aku, duniaku, dan penghayatanku. aku adalah siapa aku yang sebenarnya, aku yang memiliki eksistensi, dan aku yang memaknai. duniaku adalah tempat aku memberi makna;bereksistensi. dunia hidup yang dialami olehku. penghayatanku, adalah melihat dari sudut pandang aku, berpikir dengan pemikiranku, dan merasa dengan perasaanku.
terdengar subjektif? tapi sebenarnya ini adalah perihal eksistensi manusia.

sebuah perjalanan memahami diri, memaknakan kehidupan, mencari kebebasan yang hakiki, memilih jalan-jalan yang dapat mempertemukan aku dengan-Nya. apa artinya sebuah eksistensi jika tidak ada yang dapat bermanfaat bagi eksistensi orang lain? semoga, ada (hikmah) yang bisa aku bagikan dalam rangkaian pemaknaan kehidupan ini.

Sunday, October 25, 2015

Pulang

Suatu hari di toilet kantor. Aku membasuh wajah dengan air di washtafel. Lalu aku memandang refleksi diriku sendiri di cermin.

“oh, aku masih hidup dan masih menjadi aku”, ucap ku dalam hati
.
Seseorang yang jabatannya lebih tinggi 2 level dariku baru saja membunuh karakter ku. Lalu aku menyadari suatu hal. Pembunuhan karakter tidak akan membuat aku mati ternyata dan tidak akan membuat aku melupakan diri ku sendiri. Jadi buat apa ada orang yang selalu membunuh karakter orang lain ?

Orang-orang inferior memang umumnya akan membunuh karakter orang lain, untuk membuat dirinya superior. Sedangkan orang yang dibunuh karakternya agaknya memang harus bersyukur, karena ia berada pada posisi yang menguatkan dan membangun karakternya sendiri.

Dalam dunia keja seperti ini, yang perlu di sadari bahwa kita tidak hanya belajar soal KPI, SOP, analisa, data, presentasi, improvement, audit, product knowledge, dll.  Itu remeh sesungguhnya. Tp karakter dan mental seseorang yang akan menentukan kematangan juga harus selalu dibangun. Ya aku rasa, aku memang memerlukan peran-peran antagonis yang membunuh karakter dalam skenario hidup ku saat ini. Tentu saja untuk membentuk mental dan karakter yang lebih matang.

Hidup memang tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya, sesuai keinginan dan wacana. Karena memang manusia terlalu sok tahu atas apa yang baik bagi kehidupannya dan terlalu sering berkhayal menjauh dari kenyataan dengan melukiskan wacananya sendiri.

Aku tersenyum pada refleksi diriku sendiri, meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini baik-baik saja.

Aku keluar toilet. Kembali ke ruang kerja. Di meja kerjaku ada buku.

Nasib Manusia.

Judul buku yang aku pinjam dari rumah buku. Karya seorang temanku, Syarif Maulana. Mengisahkan perjalanan hidup Pak Awal Uzhara, yang menuntut ilmu perfilman di Rusia, kemudian tidak bisa pulang karena dicurigai ada kaitan dengan G30S PKI pada masa itu. Bahkan kewarganegaraan Indonesianya dicabut sehingga ia stateless (tidak memiliki kewarganegaraan). Nasibnya terkatung-katung selama 50 tahun di Rusia dengan impian bisa pulang ke tanah air.

Cerita ini agak menohok, setidaknya bagi ku pribadi. Bahwa hal yang sederhana direncanakan manusia, yaitu sekolah di luar dengan beasiswa lalu pulang ke tanah air. Menjadi tidak sederhana lagi.

Aku menjadi banyak berpikir soal kenyataan, nasib dan pilihan hidup.

