterogennya pilihan-pilihan itu. Hanya saja aku semakin lama semakin memahami. Darimana asal ku dan kemana aku akan pulang meskipun merantau menimba ilmu ke berbagai bidang. Not bad mencoba merantau jauh dari kampung halaman. Semakin membuka pandangan dan memahami kehidupan dan manusianya di dalam bidang-bidang tersebut. Bagaimana pun, psikologi itu universal, karena idealismenya memahami manusia. Justru harusnya lulusan psikologi bersifat generik. Mampu beradaptasi di segala bidang kehidupan manusia. Hanya saja, semua berpulang pada kesediaan manusia yang bersangkuan. Psikologi tidak hanya terampil menggunakan alat tes, tidak hanya berurusan dengan HR. Tapi harusnya lebih dari itu. Dengan merantau seperti ini, aku bisa mencapai idealisme psikologi yaitu memahami manusia. Jadi tidak sempit hanya pada mengetes dan tek tek bengek HR. Toh, ilmu nya juga malah manfaat dengan mencoba berbagai bidang. Misalnya saja dalam dunia bisnis ini, meskipun tidak sesuai dengan jiwaku, tapi memberi kan pemahaman lebih pada proses bisnis dan strategi bisnis apapun, sehingga kalau aku harus kembali mengenakan “kemasan” HR di suatu korporasi (meskipun aku bukan mental korporasi) aku akan mampu beradaptasi pada industri dan proses bisnis apapun. Ya, HR memang harusnya produk generik yang mampu beradaptasi pada industri dan proses bisnis apapun. Mungkin kampus ku meluluskan sarjana psikologi yang terlalu klinis atau memang mentalku terbentuk kilinis sepanjang proses kuliah, sehingga ketika menjadi HR perlu waktu untuk memahami dan beradaptasi dengan proses bisnis dan industrinya untuk dapat “menyentuh” manusia yang bekerja pada sistem tersebut.
            Selanjutnya kemana kah aku akan merantau ? aku pun belum tahu pasti. Apapun itu, semoga seluruh ilmunya dapat terintegrasi dengan baik untuk dapat mencapai keuntungan eh, manfaat J ya, karena aku jiwa yang menganut azas manfaat, karena hanya dengan manusia yang menjadi manfaat di dunia dapat selamat di kehidupan yang selanjutnya.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 15 Desember 2014
Irsa Ikramina


Diambil dari catatan harian 12 Maret 2013

Wanita ini lahir pada tahun 1939, itu berarti ia melewati masa dimana Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya. Sewaktu kecil aku memandangnya “keren” karena ia melalui kisah sejarah yang tertulis dalam buku pelajaran sejarah.
Wanita ini aku panggil, nenek.
Sewaktu kecil, sosok nenek menjadi begitu penting, selain dalam kunjungan liburan, sosok nenek menjadi tempat dimana terbebas dari aturan-aturan orang tua. Ketika aku dewasa, sosok nenek tidak begitu “keren” lagi. Mungkin karena perbedaan zaman dan generasi yang sangat jauh sehingga nasehat-nsehatnya sudah tidak relevan dengan kehidupan anak muda sekarang.
Keren, tidak keren sosok nenek dimataku sekarang, yang jelas rasa sedih, kehilangan, dan penyesalan sedang membalut hati ini ketika aku melihat tubuhnya yang telah kaku dibaluti kain kafan dan diiringi dengan lantunan surat Yasin. Warna-wara akromatik yang bergejolak dalam diri ini membuatku hanya bisa terpaku menatapnya, berusaha menerima kenyataan bahwa jiawanya telah meninggalkan raganya.
Rasa sesal mengganjal hati ketika tidak responsif terhadap firasat kepergiannya dan tidak menyadari kelembutannya yang selalu tercurah. Nasehatnya yang tidak relevan dengan masa kini, sesungguhnya adalah kelembutan dan pehatian dari kasih sayangnya. Nasehat sederhana, tapi begitu menyentuh jika dikenang meski sosoknya telah tiada..
Tuhan, nenek telah mewakilkan sifat lembut dan kasih sayang Mu. Ya latif, Ya Rahman, Ya Rahim. Maka terimalah nenek di sisi-Mu. Tempat paling mulia. Amin.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 12 Maret 2013

Irsa Ikramina

Saturday, December 13, 2014

Aku dan Pengalaman

“Kerja untuk mencari karir dan uang atau pengalaman ?”

“Meskipun kehidupan saya sulit dan seperti ini. Saya lebih tertarik dengan pengalaman”


Begitulah sekilas pertanyaan dan jawaban yang terjadi di wawancara kerja ku pagi ini. Setelah hampir setahun. Ini adalah wawancara yang pertama aku merasa “serius” kembali dalam menjalaninya. Setelah belasan wawancara aku lalui dengan kebodohan dan kecerobohan dikarenakan jenuh dan bosan. “Serius” karena aku berminat dengan bidang industri bisnisnya, timnya dan... karena aku harus hijrah dari kejahiliyahan yang aku hadapi saat ini.
Soal jahiliyah nanti saja. Soal pengalaman dulu. Aku sendiri tidak tahu pasti mengapa aku lebih memilih mencari pengalaman dibandingkan karir dan uang. Padahal aku hidup di tengah himpitan finansial. Apa pengalaman lebih membuat aku bahagia ? tidak juga. Banyak pengalaman pahit yang aku alami. Apa karir dan uang tidak membahagiakan ? ya tidak juga, membanggakan bahkan. tapikan tetap saja setiap pengejaran dan pencarian dunia akan bertemu sandungan-sandungan. Semua hal tersebut sebetulnya sama fatamorgana dan semu. Tapi satu hal yang menurutku lebih pasti adalah pemaknaan terhadap pengalaman-pengalaman yang dialami, tentu bisa membawa kebahagiaan batin.
Bagi aku yang menempuh skripsi dengan metode kualitatif, akan menaruh perhatian penting serta kepekaan terhadap pemaknaan pengalaman. Manusia dibentuk oleh pengalaman-pengalaman tersebut, bagaimana pengalaman tersebut dapat memengaruhi manusia secara mendalam dan bagaimana memaknakan pengalaman tersebut secara mendalam. Dan dalam proses pengaruh dan pemaknaan antara manusia dan pengalaman tersebut, muaranya pasti adalah syukur dan ikhlas. Mungkin ini lah sebabnya aku lebih memilih mencari pengalaman, karena pada akhirnya aku akan selalu bertemu Tuhan. Sedangkan dalam mengejar karir dan uang aku hanya akan mendapati sekedar dunia, bisa jadi dengan hati yang hampa. Pemaknaan pengalaman yang muaranya adalah Tuhan, akan selalu membuat hati ini penuh.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 14 Desember 2014
Irsa Ikramina