Seperti aku, aku tidak memilih berada di ruangan ini, ditanyai ini itu oleh staff ku dan di suruh ini itu oleh atasan ku. juga, saat pekerjaan sedang memenuhi kehidupan ku. aku sangat rindu sekali untuk pulang. Pulang ke tempat aku merasa pulang bersama seniman-seniman lainnya. Tidak sulit bagi aku dan mereka untuk saling dekat dan bicara dari hati ke hati, juga menyikapi soal hidup. Aku merasa seperti dilahirkan dari rahim yang sama.

Tapi di sini, di tempat kerjaku saat ini. Pekerjaan sederhana saja bisa menjadi pelik. Dengan dasar dan alasan yang tak pasti. Kelakuan kelakuan manusianya pun melampuai batas nalar. Ya, meskipun tak semua dan tekecuali tim ku.

Aku sedikit mengasosiasikan hidup ku dengan Pak Awal, kami sama-sama rindu ingin pulang. Hanya saja tempat aku pulang lebih abstrak dan Pak Awal lebih konkret.
ketika jam solat tiba, aku pergi ke musola. sambil jalan ke musola, aku ingat kata atasan ku padaku, “ya kalau itu kehidupan yang kamu inginkan, maka persiapkanlah untuk itu”. ya, maksud atasan ku adalah aku harus siapkan darimana penghasilanku dsb kalau aku mau hijrah ke dunia tempat aku merasa pulang itu.

oia, aku sebetulnya bukan pemeluk islam yang taat secara praktek ibadah. Tapi aku spiritualis. Aku percaya Tuhan, aku yakin Tuhan, aku banyak bicara dengan Tuhan. Aku tidak paham soal agama terlalu dalam, tapi bertahun-tahun di sekolahkan di sekolah islam, membuat aku selalu menggunakan juga kacamata islam dalam setiap permasalahan hidup yang aku alami.

Tunggu dulu.. jadi sebetulnya pada hakikatnya aku  mempersiapkan diri untuk pulang ya ? ah, iya, bukankah hidup memang seperti itu adanya. Mempersiapkan diri untuk pulang secara lebih hakiki dalam artian, ke kampung akhirat.
Kalau ditafsirkan secara lebih dalam, aku dan Pak Awal mengalami perasaan yang memang merupakan fitrah manusia, yaitu kerinduan untuk pulang kepada yang menciptakan.


Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 25 Oktober 2015
Irsa Ikramina


            