Wednesday, September 19, 2012

Aku dan perwalian maha galau


           Akhirnya tiba juga perwalian maha galau sepanjang masa perkuliahan. Perwalian semester 7 adalah seperti memilih agama. Kita harus yakin dengan apa yang kita kontrak adalah sanggup untuk dijalani. Sudah tidak ada lagi ikut-ikutan teman, ini adalah memilih jalan untuk segera meraih tiket kelulusan menjadi seorang sarjana. Di semester ini kita harus mempertimbangkan banyak hal untuk mengontrak mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian dan berbobot sks besar. Taruhannya adalah waktu atau masa studi. Belum lagi ada yang tidak bisa mengambil mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian itu karena sks yang ditempuh masih kurang atau masih ingin memperbaiki nilai-nilai yang sudah terlanjur tercetak di transkrip nilai.
            Sudah dari beberapa hari lalu aku saling berhubungan dengan Anis sekedar untuk mengecek apakah keimanannya masih sama mengenai apa yang akan dikontrak dan apa yang akan didrop untuk  semester depan. Semua kami putuskan atas berbagai pendapat dari senior dan juga kesanggupan kami. Belum lagi ada mata kuliah baru yang disungguhkan untuk angkatan kami, dan itu merupakan mata kuliah pilihan. Ini juga menambah tingkat kegalauan dikalangan mahsiswa yang baru menginjak tingkat akhir. Timeline twitter sejak seminggu lalu pun sudah mulai ramai dengan kicauan para mahasiswa yang galau akademik.  
            Hari maha galau itu pun tiba. Anis tiba lebih dulu di kampus. selang setengah jam akupun sampai di kampus. sesampainya di fakultas aku melihat Anis sedang mengobrol dengan teman-teman yang lain. Aku sudah bisa menebak dari kejauhan apa yang mereka sedang bicarakan, pasti mengenai mata kuliah baru pilihan itu. training atau konseling ? aku dan Anis sudah haqul yaqin untuk mengontrak training. Sehingga pandangan apapun yang kami dengar tidak akan menggoyahkan keimanan kami. Sambil menunggu antrian perwalian, obrolan maha galau itupun terus berlanjut menguji keimanan setiap orang yang terlibat dalam obrolan itu. Hingga keimanan Anis pun sempat tergoyahkan,
 “sa, apa gue betul-betulin nilai dulu aja ya? jadi gue ngga usah ambil metpen1) dulu”
“hus, istigfar nis. Sayang masa studi, IPK lu kan masih 3 koma. Yang maha galau itu kalo kita ngga bisa ngontrak metpen sama KKPP2). Lah ini kita bisa, kenapa ngga hajar terus aja.”
“iya juga siih”
            Keimanan Anis pun kembali di jalan yang lurus. Selama obrolan yang menguji keimanan dan menunggu antrian perwalian itu. aku perhatikan Rendy sudah bolak-balik masuk ruang wakil dekan, yang merupakan dosen wali kami, Ibu Milda. Pertama Rendy merubah pilihan training atau konselingnya, kemudian dia masuk lagi kedua kalinya untuk merubah kontraknya untuk tidak jadi mengambil semua yang ada di semester 7 itu. memang, paket sesungguhnya pada semester 7 itu adalah 3 penelitian yang terdiri dari metpen, KKPP, dan juga Psikologi Islam V3). Serta mata kuliah pilihan training/konseling dan beberapa mata kuliah penghabisan. Jika kita dapat mengambil semua mata kuliah yang sudah dipaketkan di semseter 7, maka di semester 8 hanya akan tersisa skripsi. Namun ada keringangan yang berlaku yaitu kita bisa men-drop salah satu diantara KKPP, MetPen, dan psikologi Islam V untuk dikontrak di semester 8 bersama skripsi.
            Giliran aku dan Anis yang masuk pun tiba. Dan Anis berpesan sebelum masuk ruangan wakil dekan itu.
“ngga usah banyak nanya lagi, bisi lebih galau”
            Akupun menuruti apa kata Anis. Pada saat mengisi lembar FRS kami sudah tidak banyak tanya lagi mengenai bagaimana baiknya. Kami langsung menandai mata kuliah yang akan dikontrak dan menandatangani lembar FRS itu. tidak seperti biasanya memang, biasanya kami selalu banyak tanya. Mungkin lebih tepatnya aku yang banyak tanya. Aku hati-hati.
            Aku sangat hati-hati dan tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Bagiku, buat apa mengambil banyak tapi kualitas nilai jadi menurun. Lebih baik mengontrak semampunya tetapi hasil maksimal.
            Aku dan Anis yang sudah selesai perwalian masih ikut duduk-duduk bersama teman-teman lain yang masih mengantri. Sekonyong-konyong Ichul pun datang menghampiri, sambil menunggu gilirannya masuk kami pun mengobrol.
“sa, IPK sekarang berapa ? 3.6 ? 3.7 ?
“hus, masya Allah, enggaaaa”
“berapa ?”
“3.45 . kenapa emang chul ?”
“si ‘orasi’ IPK nya 3.8”
“astagfirulloh.....” kata aku dan Anis menyebut segala zikrulloh dan segala ekspresi spritual. Ya, kami menjulukinya si ‘orasi’ karena konon kata Anis waktu itu pernah praktikum karena ada pembimbing yang tidak bisa hadir. Maka kelompoknya bergabung dengan kelompok si ‘orasi’. Dan pada saat itu si ‘orasi’ mempresentasikan dan memberi feedback kepada anggota kelompok lain sudah seperti orasi. Dan menurut isu yang berhembus, si ‘orasi’ memang yang nilai B pun ia perbaiki pada saat semester pendek untuk menjadi A. Jadi wajar saja kalau IPK nya menjulang tinggi sendiri. Di tengah terengah-engahnya IPK kami untuk melonjak.
            Hampir saja aku kufur nikmat dan goyah iman. Aku melihat wajah Ichul dan Anis pun lesu. Baru saja kami meyakinkan diri untuk dapat melalui ini semua. Lalu mendengar itu rasanya keyakinan kami hancur berkeping-keping, putus asa. Aku juga jadi ingat kalau targetku adalah 3.5 sebetulnya. Ya, karena aku pernah mencari tahu bahwa perusahaan asing yang aku incar memasang minimal IPK 3.3 . aku pikir walaupun IPK hanya merupakan proses seleksi awal. Tapi tidak ada salahnya jangan terlalu pas-pasan dengan standar minimal yang ditetapkannya. Namun dalam hati aku juga ragu apa bisa kembali lagi menjadi 3.5 . bisa tapi kalau mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian dan skripsi ku bisa mencapai A. Terdengar gila dan muluk memang sejenak dalam batinku.
            Bagaimanapun aku masih harus sangat bersyukur. Mengingat IPK ku masih paling tinggi diantara teman-teman sekelasku, aku tidak sengaja melihat di daftar hadir perwalian pada saat itu. apalagi, yang berhasil meraih IPK 3 koma itu kini hanya segelintir orang saja. Sepulang dari perwalian, aku sampai lupa kebiasaan dan ritual ku ketika liburan selama 2 bulan kebelakang. Mungkin karena hawa pressure sudah sangat terasa. Terutama adalah mengenai judul penelitian.
            Aku kuatkan diri lagi, niatku untuk menyempurnakan amanah di tingkat akhir ini sudah menjadi fondasi. Niatku untuk membawa mama hijrah juga sudah tidak bisa ditarik kembali. Aku ingat-ingat perjalananku smenjak hijrah, sudah begitu banyak perjuangan ,air mata, dan juga keringat. Tidak ada jalan lain selain harus melalui ini semua. Seberat apapun. Aku teringat nasihat papa melalui SMS..
Sukses ya nak..tujuan hidup, cita-cita dan apa yang hendak diraih sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Jangan lupakan Allah Azza wajalla, kapan dan dimana pun selalulah bersama-Nya dalam dzikrulloh..

Dari, aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 12 September 2012
Irsa Ikramina

           

Wednesday, August 15, 2012

Aku dan pria tionghoa


Happy birthday my deep thought friend. May God Almighty bless you with a happy heart, love from everyone, wisdom, success in all you do, and opened doors in life. God bless you.

Ucapan selamat ulang tahun itu dituliskan seseorang pada wall facebook ku ketika berulang tahun Juni lalu. Aku tidak menyangka bahwa silaturrahim yang terjalin antara aku dengannya tetap hidup hingga saat ini. Ucapan selamat ulang tahun dan selamat natal atau lebaran diantara kami tidak pernah putus. Selamat natal ? ya, kami memang berbeda agama dan juga berbeda usia cukup jauh. pria ini pemeluk agama kristen protestan, ber-suku bangsa tionghoa, dan usianya 10 tahun berada diatas usiaku. Aku tidak melihat semua perbedaan itu, apa mungkin karena kami punya banyak kesamaan ? mungkin juga. Akademik, kehidupan, dan spiritualitas adalah ketiga topik yang selalu mewarnai pembicaraan ku dengannya.

Sebut saja Barlian, yaitu pria tionghoa yang kini berprofesi sebagai dosen, dulu merupakan guru bimbingan belajarku. Bimbingan belajarku dulu memang begitu signifikan bagi kehidupanku, ya salah satunya aku menemukan orang-orang yang sangat berpengaruh bagi kepribadian maupun kehidupan. Pria ini baru mengajar ketika kelas SNMPTN dimulai. Itu berarti, pertemuan awalku dengannya adalah yang paling singkat dibanding guru yang lainnya karena aku mengenalnya sejak awal tahun ajaran.

Tapi, siapa sangka guru yang aku kenal paling terakhir di bimbingan belajar itu akan menjadi significant person yang sangat berpengaruh dan tentu banyak menolong dalam perjalanan kehidupanku hingga saat ini.

****

Dua hari yang lalu, sekitar pukul 9 pagi. Motorku berhenti didepan sebuar rumah yang pagarnya tertutup rapat. Tidak ada bel, maka pilihannya mengetuk dengan gembok yang menggantung di pagar atau memberitahu pada pemilik rumah melalui SMS bahwa aku sudah tiba di depan rumahnya. Baru saja aku mengeluarkan handphone dari tas, pria tionghoa ini sudah membukakan pagarnya. Ya, aku berkunjung ke rumahnya !

“ eh, baru aja mau sms !” kataku sambil tersenyum.

“mau dimasukin ngga motornya?

“boleh deh, asal cukup”, kataku sambil menyalakan mesin motor dan memeperkirakan apakah cukup atau tidak masuk ke garasi yang terisi oleh mobil dan motornya.

“apa kabar nih?” katanya sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.

“yah, begitulah !” jawabku yang kikuk untuk berjabat tangan dengannya karena masih memegangi helm dan kunci motor

Keterbukaan dan kesediaan untuk membantu. Aku pikir itu adalah dua hal yang mempertemukan aku dengannya pada saat itu dan juga awal pertemuanku dengannya 3 tahun yang lalu.
Di kelas intensif SNMPTN aku duduk di pojokan kelas. kelas tidak terlalu penuh pada saat itu. Mungkin masih awal program sehingga anak-anak yang mengambil program setahun penuh masih malas untuk datang. Hanya aku anak yang memang mengambil program setahun penuh di kelas itu. Sisanya adalah wajah-waajah baru, mereka adalah anak-anak yang hanya mengambil program SNMPTN, sehingga banyak pendatang yang datang dari luar Bandung. Cukup lama aku menunggu, kemudian pria tionghoa ini masuk kedalam kelas, mengajar pelajaran sejarah pada saat itu. Itu adalah kali pertama aku melihatnya. Ada sesuatu yang berbeda dari cara mengajarnya, tapi aku tidak tahu apa.

Guru geografi malamnya mengirimkan SMS untukku menanyakan penilaian terhadap guru yang masih baru itu. Aku sudah memahami hal ini, karena setiap ada perekrutan guru baru maka yang menentukan adalah guru senior. Ya, guru geografi itu yang dianggap senior untuk mata pelajaran IPS.

“hmm, gini pak. Sebetulnya saya juga bingung menjelaskannya. Ada sisi yang menunjukkan bahwa jam terbang mengajarnya masih belum dapat dikatakan senior. Tapi ada sisi menarik yang saya pikir dalam gaya berkomunikasinya yang berbeda dari guru yang lainnya. tapi menyenangkanlah. Saya pikir untuk bimbel ini guru itu sudah memiliki kriteria yang dibutuhkan”, jelasku menjawab SMS dari guru geografi.

“hmm. Ya, dia lulusan Fikom Unpad sa”, balas SMS dari guru geografi dengan cepat.

Di hari yang lainnya ketika ia mengajar lagi, seusai kelas aku memberanikan diri menghampirinya.

“pak bisa bantu saya ?”

“apa yang bisa saya bantu?”