Friday, February 20, 2015

aku dan industri

         Tidak terasa, sebulan sudah aku menempa diri di dunia industri. Dunia yang menuntut serba cepat, rasional, sistematis serta prosedural. Ya tentu saja hal tersebut menggerus kepekaan emosi dan afeksi terhadap manusia. Behavioristik menekan humanistik. Meskipun dunia industri menempa soft skill dan kompetensi, tapi di saat yang bersamaan, di sisi lain, ada nilai, etik dan idealisme profesi yang tersudut. Memahami manusia dengan menggunakan kacamata kepentingan korporasi, bukan memahami eksistensinya.
            Sampai detik ini, aku mempersepsi diri ku bahwa aku belum berjiwa industri, bahkan aku belum memilikinya. Mungkin karena aku terlalu berpegang teguh pada nilai-nilai profesi. Ntahlah, industri di mata ku tetap saja, “terlalu” rasional. Banyak hal yang aku lihat, aku dengar, aku alami tidak sesuai dengan hati ku. Banyak juga tuntutan dari pekerjaan ku yang membuat aku mengalami konflik super ego. Berapapun lamanya aku hidup di industri. Aku hanya selalu mengingatkan diri ku, bahwa apa yang aku tampilkan pada setting industri hanyalah sebatas peran dan tuntutan kerja, aku tidak ingin menginternalisasi begitu dalam nilai-nilai industri sampai merubah kepribadian dan cara pandang ku seperti manusia manusia yang telah terlalu dalam terbentuk oleh industri. Cukup sebatas menempa diri untuk meningkatkan skill dan knowledge. Yah, mungkin juga sedikit mental, karena harus menghadapi berbagai macam orang yang... ntahlah.. sulit ku jelaskan.
            Atasan langsung ku terus terang saja sangat industrial mindset, didukung oleh latar belakang pendidikan yang lebih tinggi dan sesuai bidangnya, jabatannya, serta memang kompetensi manajerialnya yang telah terasah dari pengalaman kerjanya. Menurut ku ia atasan yang sangat baik hatinya, tapi terlalu rasional dan sanguinis sehingga mungkin sepertinya agak kesulitan memahami duniaku yang banyak melibatkan emosi, afeksi, estetika, deep emphathy dan juga idealisme profesi. Itu sebabnya ia bilang aku tukang galau, padahal kenyataanya memang aku tidak serasional dirinya. Ia sabar karena ia berusaha memahami duniaku yang sangat jauh dari industri. Karena kalau ia mau, bisa saja ia mendepakku selepas masa percobaan ini, lantaran aku adalah manusia yang sulit dipahami. Tapi aku rasa ia tidak akan menyerah. dalam hal pekerjaan, ia tidak pelit ilmu, kapan pun dan apapun aku bertanya ia ajarkan. Ini salah satu alasan aku bertahan di industri. Mungkin memang Tuhan ingin aku belajar sesuatu di sini. Tuhan memberi aku mentor. Terus terang saja aku ngos-ngosan, mengikuti ritmik kerjanya yang lari sprint sementara aku tipe pelari marathon. Tapi selama Tuhan memberi kesempatan belajar ini, akan aku coba ikuti meskipun berdarah-darah. Ia berlari maka aku ikut lari, ia jalan aku akan mendampinginya, ia diam aku akan menemaninya.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 9 Februari 2015
Tengah Malam, pukul 00.27 di rumah atasan langsung ku.
Menjelang dinas bersama geng dept.head.
Irsa Ikramina

              

Friday, December 19, 2014

Aku, seniman yang mewaqafkan 40 jam seminggunya di dunia korporasi

           Jika seniman pada umumnya, atau siapapun yang menyebut dirinya seniman, atau yang dikenal sebagai seniman setiap jam dalam hidupnya ia waqafkan untuk berkarya. Aku bukan seniman yang seperti itu. aku harus mewaqafkan 40 jam seminggu dalam hidupku untuk korporasi. Itu belum termasuk loyalitas.
            Sampai kapan aku akan seperti ini. Aku pun belum tahu. Belum bisa berandai-andai. Hidup memang harus punya rencana dan strategi pencapaiannya. Tapi hidup ku tidak sesederhana itu. tarik menarik antara passion dan desakan kehidupan terus saja mendesak ku. Tapi aku tidak akan kalah. Aku malah menyadari suatu hal, bahwa tidak semua seniman memiliki seluruh waktu dalam hidupnya untuk berkarya. Tidak selalunya seniman menjadi satu kesatuan entitas dan eksistensi. Bagi seniman seperti ku. Seniman adalah eksistensi jiwa ku. Tapi entitas atau atribut yang dikenal dari diri ku bisa saja berupa akademisi, korporasi, profesi. Bisa apapun.
            Apakah aku merencanakan kembali ke dunia korporasi ? tentu saja tidak. Tapi anggaplah, ketika aku memutuskan untuk mewaqafkan sebagian waktu ku di korporasi, itu adalah upaya memperkaya pengalaman batin, karena penting bagi seniman agar dapat menciptakan karya yang lebih dalam, lebih bermakna, tidak sekedar indah tapi juga menggugah emosi estetik.
            Selama aku mencintai seni, selama aku selalu ingin berkarya, selama aku mudah tergugah dengan emosi estetik dari suatu karya, selama aku selalu merasa damai ketika berada di tengah perkumpulan seniman dan  selama aku merasa “pulang” ketika berada ditengah diskusi filsafat atau bedah karya seni serta apresiasi seni, selama aku merasa “charging” ketika di tengah pameran karya seni. Maka aku akan selalu menjadi seniman, apapun entitas ku. Ya.. setidaknya bagi diriku sendiri.