“saya lagi nyusun tugas akhir untuk level akhir di tempat les bahasa Inggris semacam paper gitu lah dan sebentar lagi saya harus mempresentasikan, forum lah ya. saya pikir bapak bisa bantu saya dalam hal ini, supaya presentasi saya lebih menarik. Saya tahu kalo bapak lulusan komunikasi”

“ohh, haha. Ya sebisa mungkin saya bantu. Mau kapan ?”

“sehabis ini ada kelas lagi pak ? saya ada nih satu lagi”

“ngga ada sih, tapi ngga papa. Biar saya tunggu di ruang guru”

“wah seriusan pak ?! oke, nanti abis beres kelas saya kesana ya. makasi loh pak !?”, kataku dengan girang

Setelah kelas selesai, aku ragu apa benar-benar pria tionghoa ini ada di ruang guru. Sambil melangkah ragu aku menghampiri ruang guru, dari jendela sudah terlihat. Ah ada ! langsung saja aku menghampirinya.

“jadi gimana apa yang bisa saya bantu ?” katanya dengan gesture yang menunjukkan keterbukaan.
Aku mengeluarkan paper dari dalam tas dan menanyakan banyak hal mengenai presentasi, apa yang akan ditanyakan penguji, dsb. Kami mengobrol cukup lama pada saat itu, karena pembicaraan juga tidak hanya mengenai paper ku. Pembicaraan mengalir membicarakan niatku dan minatku pada Fikom Unpad, membicarakan pelajaran sejarah yang merupakan kesukaannya, membicarakan pengalaman mengajar dan kuliahnya. Sampai-sampai kami tidak menyadari kalau bimbel sudah sepi, tidak ada murid dan juga sudah tidak ada guru..

*****

“duduk sa, silahkan silahkan”, katanya ketika aku memasuki rumahnya.

“puasa ngga?”

“puasa dooonng, jadikan ngga perlu repot-repot, heheh”, kataku dengan nada mengejek.

“hahaha, ya sudah siap untuk direpotkan juga kok”

“lagi ngga ngajar nih kak?” kataku dengan sapaan “kak”, karena setahun yang lalu ia memintaku untuk tidak memanggilnya “pak” lagi. Ia pikir hubungan ini juga sudah menjadi persaudaraan dan bukan sekedar guru dengan murid.

“ngga, libur kan. Yaa, paling sambil nyiapin bahan-bahan aja sih”

“jadi gimana nih? Ada apa sa?” katanya dengan gesture yang menunjukkan keterbukaan. Persis 3 tahun yang lalu.

Sambil membuka pembicaraan, aku menceritakan mengenai perjalanan pendidikanku selama semester-semester terakhir. Di tengah aku yang sedang bercerita, keluar seorang wanita dari salah satu kamar

“haloo, irsa ya ? Santi”, katanya dengan ramah dan sambil berjabat tangan denganku.

“puasa ngga?”

“iyaa puasa” kataku sambil tersenyum

“dulu irsa dateng kok ke kawinan kita San”, kata kak Barlian. Ya, setahun yang lalu kak Barlian memang mengundang aku ke acara resepsi pernikahannya.

“oh iya ? duh lupa yaa. Gak inget karena banyak yang dateng”, kata kak Santi sambil mengingat-ngingat dan tertawa.

Sementara kak Santi pergi ke belakang, aku dan kak Barlian melanjutkan pembicaraan lagi.

“dulu kak Barlian gimana bisa dapet ide penelitian skripsi ? sampe detik ini saya ngga tau banget mau neliti apa” kataku dengan ekspresi wajah frustasi dan mengacak rambut dengan kedua tanganku.

“heheh, dulu sih gini sa. skripsi saya tentang manejemen konflik. Saya mikir kalau seandainya jaman sekolah guru saya mengajar dengan komunikasi yang baik. pasti anak-anak akan mudah memahami apa yang guru sampaikan. Maka saya coba teliti dari hal itu”

“kualitatif ya?” tebak aku

“iya, saya tertarik dengan hal-hal yang hanya bisa diukur dengan kualitatif”

“ya, saya pikir juga gitu. Kalo idealnya emang kualitatif, terlalu banyak yang digeneralisasikan dalam kuantitatif. Tapi saya masih ragu untuk di psikologi mengambil kualitatif”

Lalu kak Ariel memberikan perumpaannya mengenai fenomena yang ada di kampusku mengenai spiritualitas.

“nah, kepekaan-kepekaan itu yang belum saya punya. Awareness terhadap fenomena atau hal dari sekitar yang dapat diangkat untuk diteliti belum saya dapet”

“ya tapi itukan kepekaan saya, kamu akan tersiksa kalau kamu pake kepekaan saya. Kamu harus cari sendiri”

“hmmm, sulit juga ya”

“atau begini deh sa, untuk membantu kamu nih. Kalau kamu yakin Tuhan membuat skenario hidup tidak ada yang kebetulan atau tidak sengaja, bahwa semua hal yang telah kamu lalui ada maksudnya. Maka kamu bisa ambil dari situ. Apa yang ingin kamu ketahui yang belum terjawab kaitannya dengan kehidupan kamu, hanya saja ini kamu tuangkan secara scientific. Ya, bukan berarti ngga boleh mempelajari hal baru atau yang diluar itu, tapi ini untuk membantu memudahkan aja sih sebenarnya”

Hening sejenak, menyadari bahwa apa yang dikatakannya juga menggambarkan pertemuanku dengannya. pertemuan pertama kali di bimbingan belajar itu dan berteman hingga saat ini, aku berada di rumahnya, dihadapannya, membicarakan sesuatu yang juga penting dalam hidupku ke depannya, betul-betul sudah diatur Tuhan.

aku mengiyakan pendapat kak Barlian sembari mencari-cari dalam hati dan pikiranku. Apa yang begitu signifikan dan belum terjawab dalam hidupku. Yang pertama terlintas dalam kepala ku adalah yan tempat bimbingan belajar itu

“sebenarnya sih kak, dulu saya pernah terbesit kalo mau neliti soal Daniel (Rumah Belajar Daniel nama bimbingan belajarnya). Waktu jaman masih bimbel disana ya kepikiran bahwa tempat bimbel ini beda, termasuk pengajar-pengajarnya. Tapi saya belum bisa menjelaskan secara objektif kenapa bisa begitu. Kalo dulu kak Barlian neliti apa di Daniel ?”

Tesis kak Barlian  memang mengenai bimbingan belajar itu juga.

“budaya organisasi”, katanya sambil mengambil tesisnya di rak buku lalu ia memberikannya padaku.


“ya kira-kira begitulah sa mengenai penelitian kualitatif, kalau hanya disuruh bab-bab awal saja kamu bisa liat contoh bab 1 tesis saya itu”

                                                                              ******

kak Barlian  memberikan softcopy tesisnya yang juga masih sampai bab 1 dan potongan-potongan data wawancara dari flashdisk-nya. Aku waktu itu kebingungan dengan tugas proposal penelitian mata kuliah metodologi penelitian semester 2. Saat itu aku juga masih rajin mampir ke bimbingan belajar tersebut karena kesibukan sebagai mahasiswa tingkat awal tidak padat dan kadang aku sekedar ingin ngobrol dengan guru-guru disana, menanyakan pandangan atau pendapat.

“waah, siip lah. Makasi ya pak. Kesekian kalinya nih bapak ngebantu saya”

“ah, ya gapapa kan saling bantu. Oia tahun depan saya tidak mengajar disini lagi sa. Tapi kalau kamu butuh bantuan apa-apa atau mau nanya-nanya hubungi saya aja ya”

“loh ! kenapa pak ?” kataku dengan kaget

“ya kan ngejar tesis aja. Kalau emang sudah cukup data dan selesai ya sudah”

“loh, jadi bapak ngajar disini Cuma kedok ?”

“haha, kedok. Ya bisa dibilang begitu”

“partisipan lah yaa”

Aku yang dulu berpikir bahwa nampaknya akan sulit keep in touch dengan guru yang satu ini. Malah sekarang rumahnya satu kawasan sama-sama di Arcamanik. Kak Barlian pindah ke Arcamanik setelah menikah. Bahkan sekarang ini masih bisa dengan leluasa menyambung silaturahim. Subhanallah !

****
“bawa aja dulu sa, siapa tau nemu topik yang mau kamu sorot” kata kak Barlian setelah menunggu lama aku membuka-buka tesisnya.

“iya deh, dibawa dulu ya. semoga dapet insight. Bisa dibilang Headstart nih saya, habis gimana ya kak. Saya uda jalanin 3 tahun di psikologi tanpa passion. jadi saya pikir, di tingkat akhir ini saya ingin membayar semua itu. saya ngga mau lagi ngerjain sesuatu macem formalitas dan menggugurkan kewajiban. Paling tidak, walaupun sekedar penelitian, saya juga ingin ada keberkahan dan manfaat di dalam proses dan hasilnya kan” kataku sambil membereskan tas dan memakai jaket.

“iyaa, iyaa streotipe orang idealis.” Katanya sambil tersenyum dan volume suara yang mengecil

“hah, emang saya idealis?!”

“ah, dari dulu !”

“taunya??”

“ya keliahatan saja pemikirannya suka berbeda. Hehe.” Katanya sambil tertawa kecil dan tidak menatap wajahku. “ya terserah kamu sih, kalo kamu mau lulus cepet, masalah waktu dan biaya juga jadi pertimbangan secara pragmatis tentunya. Makanya tulis aja dulu topik-topik yang menarik bagi kamu. Lebih bagus kamu pra-survey dari sekarang sebelum masuk kuliah.”

“kegesitan ngga sih ?”

“ya ngga lah, emang kamu lulus kuliah pa tunggu-tunggu sama temen-temen kamu”
Aku berpamitan dengan Kak Santi sementara kak Barlian membantuku mengeluarkan motor.