Dari aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 19 Desember 2014
Irsa Ikramina

            

Sunday, December 14, 2014

Seni dan Psikologi sebagai kampung halaman ku

Belajar dan membaca sudah menjadi nafas bagi kehidupan ku. Pengalaman menyusun skripsi dengan metode kualitatif ternayata begitu memengaruhi ku secara mendalam. Hidup ini memang selalu menjadi peneliti kualitatif rasanya. Belajar memahami kehidupan dan manusia, juga secara mendalam.
            Belakangan ini aku sedikit keluar dari “kampung halaman” ku. Belajar dan berkecimpung di dunia bisnis. Menarik ? ya juga. Malah aku belajar memperhitungkan setiap langkah dari dunia bisnis ini. Nyaman ? tidak. Seni dan psikologi tidak memadang segala hal dari sudut padang keuntungan (kecuali psikologi industri mungkin). Sedangkan di bisnis, aku harus menggunakan kacamata itu. Padahal, tidak selalunya hidup ini berdiri di atas azas keuntungan, ada juga azas manfaat. Seni dan psikologi dekat dengan filsafat. Di bisnis apa perlu filsafat ? aku rasa tidak. Sisi manusiawi ku lebih merasa terancam di dunia bisnis daripada dunia kampung halaman ku. Walaupun tidak selalu dan semua, tapi di dunia bisnis aku menemukan orang yang mengedepankan kehendak pribadinya dengan mengabaikan sisi manusiawinya terhadap manusia lain khusunya yang dipekerjakannya. Seperti kehidupan di korporasi besar yang pernah aku rasakan dengan kemelut politik dan intriknya.
            Aku tidak bilang ya orang yang berkecimpung di dunia bisnis lantas adalah orang yang kejam. Tidak. Jika kepemimpinan dan manajemennya baik, mereka akan sangat berjasa dalam memberikan kontribusi positif kepada market dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Hanya saja, seperti tidak sejalan dengan apa apa yang diajarkan di kampung halaman ku, yaitu seni dan psikologi.
            Tapi jangan salah, kemasan bisa profesi tapi jiwa bisa saja bisnis. Ya, misalnya seperti dokter yang mengeruk keuntungan dengan berjualan produk obat melalui resep yang dituliskannya padahal tidak terlalu perlu atau mempraktekan orto padahal bukan spesialiasasinya demi menarik banyak pasien yang sebteulnya jumlahnya sudah sangat overload untuk ia tangani sendiri.  Ada juga dokter-dokter yang sangat idealis, bagi mereka kebahagiaan adalah ya mengobati pasien, mereka juga tidak terlalu hitungan kepada pasien ya yang penting pasien lekas sehat. kalau di dunia musik, akan terpecah menjadi dua lagi. Yang naluri bisnis kuat akan lari kepada industri musik “yang sesungguhnya” sedangkan musisi yang bersifat “nyeniman” mereka tidak terlalu kejar setoran semacam itu. Yang penting bisa berkarya yang idealis, bemain musik dengan nyaman dan dapat menghibur pendengar itu saja cukup. Om Arbain Rambey juga pernah mengatakan pada ku kalau dalam dunia fotografi, ya ada dua macam. Yang berada pada jalur profesional akan selalu menyesuaikan keinginan klien dan berkaitan dengan rupiah. Tapi kalau nyeniman banget yang tidak terlalu memikirkan hal itu. Berkarya lah sepuasnya