“duh uda namu, penghuni lagi yang ngeluarin motor” kataku merasa tidak enak

“ah, ngga papa, lagipula saya jarang dapet tamu. Nyampe rumah juga suka malem”

“bentar lagi jugakan pasti ada mahasiswa bimbingan kaak, hahah” kataku mengejek

“ah, saya belum dapet izin sebetulnya untuk membimbing, masih baru kan saya. Yah setidaknya kamu yang pertama secara unofficial” katanya sambil tertawa

****

Dijalan pulang dari rumahnya, aku mengingat-ingat bantuan kak Barlian selama ini sudah sangat banyak, banyak hal mengenai kehidupan yang jadi dapat aku sikapi dengan bijak. Spiritualitas yang dimiliki dan sebagai kristiani taat juga membuatku memandangnya seolah kak Barlian sudah mencapai wisdom di usia yang masih muda.

Ketika aku masih awam soal perkuliahan, kak Barlian memberikan gambaran mengenai dunia perkuliahan. Ketika aku bingung mengenai tugas-tugas perkuliahan yang aku hadapi, kak Barlian membantuku memberikan pandangan-pandagannya. Ketika aku tidak tahu siapa yang harus dijadikan OP anamnesa, kak Barlian waktu itu bersedia.

Ketika aku tidak yakin dengan jalan hidup psikologi kak Barlian yang meyakinkanku
Pencobaan yang kamu alami tidak akan melebihi kekuatanmu, pada waktunya Tuhan akan memberikan jalan keluar. Hidup itu lebih kayak lari maraton daripada lari sprint. Masalah daya tahan dan ketabahan, bukan masalah kecepatan, you’ll be fine kid.
Anggaplah kamu masuk psikologi karena menurut Tuhan kualitas kamu terlalu bagus untuk di di jurusan yang kamu inginkan, maka Tuhan memilihkan psikologi untukmu..
well, you have more than you think irsa...the best is yet to come....

dan ketika aku hampir berhenti di tengah jalan. Kak Barlian juga yang meyakinkanku
Saya tidak bisa bantu meyakinkan kamu soal psikologi, itu rasanya di luar kemampuan saya, tapi mungkin berbagi apa yang saya tahu soal kondisi ketika berada di dalam lubang atau padang gurun yang namanya "proses" itu. Ketika proses begitu berat, arahkan mata pada tujuan akhir, apa yang ingin kita capai, orang macam apa yang ingin kita menjadi.
Yang perlu kita lawan adalah ketakutan2 kita, ketidakpercayaan kita pada penyertaan Tuhan, rasa rendah diri, minder, khawatir, malas, dan juga kesombongan2 kita, setiap hari (istilah saya "menyangkal diri dan pikul salib").

Skripsi belum dibuat saja ucapan terimakasih ku sudah menunggu satu nama untuk ditulis. Ah, tidak hanya skripsi aku pikir, mungkin.. sebuah novel aku, duniaku, dan penghayatanku..

Terima kasih ya Rabb, telah mengirimkan orang-orang yang luar biasa dalam hidup ini, yang mengajarkan aku banyak hal, yang mengingatkan bahwa hidup bukan merupakan ketidaksengajaan. Seluruhnya telah dirancang dengan perhitungan yang sempurna dari Mu ya Allah

Dari aku duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 12 Agustus 2012
Irsa Ikramina