Sekali waktu aku pernah berkunjung ke kampus lain dalam rangka peluncuran buku dan interpretasi seni salah satu teman ku yang berprofesi sebagai dosen di sana. Tentu saja teman ku ini berada pada dunia yang sama dengan ku. Ia musisi, filsuf dan penulis. kebiasaan buruk ku memang selalu saja naif, aku pikir akademisi ya akademisi. Tapi ternyata tidak. Agak terkejut juga melihat kemasan akademisi, namun jiwanya adalah korporasi. Semuanya sangat terlihat dari cara bicara, isi pikiran dan gelagatnya. Ya karena aku pernah bekerja di korporasi besar jadi tahu jenis manusia dan iklminya seperti apa. Si akademisi berjiwa korporasi malah mengungkapkan kecewa bahwa universitasnya akan digolongkan menjadi PTN bukan PTS lagi. semakin saja menguatkan pikiranku. Pantas saja teman ku ini pernah bilang kalau ia mau menduduki jabatan yang lebih tinggi untuk merubah situasi di sana yang menurutnya sudah terlalu bisnis.
Tidak ada yang salah dengan heterogennya pilihan-pilihan itu. Hanya saja aku semakin lama semakin memahami. Darimana asal ku dan kemana aku akan pulang meskipun merantau menimba ilmu ke berbagai bidang. Not bad mencoba merantau jauh dari kampung halaman. Semakin membuka pandangan dan memahami kehidupan dan manusianya di dalam bidang-bidang tersebut. Bagaimana pun, psikologi itu universal, karena idealismenya memahami manusia. Justru harusnya lulusan psikologi bersifat generik. Mampu beradaptasi di segala bidang kehidupan manusia. Hanya saja, semua berpulang pada kesediaan manusia yang bersangkuan. Psikologi tidak hanya terampil menggunakan alat tes, tidak hanya berurusan dengan HR. Tapi harusnya lebih dari itu. Dengan merantau seperti ini, aku bisa mencapai idealisme psikologi yaitu memahami manusia. Jadi tidak sempit hanya pada mengetes dan tek tek bengek HR. Toh, ilmu nya juga malah manfaat dengan mencoba berbagai bidang. Misalnya saja dalam dunia bisnis ini, meskipun tidak sesuai dengan jiwaku, tapi memberi kan pemahaman lebih pada proses bisnis dan strategi bisnis apapun, sehingga kalau aku harus kembali mengenakan “kemasan” HR di suatu korporasi (meskipun aku bukan mental korporasi) aku akan mampu beradaptasi pada industri dan proses bisnis apapun. Ya, HR memang harusnya produk generik yang mampu beradaptasi pada industri dan proses bisnis apapun. Mungkin kampus ku meluluskan sarjana psikologi yang terlalu klinis atau memang mentalku terbentuk kilinis sepanjang proses kuliah, sehingga ketika menjadi HR perlu waktu untuk memahami dan beradaptasi dengan proses bisnis dan industrinya untuk dapat “menyentuh” manusia yang bekerja pada sistem tersebut.
            Selanjutnya kemana kah aku akan merantau ? aku pun belum tahu pasti. Apapun itu, semoga seluruh ilmunya dapat terintegrasi dengan baik untuk dapat mencapai keuntungan eh, manfaat J ya, karena aku jiwa yang menganut azas manfaat, karena hanya dengan manusia yang menjadi manfaat di dunia dapat selamat di kehidupan yang selanjutnya.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 15 Desember 2014
Irsa Ikramina


Diambil dari catatan harian 12 Maret 2013

Wanita ini lahir pada tahun 1939, itu berarti ia melewati masa dimana Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya. Sewaktu kecil aku memandangnya “keren” karena ia melalui kisah sejarah yang tertulis dalam buku pelajaran sejarah.
Wanita ini aku panggil, nenek.
Sewaktu kecil, sosok nenek menjadi begitu penting, selain dalam kunjungan liburan, sosok nenek menjadi tempat dimana terbebas dari aturan-aturan orang tua. Ketika aku dewasa, sosok nenek tidak begitu “keren” lagi. Mungkin karena perbedaan zaman dan generasi yang sangat jauh sehingga nasehat-nsehatnya sudah tidak relevan dengan kehidupan anak muda sekarang.
Keren, tidak keren sosok nenek dimataku sekarang, yang jelas rasa sedih, kehilangan, dan penyesalan sedang membalut hati ini ketika aku melihat tubuhnya yang telah kaku dibaluti kain kafan dan diiringi dengan lantunan surat Yasin. Warna-wara akromatik yang bergejolak dalam diri ini membuatku hanya bisa terpaku menatapnya, berusaha menerima kenyataan bahwa jiawanya telah meninggalkan raganya.
Rasa sesal mengganjal hati ketika tidak responsif terhadap firasat kepergiannya dan tidak menyadari kelembutannya yang selalu tercurah. Nasehatnya yang tidak relevan dengan masa kini, sesungguhnya adalah kelembutan dan pehatian dari kasih sayangnya. Nasehat sederhana, tapi begitu menyentuh jika dikenang meski sosoknya telah tiada..
Tuhan, nenek telah mewakilkan sifat lembut dan kasih sayang Mu. Ya latif, Ya Rahman, Ya Rahim. Maka terimalah nenek di sisi-Mu. Tempat paling mulia. Amin.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 12 Maret 2013

Irsa Ikramina

Saturday, December 13, 2014

Aku dan Pengalaman

“Kerja untuk mencari karir dan uang atau pengalaman ?”

“Meskipun kehidupan saya sulit dan seperti ini. Saya lebih tertarik dengan pengalaman”


Begitulah sekilas pertanyaan dan jawaban yang terjadi di wawancara kerja ku pagi ini. Setelah hampir setahun. Ini adalah wawancara yang pertama aku merasa “serius” kembali dalam menjalaninya. Setelah belasan wawancara aku lalui dengan kebodohan dan kecerobohan dikarenakan jenuh dan bosan. “Serius” karena aku berminat dengan bidang industri bisnisnya, timnya dan... karena aku harus hijrah dari kejahiliyahan yang aku hadapi saat ini.
Soal jahiliyah nanti saja. Soal pengalaman dulu. Aku sendiri tidak tahu pasti mengapa aku lebih memilih mencari pengalaman dibandingkan karir dan uang. Padahal aku hidup di tengah himpitan finansial. Apa pengalaman lebih membuat aku bahagia ? tidak juga. Banyak pengalaman pahit yang aku alami. Apa karir dan uang tidak membahagiakan ? ya tidak juga, membanggakan bahkan. tapikan tetap saja setiap pengejaran dan pencarian dunia akan bertemu sandungan-sandungan. Semua hal tersebut sebetulnya sama fatamorgana dan semu. Tapi satu hal yang menurutku lebih pasti adalah pemaknaan terhadap pengalaman-pengalaman yang dialami, tentu bisa membawa kebahagiaan batin.
Bagi aku yang menempuh skripsi dengan metode kualitatif, akan menaruh perhatian penting serta kepekaan terhadap pemaknaan pengalaman. Manusia dibentuk oleh pengalaman-pengalaman tersebut, bagaimana pengalaman tersebut dapat memengaruhi manusia secara mendalam dan bagaimana memaknakan pengalaman tersebut secara mendalam. Dan dalam proses pengaruh dan pemaknaan antara manusia dan pengalaman tersebut, muaranya pasti adalah syukur dan ikhlas. Mungkin ini lah sebabnya aku lebih memilih mencari pengalaman, karena pada akhirnya aku akan selalu bertemu Tuhan. Sedangkan dalam mengejar karir dan uang aku hanya akan mendapati sekedar dunia, bisa jadi dengan hati yang hampa. Pemaknaan pengalaman yang muaranya adalah Tuhan, akan selalu membuat hati ini penuh.