Tuesday, July 3, 2012

aku dan islam yang mendewasakan

tau agama itu mudah tapi dewasa dalam beragama itu sulit

“sa, kok bisa sih lu jadi orang yang religius, lu setelah liburan kaya langsung berubah”, tanya seorang temanku.
“ujian kehidupan mungkin? Pada saat itu gue emang lagi dirundung banyak ujian”, jawabku yang sebetulnya merasa seperti tidak menjawab pertanyaan temanku. Karena aku tau ini akan sangat panjang untuk dijelaskan. Lagipula ungkapan ini hanya akan menunjukkan bahwa kalau susah baru cari Allah. Tapi sebenarnya, ujian juga yang mendewasakan, membuat lebih dekat dengan-Nya.
Percakapan itu terjadi di semester tiga setelah liburan panjang semester genap. Kebetulan aku juga tidak mengambil semester pendek pada saat itu. Mungkin teman-teman memperhatikan status update facebook ku selama liburan yang rata-rata jadi bertemakan spritual.
Mungkin disini aku ingin sedikit bercerita dan berbagi tapi bukan juga menceramahi tentunya, karena bagiku spritual dan agama adalah sebuah perjalanan, sebuah proses jadi bukan berupa materi yang harus dipelajari seperti kuliah. sebetulnya Islam bisa mendewasakan kita, tapi di sisi lain kita juga dituntut untuk dewasa dalam beragama.
Semenjak duduk di bangku TK, aku disekolahkan di sekolah swasta berbasis Islam. kebiasaan dalam Islam dan hafalan doa sehari-hari mulai diperkenalkan. Memasuki SD, doa surat-surat pendek mulai diperkenalkan, tata cara shalat dengan benar dari yang wajib hingga sunnah, pelajaran mengenai agama mulai beragam. SMP dan SMA pendalaman dan spesifikasi pelajaran agama mulai meningkat, sehingga pada saat itu pelajaran agama pun harus dipecah menjadi aqidah, akhlak, ibadah, sejarah islam, dan sebagai tambahan ada pelajaran alquran yang mempelajari tafsir dan tanda baca serta bahasa Arab.
Pada saat itu segala ritual Ibadah hanya dilakukan pada taraf kebiasaan saja. Sekedar menggugurkan kewajiban dan bahkan formalitas. Dari TK sampai SMA kelas 1, bukan waktu yang sebentar aku pikir untuk dijejali ilmu agama. Aku sering mengeluh jenuh bersekolah disitu. Aku ingin bersekolah di sekolah umum.
Ketika kelas 2 SMA aku memutuskan untuk hijrah ke Bandung (baca aku dan hijrah), berpindah sekolah ke sekolah negeri (umum) dan keluar dari lingkungan yang begitu “Islam” di sekolahku. Ada misi yang harus dicapai ketika hijrah, mencari makna kehidupan sekaligus menyembuhkan vacuum existential yang aku alami. Ternyata itu memunculkan kesadaran spiritual dalam diriku. Ada rasa kehilangan juga mengenai budaya Islam, karena kini di sekolah baru ku sudah tidak ada lagi salah berjamaah, tidak ada lagi ikrar yang diucapkan setiap pagi, tidak ada lagi peraturan yang berlandaskan Islam, dsb. Tapi disnilah aku dihadapkan pada suatu kesadaran bahwa ternyata agama bukan hanya soal ritual ibadah yang dilakukan sebagai kebiasaan dan luasnya pengetahuan agama yang dimiliki. Jadi apa?
Seiring dengan perjalanan aku mencari makna kehidupan, dalam hal ini Islam turut mendewasakanku. Dalam upaya meredakan kegundahan hati shalat, tidak dipandang lagi hanya sebagai ritual Ibadah aku coba lebih memahami arti bacaannya, menghadirkan hati, dan meningkatkan kesadaran bahwa shalat adalah sedang berhubungan langsung dengan Sang Khalik. Shalat yang seperti ini yang sebetulnya secara hakiki akan mendatangkan ketenangan, secara emosional juga lebih stabil dan tidak banyak gelisah hati. Itu yang aku rasakan.
Tanpa disadari sebetulnya dalam shalat juga melatih manusia untuk adjustment. Bukan memang begitu kehidupan? Kita harus selalu adjust dengan segala perubahan. Shalat punya segudang alternatif supaya kita bisa menjaga kontinuitas pelaksanannya. Kalau tidak ada air, bisa pake tayamum. Kalau lagi berpergian, bisa jama’ dan qashar. Kalau lagi sakit, boleh sambil duduk atau tiduran.
Shalat juga mendidik untuk sabar dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan segala hal. Setiap gerakan shalat yang dilakukan harus secara tumaninah. Pada dasarnya tergesa-gesa merupakan perbuatan setan, karena hanya mengedepankan hawa nafsu. Aku pikir, segala hal yang kita lakukan dalam kehidupan jika dilakukan tergesa-gesa tentu hasilnya akan tidak maksimal.
Setelah shalat bisa dinikmati maka akan merambah pada ritual ibadah yang lainnya, misalnya puasa dipandang sebagai melatih mengendalikan hawa nafsu, zakat dan sedekah adalah untuk berbagi dan lebih besyukur. Memang, perjalanan ini membutuhkan waktu dan proses. Setiap orang juga memiliki skenario kehidpan yang berbeda untuk bisa mnecapai titik ini.
Setelah ritual ibadah bisa dinikmati, maka ada beberapa variabel dalam islam yang menuntut kedewasaan tapi juga dapat mendewasakan, diantaranya ada sabar, ikhlas, syukur, tawakal. Kenapa dapat dikatakan menuntut kedewasaan tapi juga mendewasakan?
Apapun motif soal ujian yang diberikan Allah, toh kisi-kisinya tetap sama. Allah ingin menguji kesabaran, keikhlasan, keyakinan, rasa syukur, berserah diri, amanah, dan kebersihan hati.
Sederhana, tapi memang tidak mudah dan membutuhkan waktu untuk bisa memahaminya. Seringkali ketika manusia dihadapkan pada suatu ujian, padahal jawabannya seringnya sudah tau, misalnya sabar. Tapi begitu sulit untuk menjalankannya. Tapi, ketika kita berhasil melaluinya, lalu kita menoleh ke belakang kita akan menyadari bahwa satu langkah lebih dewasa dari sebelumnya.
Itu sebabnya begitu mudah terlihat orang-orang yang dapat menguasai variabel-variabel tersebut, tenang, tidak kemerusuk, dewasa, soleh. Meskipun ini semua tidak tekait pada suatu kategori dewasa atau tidak dewasa, soleh atau tidak soleh. namun ketika kita berbicara soal spiritual maka ini merupakan sebuah perjalanan dan juga proses. Artinya, orang juga selalu dituntut untuk belajar lagi untuk lebih baik.

Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 3 Juli 2012
Irsa Ikramina