Dari aku, duniaku dan penghayatanku
Bandung, 14 Desember 2014
Irsa Ikramina

Wednesday, September 19, 2012

Aku dan perwalian maha galau


           Akhirnya tiba juga perwalian maha galau sepanjang masa perkuliahan. Perwalian semester 7 adalah seperti memilih agama. Kita harus yakin dengan apa yang kita kontrak adalah sanggup untuk dijalani. Sudah tidak ada lagi ikut-ikutan teman, ini adalah memilih jalan untuk segera meraih tiket kelulusan menjadi seorang sarjana. Di semester ini kita harus mempertimbangkan banyak hal untuk mengontrak mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian dan berbobot sks besar. Taruhannya adalah waktu atau masa studi. Belum lagi ada yang tidak bisa mengambil mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian itu karena sks yang ditempuh masih kurang atau masih ingin memperbaiki nilai-nilai yang sudah terlanjur tercetak di transkrip nilai.
            Sudah dari beberapa hari lalu aku saling berhubungan dengan Anis sekedar untuk mengecek apakah keimanannya masih sama mengenai apa yang akan dikontrak dan apa yang akan didrop untuk  semester depan. Semua kami putuskan atas berbagai pendapat dari senior dan juga kesanggupan kami. Belum lagi ada mata kuliah baru yang disungguhkan untuk angkatan kami, dan itu merupakan mata kuliah pilihan. Ini juga menambah tingkat kegalauan dikalangan mahsiswa yang baru menginjak tingkat akhir. Timeline twitter sejak seminggu lalu pun sudah mulai ramai dengan kicauan para mahasiswa yang galau akademik.  
            Hari maha galau itu pun tiba. Anis tiba lebih dulu di kampus. selang setengah jam akupun sampai di kampus. sesampainya di fakultas aku melihat Anis sedang mengobrol dengan teman-teman yang lain. Aku sudah bisa menebak dari kejauhan apa yang mereka sedang bicarakan, pasti mengenai mata kuliah baru pilihan itu. training atau konseling ? aku dan Anis sudah haqul yaqin untuk mengontrak training. Sehingga pandangan apapun yang kami dengar tidak akan menggoyahkan keimanan kami. Sambil menunggu antrian perwalian, obrolan maha galau itupun terus berlanjut menguji keimanan setiap orang yang terlibat dalam obrolan itu. Hingga keimanan Anis pun sempat tergoyahkan,
 “sa, apa gue betul-betulin nilai dulu aja ya? jadi gue ngga usah ambil metpen1) dulu”
“hus, istigfar nis. Sayang masa studi, IPK lu kan masih 3 koma. Yang maha galau itu kalo kita ngga bisa ngontrak metpen sama KKPP2). Lah ini kita bisa, kenapa ngga hajar terus aja.”
“iya juga siih”
            Keimanan Anis pun kembali di jalan yang lurus. Selama obrolan yang menguji keimanan dan menunggu antrian perwalian itu. aku perhatikan Rendy sudah bolak-balik masuk ruang wakil dekan, yang merupakan dosen wali kami, Ibu Milda. Pertama Rendy merubah pilihan training atau konselingnya, kemudian dia masuk lagi kedua kalinya untuk merubah kontraknya untuk tidak jadi mengambil semua yang ada di semester 7 itu. memang, paket sesungguhnya pada semester 7 itu adalah 3 penelitian yang terdiri dari metpen, KKPP, dan juga Psikologi Islam V3). Serta mata kuliah pilihan training/konseling dan beberapa mata kuliah penghabisan. Jika kita dapat mengambil semua mata kuliah yang sudah dipaketkan di semseter 7, maka di semester 8 hanya akan tersisa skripsi. Namun ada keringangan yang berlaku yaitu kita bisa men-drop salah satu diantara KKPP, MetPen, dan psikologi Islam V untuk dikontrak di semester 8 bersama skripsi.
            Giliran aku dan Anis yang masuk pun tiba. Dan Anis berpesan sebelum masuk ruangan wakil dekan itu.
“ngga usah banyak nanya lagi, bisi lebih galau”
            Akupun menuruti apa kata Anis. Pada saat mengisi lembar FRS kami sudah tidak banyak tanya lagi mengenai bagaimana baiknya. Kami langsung menandai mata kuliah yang akan dikontrak dan menandatangani lembar FRS itu. tidak seperti biasanya memang, biasanya kami selalu banyak tanya. Mungkin lebih tepatnya aku yang banyak tanya. Aku hati-hati.
            Aku sangat hati-hati dan tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Bagiku, buat apa mengambil banyak tapi kualitas nilai jadi menurun. Lebih baik mengontrak semampunya tetapi hasil maksimal.
            Aku dan Anis yang sudah selesai perwalian masih ikut duduk-duduk bersama teman-teman lain yang masih mengantri. Sekonyong-konyong Ichul pun datang menghampiri, sambil menunggu gilirannya masuk kami pun mengobrol.
“sa, IPK sekarang berapa ? 3.6 ? 3.7 ?
“hus, masya Allah, enggaaaa”
“berapa ?”
“3.45 . kenapa emang chul ?”
“si ‘orasi’ IPK nya 3.8”
“astagfirulloh.....” kata aku dan Anis menyebut segala zikrulloh dan segala ekspresi spritual. Ya, kami menjulukinya si ‘orasi’ karena konon kata Anis waktu itu pernah praktikum karena ada pembimbing yang tidak bisa hadir. Maka kelompoknya bergabung dengan kelompok si ‘orasi’. Dan pada saat itu si ‘orasi’ mempresentasikan dan memberi feedback kepada anggota kelompok lain sudah seperti orasi. Dan menurut isu yang berhembus, si ‘orasi’ memang yang nilai B pun ia perbaiki pada saat semester pendek untuk menjadi A. Jadi wajar saja kalau IPK nya menjulang tinggi sendiri. Di tengah terengah-engahnya IPK kami untuk melonjak.
            Hampir saja aku kufur nikmat dan goyah iman. Aku melihat wajah Ichul dan Anis pun lesu. Baru saja kami meyakinkan diri untuk dapat melalui ini semua. Lalu mendengar itu rasanya keyakinan kami hancur berkeping-keping, putus asa. Aku juga jadi ingat kalau targetku adalah 3.5 sebetulnya. Ya, karena aku pernah mencari tahu bahwa perusahaan asing yang aku incar memasang minimal IPK 3.3 . aku pikir walaupun IPK hanya merupakan proses seleksi awal. Tapi tidak ada salahnya jangan terlalu pas-pasan dengan standar minimal yang ditetapkannya. Namun dalam hati aku juga ragu apa bisa kembali lagi menjadi 3.5 . bisa tapi kalau mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian dan skripsi ku bisa mencapai A. Terdengar gila dan muluk memang sejenak dalam batinku.
            Bagaimanapun aku masih harus sangat bersyukur. Mengingat IPK ku masih paling tinggi diantara teman-teman sekelasku, aku tidak sengaja melihat di daftar hadir perwalian pada saat itu. apalagi, yang berhasil meraih IPK 3 koma itu kini hanya segelintir orang saja. Sepulang dari perwalian, aku sampai lupa kebiasaan dan ritual ku ketika liburan selama 2 bulan kebelakang. Mungkin karena hawa pressure sudah sangat terasa. Terutama adalah mengenai judul penelitian.
            Aku kuatkan diri lagi, niatku untuk menyempurnakan amanah di tingkat akhir ini sudah menjadi fondasi. Niatku untuk membawa mama hijrah juga sudah tidak bisa ditarik kembali. Aku ingat-ingat perjalananku smenjak hijrah, sudah begitu banyak perjuangan ,air mata, dan juga keringat. Tidak ada jalan lain selain harus melalui ini semua. Seberat apapun. Aku teringat nasihat papa melalui SMS..
Sukses ya nak..tujuan hidup, cita-cita dan apa yang hendak diraih sesungguhnya adalah Allah itu sendiri. Jangan lupakan Allah Azza wajalla, kapan dan dimana pun selalulah bersama-Nya dalam dzikrulloh..

Dari, aku, duniaku, dan penghayatanku
Bandung, 12 September 2012
Irsa Ikramina